jurnalnasional.com
LEMBANG, HOTEL PANORAMA
telepon di sisi pembaringan melengkung karena
menunggu, tak seperti ranjang dan kasur yang
lempeng karena sepreinya selalu diganti para pelayan
telepon itu ingin berbisik pada dirinya setelah
berhari, berminggu dan berbulan tak ada yang
menelpon dan membisikan kata-kata sayang merindu
senantiasa kesepian di udara dingin (malam) berkabut
PENGENALAN DIRI
kita dijaga oleh syaraf. tulang-tulang
dibungkus kulit yang berlapis daging
tempat ribuan urat mengalirkan darah
–jantung mengisap serta mengempa
seirama dengan paru-paru menapis udara
kita dililit syahwat. dibina instink akar kiara
tumbuh dengan tekad menjulang mengaling
semak-semak dan rumput dari berkah surya
jadi yang senantiasa menyala di tengah semesta
di antara planet dan astroid–reruntuk eksistensi
sesal gerabah pecah dengan jejak embus nafas-Nya
DONGENG SEBELUM SARAPAN
suatu pagi aku semakin mengerti: kenapa
lelaki tua itu sekuat tenaga memampatkan
udara ke dalam selongsong ban becak tuanya
di dingin pagi ketika hujan tidak mau nereda
dan langit cerah, saat surya gagap menandai
hijau daun dan orang-orang beku disaput lapar
itu seperti satu momen–nun dahulu kala:
ketika yang satu meniupkan nafas ikhlas
dan kebebasan pada rongga dada ciptaan-Nya
SOREANG, SILSILAH
kenapa pohon-pohon membentuk canopy daun,
tudung bagi batang tegak dan hunjaman akar?
melengkung bagai tenda café halaman dengan
menú es krim dan steak sapi, dengan lelampu
temaran dan sepasang mata yang bersipergok
–dan jari-jari berjalin bagai anyaman tas rotan
seperti payung ibu ketika pulang dari pasar,
seperti parasut pasukan komando yang mau
menyusup ke sarang teroris, seperti selendang
di antara sejoli sehati diijabnikahkan penghulu
tapi kenapa pohon-pohon itu merontokkan daun
sebelum batang kerontang dan akar mengering?
RENOKENONGO, MEMO
bila surat itu tak sampai–tak terbaca
karena tersangkut di meja birokrasi
: duka akan berteriak–sampai urat leher
putus. dan bila masih tak juga sampai
: duka menjadi angin–setiap saat
mengusap kening. mengingatkan
akan rumah yang lenyap ditelan lumpur
setiap saat akan mengetuk jendela mimpi
melulurkan dampak bencana pada kantuk
CARUBAN, BANJIR
dari pundak dan punggung: hujan tumpah
gemuruh–meluncur bersama bibir jurang
membendung. mencegat tumpahan semalam
di hulu, dan membuat arus itu menggelegak
: “kenapa kau hambat perjalanan bergegas ini?”
wilis yang termangu itu, wilis yang menjulang
di selatan ingin bercerita tentang pohon-pohon
ditebang–dengan melumpurkan hamparan tanah
“tak ada yang tersisa” katanya–menyimpan bah
di balik pelangi, menahan arus lalu melontarkan
semuanya dalam hitungan detik. gemuruh menghilir
CATATAN LIBURAN
kabut tipis menghalangi matahari
pagi. “ini saat yang tepat untuk
tidur melungker,” kata kucing di
keset beranda–dari jauh tercium
wangi kopi dan sisa ruap keringat petani
: pasangan kasmaran akan senantiasa malas
menyibak selimut. tapi lelaki rembang usia
itu memakai sepatu dan mulai menyusuri
setapak. mau menghabiskan dingin pagi dengan
langkah cepat dan debur jantung pekerja pabrik
setelah riol ia memilih belok ke kiri–ke
arah setapak berbatas sawah dan ladang,
lantas pohon beringin di ladang bambu,
turunan dan deru arus sungai selepas hujan
semalam. desah sia-sia meraih bibir tebing
“saat yang tepat untuk kembali,”
kata benalu. bungalow di tebing,
panorama kota di utara dan angin
sia-sia mengajak ke selatan. kini dingin pagi
mengabarkan usia lewat tunas tunggul randu
10/12.2008

Gaya kang Beni masih seperti dulu…
Lugas, padat, menohok, kadang sendu seperti ini :
telepon itu ingin berbisik pada dirinya setelah
berhari, berminggu dan berbulan tak ada yang
menelpon dan membisikan kata-kata sayang
Salam kang Beni & bravo Sastra – Indonesia.com