Menit-menit Terakhir

Ivy Goodman
Penerjemah: Dwi Fitria
jurnalnasional.com

Aku berusia lima belas pada tanggal lima belas. Ayahku meninggal pada tanggal satu, nenekku tanggal dua belas, pacarku tanggal delapan belas.

“Kau berikutnya,” ujar ibuku pada tanggal dua puluh dua. Ia menyerahkan padaku sepotong silet dan sepucuk revolver. “Aku sarankan kau pilih revolver,” ia berbisik, “tapi yang manapun yang kau pilih, sebelumnya sebaiknya kau merangkak dulu ke dalam kantung plastik.” Ia membuka pintu ruang bawah tanah dan melambai. “Selamat tinggal, Dena.”

Di ruang bawah tanah aku menggunakan telepon di ruang cuci dan menelepon seorang teman.

“Ia tak di sini,” ujar abangnya. Aku kembali memencet nomor yang sama.

“Bukannya aku sudah bilang kalau ia tak di sini?”

“Aku sedang putus asa,” ujarku, “aku akan membunuh diriku sendiri.”

“Tapi ia tak di sini.”

Kemudian aku memanggil ibuku di atas.

“Kamu takut ya?” tanyanya. “Sebaiknya santailah dan lakukan saja.”

“Aku terlalu kedinginan untuk melakukannya.”

“Tunggu sebentar.”

Ia membuka pintu dan melemparkan beberapa lembar selimut. “Sudah lebih baik?” tanyanya saat ia kembali mengangkat gagang telepon.

“Sekarang aku haus.”

“Lho, kan ada keran air tepat di sampingmu, ada kan?”

“Aku tak ingin minum air. Aku mau.”

“Kau mau, kau mau, kau selalu saja mau sesuatu. Kenapa sih tak kau bunuh saja dirimu dan biarkan aku tenang?”

Ia menutup teleponku.

Aku kemudian menelepon kakakku di kampusnya.

“Ia sedang di kamar mandi,” ujar teman sekamarnya.

“Ini penting.”

“Ia akan menelepon kembali.”

“Tidak, aku tunggu saja.”

Aku menunggu selama sepuluh menit.

“Maumu apa sih?” tanya kakakku. “Berapa kali aku harus bilang padamu kalau aku pasti menelepon ke rumah setiap hari kamis. Jangan telepon aku hari Rabu karena aku sudah pasti menelepon hari Kamis.”

“Aku harus bicara denganmu.”

“Apa Ibu tahu kau meneleponku? Buang-buang uang saja. Konyol sekali. Aku seharusnya sedang belajar sekarang.”

“Aku akan bunuh diri.”

“Aku tak percaya ini. Dena, andai saja tak ada terlalu banyak kematian bulan ini, bahkan bajingan yang kau pacari itu.”

“Ia bukan bajingan.”

“Ia bajingan. Bajingan, bajingan,” ujar kakakku, dan kemudian memutuskan hubungan.

Aku memencet nomor telepon sepupuku, Richard, yang pernah mengatakan bahwa aku selalu dapat mengandalkannya.

“Untuk kali ini aku tak bisa,” ujar Richard.

Aku menelepon saudara perempuannya Brenda.

“Dena siapa?” tanya Brenda.

Aku menghubungi ibuku lagi.

“Maksudmu kau masih hidup? Dena, aku kan sudah meninggalkanmu di ruang bawah tanah berjam-jam yang lalu.”

Aku kemudian menghubungi informasi. Informasi menyuruhku menekan angka 0.

Aku menekan angka 0.

0 bilang, “tekanlah H-O-T-L-I-N-E.”

Aku menekan H-O-T-L-I-N-E.

“Halo, Hotline.”

“Tolong,” kataku. “Aku akan membunuh diriku sendiri.”

“Ah tidak,” ujar Hotline. “Ah tidak. Ah tidak. Ah tidak.”

Aku menelpon ibuku lagi.

“Aku tahu itu kau,” katanya. “Siapa lagi yang cukup lancang membangunkanku?”

“Aku minta maaf.”

“Tolong beritahu aku satu hal saja, kau sudah masuk ke kantong plastik belum?”

“Tidak.”

“Dena, apa saja yang kau lakukan? Cepatlah. Kalau kau pikir kau akan menimbulkan kegaduhan, hidupkan saja mesin cuci.”

Aku menanggalkan pakaianku, dan menyumpalkan pakaianku dan selimut-selimut ke dalam mesin cuci. Aku menaburkan sabun di atasnya. Aku memencet tombol dan menutup tutup mesin itu.

Setelah aku menemukan sebuah kantung sampah plastik, aku membukanya dan merangkak ke dalamnya, membawa senjata yang diberikan ibu tadi dan pesawat telepon bersamaku. Aku mengangkat gagangnya. “Ayah?”

“Dengarkan ibumu,” jawabnya. “Aku tak peduli apa yang kau lakukan. Yang penting menjauhlah. Lagipula, aku mati untuk menghindarimu.”

“Apa nenek bersamamu?”

“Ya,” jawab nenek. “apa itu suara bising yang aku dengar” Apa mesin cuci dihidupkan? Kenapa kau tak bergegas, irislah pergelangan tanganmu atau apa? Perempuan seumurku tak tahan dengan omong kosong. “Omong-omong, bagaimana kabar kakakmu?”

“Baik,” ujar kakakku. “dan aku merindukanmu.”

“Lakukan dengan revolver,” ujar pacarku. “Masukkan moncongnya ke dalam mulutmu, dan arahkan ke atas.”

“Ibu!”

“Dena, berapa kali aku harus mengatakannya padamu,” ujar ibuku.

“Tapi di sini panas sekali.”

“Kau kedinginan, kau kepanasan. Apa sih yang salah denganmu?”

“Jangan bilang dia membuat dirinya sendiri demam,” ujar nenek.

“Dena, ini Ibu. Apa kepalamu sakit?”

“Ya.”

“Maka jauhkan dia dariku,” ujar ayahku.

“Akhirnya kami memang akan putus,” ujar pacarku.

“Kantungnya sudah kau tutup belum? Puntirlah ujungnya untuk menutupnya,” ujar ibuku. “Atau aku akan repot membereskannya. Bawa bagian ujungnya ke dalam, dan puntir untuk menutup kantung itu.”

“Tapi bu, sekarang aku semakin kepanasan.”

“Tarik napas yang dalam, Dena, saat seperti kau merasa pusing.”

“Aku tak bisa. Semua terasa sesak,” ujarku.

“Ia merasa sesak,” ujar mereka semua.

“Tolong, kantung plastik ini menyesakkanku.”

Tak ada jawaban.

(Terjemahan Dwi Fitria diambil dari The Signet Classic Book of Contemporary American Short Stories)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *