Film Terbaik 2009

Sirikit Syah*
http://www.jawapos.com/

PRODUK hiburan -terutama yang diciptakan dengan cita rasa seni tinggi- besar sekali artinya bagi kita. Film yang baik tak hanya menyegarkan pikiran kita (refreshing), tetapi juga mengilhami (inspiring) bagi kita untuk berkarya. Sepanjang 2009 saya beruntung telah menyaksikan film-film terbaik, baik yang sudah diputar di bioskop maupun belum. Memang kebanyakan film yang saya tonton adalah film asing. Saya tak suka film horor/hantu dan seks, sementara sebagian besar film Indonesia berkisar di tema-tema itu.

Saya mengagumi akting Brad Pitt dalam The Curious Case of Benjamin Button dan ikut kecewa dia tidak memenangi aktor terbaik tahun ini. Kerap mengikuti perjalanan akting Brad Pitt, saya mengangap Pitt tergolong aktor serius di balik ketampanannya. Bisa dibandingkan dengan Nicholas Cage, namun agak berbeda dengan Tom Cruise yang cenderung melakoni peran-peran sejenis (pahlawan dalam aksi laga). Saya masih ingat betapa bagus akting Brad Pitt di film Legend of the Fall. Di Benjamin Button, cukup terasa usaha kerasnya untuk membawakan peran yang amat sulit: lelaki dengan karakter yang membentang usia panjang dan terbalik (lahir tua, meninggal bayi).

Film ini juga memamerkan kepiawaian tata rias yang luar biasa. Metamorfosis Brad Pitt dari bayi tua keriput menjadi lelaki dewasa yang luar biasa tampan, sangat mengagumkan. Namun, yang tak kalah bagus adalah rias dan akting Cate Blanchet, dari gadis muda yang cantik dan lincah (dia bahkan menari balet dengan tubuh amat ramping -Blanchet adalah ibu beberapa anak), menjadi nenek-nenek. Satu-satunya kelemahan film ini adalah ceritanya yang tidak masuk akal, bahkan melanggar nalar.

Slumsdog Millionaire, menurut sahabat saya Budiono Darsono (Pemred detik.com), ”Tak beda dengan sinetron atau film India umumnya.” Memang benar, ceritanya realistis, dipaparkan secara konvensional. Film yang belum diputar di bioskop Indonesia ini memiliki kekuatan pada ide cerita (tentang penipuan dalam program televisi populer serta berbagai kebetulan yang masuk akal). Akting pemainnya sulit dinilai karena setiap karakter diperankan oleh tiga orang berbeda (dari kecil, remaja, dewasa). Film ini juga layak mendapatkan award untuk penyutradaraan terbaik. Yang menarik, tari-tarian yang menjadi ciri khas film India (film ini bersetting Mumbai dan dimainkan orang-orang India), hanya disajikan di akhir film, saat credit title muncul.

Saya lebih suka The Reader daripada Revolutionary Road, dua-duanya dimainkan Kate Winslet dan dua-duanya mendapatkan Oscar (artis terbaik dan artis pembantu terbaik). The Reader memiliki kisah yang mendunia, tentang sejarah kelam bangsa Yahudi dan Jerman, sehingga mudah dipahami. Revolutionary Road sangat Amerika. Bercerita tentang pasangan suami istri di masa depresi Amerika pada 50-an, film ini sulit dinikmati penonton non-Amerika. Juga, film ini berbau psikologis dan agak absurd.

Kisah The Reader amat menyentuh hati dan berakhir tragis. Kate Winslet memang boleh dikata sebagai ”the next Meryl Streep”. Apa pun yang diperaninya, berhasil. Dia seperti hilang dalam perannya itu. Kita di Indonesia mengenalnya kali pertama dalam film Titanic, berpasangan dengan Leonardo DiCaprio. Di film Revolutionary Road, saya justru melihat akting Leo lebih menonjol, sebagai laki-laki biasa Amerika yang mengalami tekanan-tekanan dalam hidupnya. Leo terlalu sering gagal merebut Oscar. Padahal, sejak perannya yang cemerlang sebagai miliuner Howard Hughes hingga Blood Diamond, Leo menunjukkan kualitas keaktoran di atas rata-rata rekan seangkatannya.

Film yang dipuja-puja kritikus dan dianggap sebagai ”come back”-nya Mickey Rourke, The Wrestler, kurang menarik bagi saya. Mungkin karena ceritanya sangat Amerika (tentang pegulat Amerika), jauh dari pengalaman batin Indonesia, tak ada sentuhan kedekatan -proximity. Dia juga terlihat jelek sekali (saya bandingkan dengan ketika dia berjaya dalam film 91/2 Weeks, di mana dia tampak sangat tampan). Ya, mungkin aktingnya bagus -dia memenangi piala Golden Globe-, tetapi ceritanya saya kira akan gagal di penonton Indonesia. Saya lebih suka Wolverine yang membuat saya bertahan menonton film aksi (biasanya saya tak suka film aksi). Film ini kuat dalam karakterisasi dan special effect (tata rias), serta memiliki sentuhan drama yang membuatnya berbeda dari film sejenis.

Tentu saja saya sudah menonton 2012, dan saya heran mengapa film semenarik ini diperdebatkan dan pernah akan dilarang beredar di Indonesia. Selain special effect-nya bagus, ceritanya juga lumayan, mengingatkan kita bahwa bencana bisa saja terjadi di planet bumi. Kesadaran akan itu saja cukup membuat manusia mengubah perilaku menjadi lebih peduli (pada alam dan sesama manusia).

New Moon, menurut saya, tak sebagus Twilight, karena terasa mulai dipaksakan. Menurut saya, Twilight adalah film remaja yang paling romantis dalam dekade ini. Film ini mengilhami remaja di Barat untuk tidak melakukan ”necking” dan ”petting”. Lumayan untuk sebuah tren.

Saya menyesal mengapa film Australia (Nicole Kidman dan Hugh Jackman) tidak sukses di bioskop -termasuk di Indonesia- dan gagal di ajang festival (Oscar maupun Golden Globe). Padahal, film berlatar sejarah ini bagus sekali ceritanya dan sinematografinya mengagumkan. Menonton Australia dan 2012 sebaiknya jangan di rumah. Anda harus melangkah keluar, ke bioskop, dan menikmati gambar di layar besar dengan sistem suara yang megah, barulah Anda menikmati film-film ini.

Tapi, film asing terbaik 2009 menurut saya adalah This Is It. Film ini menunjukkan sosok king of pop Michael Jackson sebagai manusia dan seniman. Bukan MJ sebagai penghibur di atas pangung, tetapi bagaimana dia di belakang panggung. Kita belajar tentang disiplin, integritas, dedikasi berkesenian, dan pada kemanusiaan dari MJ di film ini. Ini tentang pribadi yang agung dan karya seni yang hebat. Great personality dan grand creation. Musiknya kita semua sudah tahu, tak perlu saya komentari.

Saya angkat topi pada prakarsa sutradara dan editor yang berhasil mengedit sekian jam footage dokumen latihan pertunjukan spektakuler This Is It (yang akhirnya gagal), menjadi sekitar 100 menit film narasi yang enak diikuti alurnya. Ada kisah recruitment para penari latar yang mengharukan. Ada saat MJ tidak puas pada musisi, tetapi mengekspresikannya dengan cara yang sopan. Dan, tentu saja, gambaran latihan-latihan yang menunjukkan kerja keras seniman: dari para figuran, penari latar, teknisi, musisi, sampai sang megabintang sendiri. Saya menjagokan film ini untuk Oscar 2010 (di kelas musik/komedi, drama, atau film dokumenter, terserahlah, pokoknya rasanya MJ akan dapat sesuatu dari ajang Piala Oscar dan Golden Globe awal tahun depan).

Nah, bagaimana pengalaman saya dengan film Indonesia? Seperti sudah saya akui, tak banyak yang saya tonton. Saya beruntung sempat menonton Sang Pemimpi di hari-hari terakhir dan menurut saya film ini patut ditonton. Ceritanya bagus, humor-humornya segar. Satu-satunya kelemahan hanyalah pace-nya yang lamban. Meskipun kelompok Mira Lesmana dan Riri Reza menjauhi FFI, film mereka (Laskar Pelangi) toh terpilih sebagai film terbaik di Festival Film Asia baru-baru ini. Di ajang FFI sendiri mulai ada pergeseran. Film Mereka Bilang, Saya Monyet! dan sutradaranya, Djenar Maesa Ayu, merajai festival dengan meraih empat penghargaan. Entahlah, selera siapa yang berubah: penonton atau juri festival. (*)

*) Penulis dan praktisi media. Tinggal di Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *