Sastra Religius di Tahun Seni Budaya

Aminullah HA Noor
http://www.suarakarya-online.com/

Pembahasan tentang puisi religius di media massa selama ini sering terkesan tidak tuntas. Sebab membahas sastra religius memang tidak gampang karena akan terbentur banyak hal. Sejak pemahaman tentang religiusitas itu sendiri sampai kaitannya dengan agama lain, yang mempunyai klaim religiusitas berbeda.

Jika masalah religiusitas hanya dibatasi menurut konsep agama Islam saja pun akan membentur kepada keanekaragaman karya sastra yang bisa saja ada yang justru merusak nilai-nilai Islam, padahal karya sastra itu penuh dengan ciri-ciri Islam. Hamzah Fansuri misalnya, yang banyak menulis karya agung di abad ke-16, oleh sementara kalangan karyanya justru dinilai tak sesuai dengan Islam karena ajaran-ajaran wahdatul wujud-nya yang panteistik, seperti terkandung dalam Syair Perahu-nya.

Karena itu, Nuruddin Ar Raniri, ulama dan sastrawan Aceh yang besar tak lama setelah Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As Sumatrani, mengadakan gerakan pembersihan terhadap ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As Sumatrani. Buku-buku karya Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As Sumatrani pun dimusnahkan.

Menurut buku Sejarah Kesusasteraan Melayu Klasik karya Liauw Yock Fang (Erlangga, Jakarta 1991), di Malaysia pernah terjadi perdebatan seru mengenai sastra Islam. Perdebatan itu dipicu oleh makalah Shahnon Ahmad. Sastra Islam, yang dimuat dalam Majalah Dewan Bahasa, Kuala Lumpur, edisi Juli 1977.

Dengan irama reda – hangat – reda – hangat, pelemik antara Shahnon Ahmad dengan Kassin Ahmad juga ditimpali oleh Shafie Abu Bakar, Ismail Ibrahim dan Sayed Alatas, dan berlangsung terus hingga tahun 1983.

Permasalahan yang diperdebatkan berkibar pada apa yang dimaksud dengan harus “mendukung nilai-nilai Islam”, ataukah “berdasarkan kisah-kisah yang terselah dalam Al Qur’an dan Hadits” ataukan “hasil tulisan yang berdasarkan tauchid”.

Menurut Liauw Yock Fang, dengan pengetatan ciri-ciri sastra Islam, bisa-bisa sebagian benar khasanah sastra Melayu lama dianggap “bukan sastra Islam” (dan bukan sastra relegius). Sebab, sebagian besar karya sastra Melayu lama “melenceng” dan nilai-nilai Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Al Qur’an dan Hadits.

Tetapi, menurut Rock Fang, hal itu bisa difahami karena Islam masuk ke berbagai negara melalui berbagai negara pula. Tentu, banyak bercampur dengan kultur tradisional setempat yang kebanyakan bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam.

Karena kultur setempat itu diadopsi begitu saja oleh sastrawan Islam di masa itu – tidak disaring sebagaimana Sunan Kalijaga mengawinkan Islam dan kultur tradisional Jawa – maka jadilah ajaran Islam yang tercampur dengan kultur tradisional yang kemudian juga tercermin dalam karya-karya sastra lama.

Percampuran seperti itu bahkan tak jarang menimpa karya-karya sastra masa kini, dimana nilai-nilai Islam yang dianut oleh para sastrawan masa kini bisa jadi tercampur berbagai ideologi, baik ideologi Timur maupun Barat yang tidak disaring secara ketat dan ditelan saja mentah-mentah. Beberapa puisi Abdul Hadi WM. misalnya, meski dianggap religius, memiliki karya-karya yang dekat dengan pandangan panteisme atau wahdatul wujud.

Lepas dari persoalan di atas, realitas menunjukkan bahwa sastra religius ataupun sastra Islam tetap hidup di tengah sastra Indonesia kontemporer, walaupun kini tidak menjadi arus besar. Menurut saya, sastra Islami/religius boleh terus ada tanpa harus menjadi arus besar. Cukup banyak penyair Indonesia kini yang terus menulis sajak-sajak religius dengan bagus dan tawadhuk tanpa perduli bahwa arus besar sastra Indonesia tengah dipimpin oleh gaya surealistik post-modernist seperti gaya Afrizal Malna.

Mengharap sastra religius menjadi arus besar hanya mengakibatkan dipinggirkannya sastrawan-sastrawan Islam yang menulis sastra Islam tanpa menghiraukan arus besar yang sedang berkembang.

Apakah HAMKA, Bahrum Rangkuti, Yoesoef Syou’eb, Endang Anshori Ananda, Danarto, Abdul Hadi WM, Emha Ainun Najib, hingga Ahmadun Yosi Herfanda menjadi sastrawan nomor dua hanya karena mereka menulis sastra Islam ketika sejarah dan pembicara sastra Indonesia berpihak kepada arus besar yang bukan sastra Islam?

Dasawarsa 1980-an barangkali menjadi perkecualian, karena Abdul Hadi MW mampu “mengkudeta” sejarah sastra Indonesia dengan memasakan arus besar sastra religius dan sufistik secara intensif melalui lembaran budaya di harian Berita Buana.Tetapi, juga harus dicatat dengan hati-hati, bahwa arus besar sastra sufistik yang dikibarkan oleh Abdul Hadi MW itu diikuti oleh para sastrawan yang benar-benar Islami. Karena, pada zaman itu terjadi anekdot-anekdot lucu, antara lain beberapa penyair yang setiap hari kerjanya berkelahi, memalak orang dan suka minum minuman keras, terpaksa menulis sajak-sajak sufistik agar namanya ikut tercatat dalam barisan sastrawan sufistik Indonesia tahun 1980-an.

Sejak awal 1990-an sejak sastra Indonesia dilanda arus besar Afrizalian. Tiba-tiba kini orang seperti rindu kembali pada sastra Islami. Menurut saya, mempersoalkan kembali sastra religius Islam akan lebih mempunyai arti jika mendudukkannya dalam genre terdiri dengan sejarahnya sendiri, ketimbang mempertanyakannya atau mempersoalkan kedudukannya di tengah arus besar Afrizalian yang anomik.

Bahkan, saya yakin, pencatat sastra religius Islam sebagai genre tersendiri dalam kesusastraan Indonesia akan memunculkan nama-nama yang selama ini tersembunyi di pesantren yang bertebaran di seluruh Indonesia.

Beberapa media di Indonesia bisa memulai upaya pencatatan itu dengan membuka rubrik khusus sastra religius Islam di antara halaman sastra budaya yang tersedia. Upaya itu, jika benar-benar dilakukan, jangan lantas dicurigai sebagai kecenderungan eksklusifisme genre sastra Islam. Tetapi, itu adalah langkah konkret dari penyiasatan pencatatan genre sastra Islami, yang dewasa ini disisihkan secara semena-mena oleh sejarah Indonesia yang diawali muatan politik oleh penjajah Belanda lewat mainstream Balai Pustaka-isme.

Mengulang kembali kesuksesan Abdul Hadi WM mengkudeta tahta sastra Indonesia untuk sastra sufistik bukan hal yang mudah. Mungkin setelah Afrizalian yang hyper-absurd mewarnai sastra Indonesia periode 1990-an perlu disiapkan agenda baru untuk sastra Indonesia tahun 2005? Mungkinkah penghidupan kembali sastra religius Islam bisa memberi warna pada tahun seni dan budaya (tahun ini) sebagaimana dicanangkan Presiden SBY baru-baru ini.

Untuk itu semua kita hanya bisa menunggu sejarah. Tetapi, sejarah juga menunggu langkah-langkah kita semua. Sejak dulu sejarah adalah ajang perebutan kesempatan! Siapa dapat, ia menulis sejarah dengan versi sekehendak hatinya! Sejarah bisa ditulis dalam versi yang lain, jika ada pergantian penentang pula! ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *