Dia yang Meninggal Terlalu Muda

Muhammad Ridlo ?Eisy*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

SEDIKIT orang yang tahu siapa Irzadi Mirwan. Ia yang meninggal tahun 1981 itu adalah penyair yang tergabung dalam Grup Apresiasi Sastra ITB dan pernah menjabat Sekretaris Jenderal Dewan Mahasiswa ITB 1976-1977. Ia juga salah seorang penulis Buku Putih yang berisikan platform perjuangan mahasiswa yang menuntut agar Jenderal Soeharto tidak dipilih lagi sebagai Presiden RI lagi dalam SU MPR 1978. Gara-gara tulisan itu ia dipenjara oleh rezim Orde Baru. Sajak-sajak Irzadi Mirwan akan didiskusikan di Aula Barat ITB, Sabtu, 19 Januari 2008, dan Gedung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa, 22 Januari 2008, pukul 18.00 WIB-21.00 WIB.

Ketika mendengar kabar Irzadi Mirwan mengikuti kegiatan penerimaan anggota baru Wanadri tahun 1981, saya sedikit keheranan dengan berbagai pertanyaan yang tidak sempat saya sampaikan kepadanya. Dan ketika saya mendengar Irzadi Mirwan meninggal dalam acara itu, seluruh pertanyaan itu tidak pernah terjawab.

Irzadi Mirwan meninggal terlalu muda, saat ia berusia 26 tahun. Ia adalah seorang aktivis mahasiswa ITB pada masa yang paling bergolak antara tahun 1974 dan 1979. Ia menjabat Sekretaris Umum Dewan Mahasiswa ITB 1976?1977, dan kemudian menulis Buku Putih yang menjadi platform perjuangan mahasiswa saat itu.

Buku Putih itu mengkritik arah pembangunan yang tidak memihak rakyat dan membahayakan (perekonomian) Indonesia. Untuk itu, pada awal 1978, mahasiswa meminta MPR agar tidak memilih lagi Jenderal (Purn.) Soeharto. Buku Putih itu pula yang membuat Irzadi Mirwan ditahan rezim Orde Baru lebih dari satu tahun.

Selain sebagai aktivis mahasiswa, saya tahu Irzadi senang menulis sajak, tetapi kami tidak pernah berdiskusi tentang masalah sastra. Setiap kali bertemu dengannya, yang kami bicarakan adalah kegiatan kemahasiswaan. Dia sebagai Sekretaris Umum DM dan saya sebagai Ketua Komisi Organisasi Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) ITB.

Saya juga jarang melihat Irzadi memublikasikan sajak-sajaknya dan ketika saya diminta untuk mengulas dan memberi pengantar terhadap kumpulan sajaknya, saya terkagum karena produktivitas karyanya, khususnya karya-karya Irzadi ketika dalam tahanan.

Membaca sajak-sajak Irzadi seakan mendengar suaranya yang sedang menuturkan impian-impiannya dan melihat lukisannya tentang keadaan masyarakat Indonesia. Dengan sajaknya, Irzadi melukis keadaan Jakarta, “jakarta yang asing dengan dunia sendiri/mengamuk dengan cepat/tak mengijinkan/getar-getar rasa manusia berkembang biak” (Jakarta, Juli 1979).

Sewaktu dia naik kereta api di Madiun tahun 1973, dia melihat anak kecil di stasiun kecil. Irzadi menulis:

aku mencoba menyapamu sia sia
kau melintas cepat
dan akupun beranjak pergi
walau bayangmu masih tertinggal
diantara tabir air mata
yang kuseka diam diam

Andaikata Irzadi masih hidup saat ini dan melihat begitu banyak anak jalanan, baik yang asli maupun yang dikoordinasi untuk menjadi pengemis, mungkin air matanya bercucuran tiada henti. Sebagaimana para aktivis mahasiswa yang lain, ia memberi kesaksian tentang ketidakadilan di Indonesia dalam sajaknya “kata berjawab”, ?untuk kalian yang teraniaya/barangkali mereka cuma punya kata kata/dan tidak mampu berbuat apa apa (Bandung, 2 Desember 1975).

Melihat semua ketidakadilan di Indonesia itu, Irzadi menyatakan ikrarnya dalam sajak yang berjudul “Asmara Jalan Jawa”,
….
disini cita cita
mengkristal jadi keyakinan
tangan, kaki dan punggung kita
telah mengeras
untuk tak canggung lagi
dijalan panjang nanti

berhenti dititik ini
berarti dihancurkan
(Bandung, 21 April 1978)

Namun Irzadi merasa kecewa dengan jalan perjuangan yang sedang berlangsung karena kompromi sering dikedepankan walaupun terkadang menusuk hati nurani. Sajak “Pengkhianatan” yang ditujukan kepada Pak Doddy Tisnaamidjaja mengungkapkan hal itu.

Dengan pedih Irzadi menulis:

kita telah tak jujur lagi
untuk mengatakan “ya”
dan juga “tidak”,
semuanya tak berharga lagi

dalam hidup penuh kompromi
(yang telah kita pilih
entah kapan)

diam diam kita tikam
nurani masing masing,
untuk kehidupan hanya tersisa
(Bandung, 6 Juni 1978)

Walaupun Irzadi kecewa, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengotori perjuangannya dengan dendam. Melalui sajaknya Irzadi berdoa, ?Tuhan maha pengasih/turunkanlah rahmatMu/pada kami dibalik pagar ini/agar tak tersisa dendam dan sakit hati,/dan karat karat benci… dari balik pagar/dengan kawat kawat tak ramah/kami meminta kepadaMu/karena kami tak dapat berhenti lagi/dalam jalan yang telah kami pilih? (“Doa dari Balik Pagar”, Bandung, 22 April 1978)

Sajak-sajak dalam tahanan

Membaca sajak-sajak Irzadi, saya merasakan pengaruh WS Rendra dan Saini KM. Harus diakui banyak aktivis mahasiswa pada saat itu yang menyenangi sajak-sajak dan lakon-lakon teater WS Rendra karena mampu mengungkapkan aspirasi mahasiswa. Bahkan, Rendra pun ditahan rezim Orde Baru pada tahun 1978.

Sementara itu, Saini KM adalah penyair yang sabar dan caranya bersajak banyak memengaruhi penyair Bandung (Jawa Barat) karena kecermatannya dalam memilih kata-kata. Irzadi juga sangat cermat memilih kata-kata dalam bersajak. Selain banyak, sajak-sajak Irzadi yang ditulisnya dalam tahanan, menyentuh perasaan.

Pada subuh pertama saat Irzadi ditahan rezim Orde Baru, ia justru memperoleh ketenteraman hati. Ia menulis, “kemarin jadi bukan apa apa lagi/ketika tentram Mu menyapu tubuh/bersama air wudhu/mengalir diantara jemari…subuh ini yang pertama/dalam dunia tanpa kebebasan…” (“Disubuh, Kehadiran Mu”, Bandung, 3 April 1978).

Walaupun banyak nada getir yang mewarnai sajak-sajak yang ditulis dalam tahanan, akibat kebebasan yang dirampas rezim Orde Baru, Irzadi tetap memelihara kemerdekaannya yang tercermin dalam sajaknya yang berjudul “Masih Ada Tempat” (Bandung, 20 Mei 1978)

masih ada celah
diantara jendela kamar tahanan
untuk mengintipnya

masih ada tempat
untuk perasaan perasaan kita
yang sering tak sempat bicara
Maut dan cinta

Yang paling menarik dan mencekam adalah sajak-sajak kematian yang ditulis Irzadi, seakan-akan ia punya firasat bahwa maut akan menjemputnya tidak terlalu lama lagi. Pada tahun 1977 Irzadi menulis sajak “Penjemput”. Dalam sajak itu ia menggambarkan suasana yang sepi, dingin membeku, ia mendengar detak sepatu penjemput, di sisi rumah, yang akan mengantarkannya untuk menghadap Tuhan.

Banyak sekali sajak-sajak Irzadi yang mengungkapkan kedekatannya dengan maut antara lain “Jika Besok Aku Mati” dan “Surat Cinta dari Akhirat”. Yang menarik, pada saat Irzadi mengungkapkan masalah kematian, meluncur juga masalah cinta yang dihadapinya. Dalam sajak “Jika Besok Aku Mati”, Irzadi menyampaikan pesan kepada kekasihnya:

Kekasihku perempuan cantik dan muda
namun jika besok aku mati
kutinggalkan padanya sebuah kalimat tanya
sungguh benarkah kau cinta padaku
sungguh benarkah.

Irzadi tidak yakin, apakah perempuan cantik yang dikasihinya benar-benar cinta kepadanya. Mungkin keraguan inilah yang membuat Irzadi akan mengirimkan “Surat Cinta dari Akhirat”

Sesaat sebelum darah sekali lagi membeku
aku akan mengetuk kelopak matamu berkali kali
untuk secangkir kopi dan minta diri

Kekasihku, namun angin terasa lagi
mendorong lurus ke depan? kesisi Tuhan
maka kukirimkan saja surat ini
semoga sampai padamu

Semoga sampai padamu
surat cinta terakhir dari akhirat
dengan kata penutup? selamat tinggal
selamat tinggal, sejenak dan selamanya

Saya tidak kenal siapa kekasih Irzadi karena ia tidak pernah memperkenalkannya. Saya juga jarang melihat Irzadi berjalan berdua dengan mahasiswi (atau luput dari perhatian saya). Padahal, perasaan cintanya sudah ditulisnya sejak di Bogor pada tahun 1976.

Sajak Percintaan

hati hati kurangkai
butiran butiran
dalam rasa
dengan benang halus
kususupkan kedalamnya
satu
demi
satu

*) Wartawan “Pikiran Rakyat” dan “Galamedia”, nggota delegasi Indonesia dalam Konferensi Sastrawan Asia Tenggara di Bali (1985) dan Singapura (1987).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *