Menjerat Anjing

S Prasetyo Utomo
suaramerdeka.com

BERTARUNG dengan degup jantungnya sendiri, Sakri membawa seutas tali, sebagai penjerat leher anjing. Hari gelap, pelabuhan tanpa ombak, tanpa mendung, Kapal-kapal dan perahu rapat berlabuh. Bergoyang-goyang kecil, seperti kebimbangan yang mengayun-ayun hati Sakri. Pertarungan hatinya menjerat seekor anjing yang berkeliaran di pelabuhan, meski tak membangkitkan pergolakan, mengayun-ayun kesadarannya.

Seekor anjing hitam mengendus tulang di bak sampah. Sakri melempar jerat tali ke leher anjing itu. Teringat ia wajah bos yang angker, yang tak pernah mau menegurnya. Wajah bos angkuh, dingin, dan sinis menatapnya. Wajah yang tak mau peduli, dan selalu berkata ketus, “Mau apa kau menghadapku?”
Sebagai tukang kebun, yang hidup serbakekurangan, ia meminta dengan wajah menunduk, “Sudah bertahun-tahun saya mengabdi, tapi belum juga mendapat gaji yang layak.”

Tanpa menatap wajah Sakri, atasan itu tetap membisik bicara, “Kaupikir ini perusahaan nenek moyangmu, yang bisa memberikan kenaikan gaji setiap saat. Kalau kau masih ingin bekerja di sini, bekerjalah. Kalau memang ingin keluar, boleh keluar!”

Dada Sakri hangus. Ingin dia menyoobek mulut lelaki angkuh yang duduk di hadapannya. Dia bangkit, meninggalkan ruangan, dengan dada terbakar kebencian. Sumpah-serapahnya tumpah, dalam gumam yang tak jelas, yang terbawa terus ke mana pun dia pergi.

Saat ia menjerat leher anjing, yang dibayangkan menjerat leher atasannya itu. Suara anjing yang melengking-lengking dalam karung, membuat Sakri melampiaskan dendam yang menyesakkan dada. Ia suka akan lengkingan anjing itu, tubuh yang berkelejatan, dan dalam keadaan hidup-hidup, dibawanya pada penjual sate anjing. Menerima uang. Tanpa dilihat uang itu, dilipat, dan dimasukkannya dalam saku. Tiba di rumah, buru-buru diberikan lipatan uang itu pada Sarkem, istrinya, yang nyalang matanya menanti kepulangannya. Perempuan itu tak bertanya dari mana uang didapatkan. Ia membelanjakan untuk membeli makanan, kopi, rokok, beras dan kebutuhan sehari-hari.

Sambil mencecap kopi, menghisap rokok, Sakri memandangi Sarkem yang melahap makanan dengan rakus, dan tak henti-henti. Semenjak mengandung, perempuan itu tak pernah berhenti makan, dan senantiasa merasa lapar. Selalu makan, dan sepasang matanya kian tajam beringas, menyerupai pancaran mata anjing! Bila perempuan itu berjalan di lorong gang, anjing-anjing menggonggong di belakangnya.

Sarkem tidak terganggu. Ia menikmati gonggongan itu.
***

TALI jerat yang dilemparkan ke leher anjing, senantiasa luput. Anjing itu menghindar. Dengan sekali gerak, anjing itu dapat mengelak. Seperti meledek Sakri, anjing itu tetap di dekatnya. Berdatangan beberapa anjing lain, bergerombol, mencari tulang-tulang di bak sampah. Anjing-anjing itu mengonggong, saat Sakri mendekat. Dari jarak yang agak jauh, tali jerat itu tak dapat mencapai leher anjing.

Hampir larut malam, Sakri belum juga mendapatkan seekor anjing. Dicarinya pentungan dan ditemukannya kayu, keras dan liat. Didekatinya gerombolan anjing yang mencari tulang-tulang. Diayunkannya dengan kekuatan yang penuh. Menghantam salah satu kepala anjing. Seketika anjing-anjing yang lain berbalik arah. Menyergap Sakri. Menggigitnya dengan taring-taring tajam. Mengoyak daging. Mencabik-cabik ganas.

Teriakan-teriakan Sakri di antara gonggongan dan gigitan anjing telah menyebabkannya kalap. Ia meraung-raung. Sama seperti yang dialaminya sebulan silam, saat ia diculik. Disekap dalam gua gelap pengap. Dipukuli orang-orang bertopeng anjing hitam, berjubah hitam. Orang-orang itu melolong mendengar rintihannya.

“Lebih baik kaujual tanah itu. Apa lagi yang kaunanti?”
Tendangan lelaki kekar bertopeng anjing, keras menghunjam perut Sakri.
“Tanah warisan itu tak kan kujual!” tukas Sakri.

Tendangan yang lebih keras menghentak ke ulu hati Sakri. “Kau cari mati!” Lelaki muda itu menahan sesak pada dadanya. Sekujur tubuhnya mengejang. Tak lagi bisa mengerang.

“Akan kaujual tanahmu, atau tidak!?”
“Ya,ya.”

Tersengal-sengal, Sakri merasakan nyeri dalam dada. Mengangguk-angguk, dan berharap tidak lagi mendapat tendangan.
“Nah, begitu sejak tadi kan gampang!” seru seorang bertopeng anjing “yang paling kekar” dengan suara lega.

Ulu hati Sakri kembali ditendang. Menggelepar. Tak lagi sempat berteriak. Gelap seketika.
Gonggongan anjing bersama. Ia terkapar di tepi pantai. Taring anjing-anjing mencabiknya.

Taring anjing-anjing mencabik daging Sakri. Menerkam bersamaan. Ia angkat pentungan yang digenggamnya. Kemarahan telah membangkitkan kekuatan yang tak terduga. Seekor anjing telah berkelejatan. Remuk kepalanya. Tiap anjing yang terhantam pentungannya, bergelimpangan, menjauh terseok-seok, dengan ketakutan dan menahan rasa sakit. Kini Sakri yang memburu anjing-anjing itu. Ia tak mau lagi lari ketakutan, diburu anjing-anjing liar, dalam tubuh menggigil dan daging tercabik-cabik luka. Terasa pedih di ulu dada.

Seekor anjing tergeletak dengan kepala berlelehan darah. Ia merasa baru saja bertarung dengan lelaki-lelaki bertopeng anjing hitam yang menganiayanya dalam gua gelap yang tak pernah terlacak dalam benaknya. Lelaki muda itu tersenyum sinis. Memasukkan anjing dalam karung. Membawanya pada penjual sate anjing.
***

LANGIT mendung tanpa hujan. Angin berpusar kehilangan arah. Anjing menggonggong bersamaan dari segala arah. Laut berdebur. Bergemuruh. Sarkem menjerit-jerit kesakitan. Menanti kelahiran anak mereka. Dukun bayi menenangkannya. Memeluk erat tubuhnya.

Ketenangan dukun bayi itu menjaga kelahiran bayi Sarkem, meredam pusaran angin di luar rumah. Sarkem tak lagi meraung-raung. Ia memang masih menjerit-jerit kesakitan. Masih mengejang. Berpeluh. Tapi tak lagi meraung-raung. Dukun bayi itu “perempuan setengah baya, kurus” dengan tulang-tulang dan daging yang liat, tak pernah berhenti berkomat-kamit. Matanya terpejam. Angin tak juga reda berpusar. Anjing menggonggong di kejauhan. Melengking. Guruh terus menggelegar. Menggetarkan langit.

Tangis bayi itu didengar Sakri, yang berdiri merapuh di depan pintu, terperanjat, gugup, dan mengatupkan telapak tangannya ke muka. Tak tahan lagi ia. Tubuhnya gemetar. Menanti dukun bayi itu. Perempuan kurus setengah baya itu keluar dari pintu kamar yang melapuk tua. Menggendong bayi. Tampak bayi itu seperti seekor anak anajing. Mata terpejam. Tapi mulut dan hidungnya, tampak sebagai mulut dan hidung seekor anjing. Tidak menangis sebagaimana bayi manusia. Tangisnya serupa lolongan bayi anjing.

Dukun bayi itu mengulurkan bayi lelaki itu dalam rengkuhan tangan Sakri. Bimbang, termangu, Sakri menerima bayinya dalam timangan. Ia tidak bahagia dengan bayi lelaki serupa ini. Tapi ia tak mungkin meratap.

Sarkem masih terkapar. Lelap dalam pingsan.
***

LENYAP bayi lelaki Sakri. Tergeragap dari tidurnya, ia terjaga, mencari bayi lelakinya. Tapi bayi itu tak ada lagi di sisi Sarkem. Tertidur pulas dalam lelap, Sarkem tak sadar sama sekali, bayi lelakinya lenyap dari pelukan. Tengah malam itu Sakri keluar rumah. Tanpa menyisakan kegaduhan, Sakri menyusuri lorong gang. Mencari penculik bayi lelakinya. Bulan berkabut dan tampak bayang-bayang lelaki bertopeng anjing, menimang bayi, lenyap di tikungan gang. Ia merasakan kecemasan yang menggugupkan.

Diburunya lelaki bertopeng anjing itu. Lenyap. Gesit sekali. Ia berbelok ke arah tanah warisan yang telah dijualnya. Dia tak mau tahu, pabrik apa yang sedang didirikan di atas tanah lahan warisan ayahnya. Beberapa lelaki bertopeng anjing muncul bersamaan menyergapnya. Salah seorang memukul tengkuknya. Ia terkapar. Tak sadarkan diri.

Saat siuman, Sakri sudah menduga, ia berada di dalam gua. Berhadapan dengan lelaki-lelaki kekar bertopeng anjing hitam berjubah hitam. Dalam gelap gua yang lembab, dengan tetes air yang dingin di keningnya, lelaki muda itu tergeragap bangkit. Mengenali lelaki-lelaki yang dulu menyiksanya.
“Mana bayiku?”

Lelaki-lelaki kekar bertopeng anjing itu menghantam dan memukulinya. Sakri tak mau mengeluh. Tak mengaduh. Ia menahan nyeri itu dalam dada. Menahan nyeri dalam degup jantungnya.

“Apa lagi yang kalian inginkan dariku?”
“Rumahmu! Jual saja rumahmu!”
“Kami mesti tinggal di mana?”

Itu bukan urusan kami!? Tendangan yang keras menghantam ulu hati Sakri. Ia tergeletak. Mengejang. Tak lagi bisa berkata apa pun. Cuma mengangguk-angguk. Hingga sebuah tendangan membuatnya gelap sama sekali. Tergeletak pingsan. Tak melihat apa pun, kecuali pusaran kabut hitam.
***

TERGAGAP bangun Sakri. Ia berada di pelataran rumahnya. Bayi lelakinya berada di sisinya. Terbaring dalam tanah. Tak menangis. Tergagap bangun ia. Membawa bayi lelakinya memasuki rumah. Tapi bayi itu melolong ?seperti anak anjing? saat hendak dibawanya masuk rumah. Sarkem menghambur keluar rumah. Menggendong bayi lelakinya dengan kecemasan.

Menjelang fajar, mereka masih duduk di lincak depan rumah. Sarkem tak ingin bertanya lagi, di mana ditemukan bayi lelaki mereka. Ia bisa bercanda dengan bayinya, yang pancaran mata, bentuk hidung dan mulutnya serupa anak anjing. Ia tetap mendekap bayi itu dalam dada. Menyusuinya.

Dari balik pagar pabrik yang sedang dibangun, dekat di rumah mereka, Sakri mendengar suara bosnya sedang berbincang-bincang dengan seorang lelaki yang dikenalinya sebagai lelaki kekar bertopeng anjing hitam.

“Bagaimana? Sakri akan menjual rumahnya?” suara bos tajam pada fajar pagi itu.
“Tentu. Ia akan menjual rumahnya.”
“Jangan sampai tahu, kalau akulah yang merampas tanah dan rumahnya.”
“Dia tak akan pernah tahu hal itu.”
***

MENEMPATI rumah kontrak, Sakri, Sarkem dan bayinya, mesti berhimpit pada sepetak kamar. Sakri makin sering berkeliaran ke pantai. Menjerat anjing dengan tali. Menghantam kepala binatang itu dengan kayu. Ia ingin menjerat kepala bos dan menghantamnya dengan pentungan.

Saat istri dan anaknya tak didapatinya lagi di rumah kontrak, Sakri tak perlu mencari ke mana pun. Ia mengambil tali jerat anjing, karung dan pentungan kayu. Ia melangkah menuju gua. Di sana dia dua kali dianiaya lelaki-lelaki bertopeng anjing hitam. Ia tak ingin lagi dianiaya. Akan dijeratnya dengan tali lelaki-lelaki bertopeng anjing hitam itu. Dipukulnya dengan kayu. Dimasukkannya dalam karung.

Pandana Merdeka, Desember 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *