Peminum Minyak

Agustinus Wahyono
http://www.sinarharapan.co.id/

Suatu tanggal di Juli 2005, sebelum bedug magrib ditabuh.

Mobil-mobil berderet-deret sejauh ratusan meter di tepi jalan pinggiran kota. Truk, pick up, sedan. Memang tidak terlihat mobil-mobil mulus keluaran mutakhir. Urutan paling depan berada di pintu masuk pom BBM yang telah tutup menjelang adzan Azar. Kira-kira puluhan. Mereka terkapar seperti gelandangan yatim-piatu yang tengah kelelahan sekaligus kelaparan, atau musafir yang diperdaya kemarau dan kelangkaan air. Continue reading “Peminum Minyak”

Namaku Rupiah

Maria Magdalena Bhoernomo
sinarharapan.co.id

JANGAN bilang aku tak bisa bicara. Kalau selama ini aku diam, semata-mata karena titahku memang hanya sekadar sebagai alat tukar saja. Sama dengan serdadu-serdadu yang dititahkan sebagai mesin perang, mereka tak mau bicara karena bicara bisa membuatnya dianggap melanggar disiplin prajurit!

Orang menyebutku uang. Ya, itulah jati diri asliku. Aku diciptakan sebagai alat tukar dengan nilai yang telah ditentukan. Meskipun begitu, aku sesekali kehilangan nilai, atau sebaliknya sangat bernilai dibanding dengan nilaiku yang sebenarnya. Continue reading “Namaku Rupiah”

Parang

Isbedy Stiawan Z.S. *
sinarharapan.co.id

SUNGGUH! Jangankan melihat parang (tajam dan mengkilat lagi), melihat pisau silet saja aku amat takut. Pernah aku menyaksikan ayahku terluka oleh silet saat mencukur kumis dan jambangnya. Mungkin karena abai atau melamun, pipi ayah terkelupas oleh silet itu. Darah pun mengaliri pipi ayah. Aku segera menutup mata, tak berani melihat warna darah. Continue reading “Parang”

Bisikan Angin Laut

Agustinus Wahyono
http://www.sinarharapan.co.id/

Angin laut berdesis-desis seolah membisiki sesuatu di liang telingaku. Surya timur menghangatkan perahu-perahu kayu, kapal-kapal besi, bangunan-bangunan warisan kolonial, atap-atap kaki lima, kendaraan, dan kulit orang-orang. Beberapa calon penumpang tengah menanti kapal cepat menuju pulau seberang. Beberapa pedagang kaki lima sedang membuka warung di pinggir dermaga kota ini. Aku tengah duduk di salah satunya. Kulirik arlojiku. Pukul 06.27. Masih ada waktu untuk menikmati suasana di sini, pikirku. Continue reading “Bisikan Angin Laut”

Sandakan, Pada Satu Petang

Adji Subela
http://www.sinarharapan.co.id/

Hotel itu tidaklah terlalu besar benar, sedang-sedang saja, letaknya di sisi selatan Sandakan, kota di pinggiran Laut Sulu yang penuh perompak. Di dalam hotel itu ada puluhan perompak yang cantik-cantik.

Sosok gedungnya yang muram menipu pandang orang, karena di dalamnya lampu-lampu redup berkelipan di sana-sini, dan masing-masing kamar menyetel berbagai-bagai lagu, tumpang-tindih seperti pasar malam yang dikompres menjadi satu di dalam gedung bertingkat tiga itu. Continue reading “Sandakan, Pada Satu Petang”

Bahasa ยป