Pada Suatu Pagi, Usai Hujan Semalam

Dodiek Adyttya Dwiwanto
http://jurnalnasional.com/

Suara ayam berkokok terdengar meski tidak terlalu kencang. Ayam jantan milik Pak Tamam itu sepertinya sudah hapal dengan jadwalnya di pagi hari. Pejantan itu harus berkokok. Ia harus menjadi penanda telah bergantinya malam menjadi pagi. Ah, memang unik juga Pak Tamam. Ia memelihara ayam jago ketimbang ikan, kelinci, kucing, atau anjing. Continue reading “Pada Suatu Pagi, Usai Hujan Semalam”

Dingin

Yuki Anggia Putri
http://jurnalnasional.com/

7 Desember 2008, 7.30 a.m., Incheon International Airport.

Aku tersentak bangun ketika suara kapten pilot meraung lewat headset yang terpasang di telinga. Aku menggerutu dalam hati, lupa mencopot benda itu sebab terlena dibuai kantuk. Kapten memberitahu bahwa 30 menit lagi pesawat mendarat di Incheon dan suhu udara kini adalah minus empat derajat Celcius. Continue reading “Dingin”

Kamar Mandi

Yetti A.KA *
jurnalnasional.com

Saya rebahkan badan di lantai kamar mandi, telentang menghadap pagu. Rambut saya terserak di lantai, mirip tumpukan kain pel. Saya rentangkan kedua lengan, membentuk garis horizontal, lalu dua kaki saya merapat, jadilah saya sebuah pesawat terbang mainan. Benda belaka. Tentu enak menjadi benda, ia tidak punya emosi. Ia mati. Namun saya benda yang tidak mati. Saya terlihat memprihatinkan, bukan? Saya…ah, entah. Saya kurang yakin apa motif saya. Yang saya tahu saya sedang kesal padanya dan saya lepas kendali. Continue reading “Kamar Mandi”

Keturunan Cindaku

Zelfeni Wimra
http://jurnalnasional.com/

Periksalah keadaan keluarga kita dengan lebih sabar, Bang Yas. Memang tidak bagus bila terus-menerus tersinggung ketika kita dikatakan berasal dari keluarga Cindaku. Dan sungguh tak perlu lagi marah mendengar tudingan bahwa kita lahir dari kakek-nenek yang pengecut. Tidak berani memeluk kebenaran. Takut berperang melawan kejahatan. Continue reading “Keturunan Cindaku”

TSUNAMI DALAM PUISI PENYAIR ACEH

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Masa Lalu yang Agung

Aceh, pasca-tsunami adalah sebuah dunia baru. Paling tidak, ia mesti menjadi sebuah awal yang coba lahir kembali lewat serpihan dan serakan masa lalu yang mengagumkan dan sekaligus juga mengenaskan. Masa lalu Aceh yang mengagumkan tentu saja lantaran pada masa awal kedatangan Islam di Nusantara, Aceh menyimpan beragam peristiwa sejarah yang agung. Sebutlah beberapa nama di antaranya, seperti Hamzah Fansuri, Abdul Rauf Singkel dan Nurrudin Ar-Raniri. Continue reading “TSUNAMI DALAM PUISI PENYAIR ACEH”

Bahasa ยป