Mengurai Mitologi Informasi

Judul: Kartun (Non) Komunikasi
Penulis: Larry Gonick
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan: Pertama, 2007 Tebal: 190 halaman.
Peresensi: Heru Emka
http://suaramerdeka.com/

PADA mulanya adalah mitos Menara Babel. Persia, negara adidaya pertama di awal sejarah peradaban manusia, berusaha membangun megaproyek super dengan merancang kuil mahatinggi, sehingga “percakapan dengan surga seolah-olah bisa dilakukan dengan telepon lokal”. Tuhan yang jengkel dengan kesombongan manusia Babilon ini, menunjukkan kuasa-Nya dengan membuat mereka tiba-tiba saja saling bercakap dengan bahasa asing yang tak saling dimengerti. Komunikasi yang macet segera membuat proyek Menara Babel berhenti di tengah jalan.

Komunikasi silang-sengkarut (communications of error) ini lantas menjadi paradigma tersendiri, yang menjadi ikon klasik tentang bagaimana bahasa juga mengalami kegagalan untuk menyemai tanda yang diharapkan mampu membangun rantai penghubung antara struktur makna yang satu terhadap lainnya.

Sebagai komikus, Larry Gonick dengan cerdik menafsirkan perihal guna dan salah guna informasi dalam dunia modern ini dengan bahasa gambar yang komunikatif, dan paparan teks yang efektif, irit, mampu memperjelas problematika yang ditampilkan dengan gaya bahasa yang renyah.

Paradigma klasik dari silang-sengkarut informasi ini pun seolah menjadi tema yang kontemporer (tergambar bagus pada ilustrasi sampul buku ini): Proyek yang baru separuh berjalan, dikepung dengan istilah-istilah yang terdengar “canggih” pada masa kini “virtual reality”, “spin control”, “unix”, “paradigm, “user friendly”, “downsizing” Atau menurut penjelasan Larry, “Hikmahnya (yang terbaru ) teknologi canggih menyebabkan kebingungan (halaman 3)

Sederetan pengungkapan yang jenaka –namun teramat logis dengan bahasa gambar dari goresan pena Larry Gonick– sungguh menyederhanakan topik bahasan yang cukup aktual dan tergolong rumit. Karena itu sebenarnya kita belum terbebas dari simalakama Menara Babel. Bahkan sebenarnya kita hidup dalam era yang oleh Larry disebut sebagai Neo-Babelonia. (“Selamat datang di Neo-Babelonia”)

Namun, biarpun menimbulkan kebingungan, seperti kata Gonick, teknologi terus berbiak dan berjalan maju. Dan bertambah banyaklah akibat sampingannya, kerumitan masing-masing ilmuwan dengan kecenderungan untuk menciptakan otoritas bahasanya sendiri. Tak heran bila kita lantas seperti menemukan keriuhan bahasa yang nampak saling jalin dan berpilin : Di antara berbagai bahasa “normal” yang kita kenal, Gonick menyodorkan identifikasi keberadaan seabreg bahasa lain seperti Psychobable (yang berupa berbagai istilah psikologis yang digunakan untuk memahami masalah manusia secara tidak tepat), bahasa tubuh, bahasa isyarat, pantomim, bahasa program, ASCII, transmisi elektronik, diagram, tata bahasa visual, jargon teknis, notasi matematis, slang, semiotik, dekonstruksi, realitas maya, multimedia…(halaman 5) sungguh melelahkan.

Mitologi Informasi

Selama ini kita memelihara mitos, misalnya bagaimana ‘bahasa’, dianggap punya peran penting dalam proses penyusunan makna. Bukankah selama ini, agar bisa menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda dan simbol-simbol tertentu, maka konsep abstrak yang ada dalam kepala kita harus disalin dalam ‘bahasa’ yang disepakati ?

Ada semacam rangkaian pemahaman, di saat kita menyusun sederet rantai korespondensi antara ‘peta konseptual’ dengan bahasa yang merepresentasikan konsep-konsep tentang “sesuatu”. Maka hubungan ‘sesuatu’, ‘peta konseptual’, dan ‘bahasa / simbol’ adalah intisari dari penciptaan makna lewat bahasa.

Memakai media komik –sebagai upaya menghadirkan wacana salah kaprah informasi pada era seperti ini, ketika jutaan tanda berpusar dalam arus deras — ternyata efektif bagi Gonick. Bahlkan dia berhasil “membongkar” mitos tentang pencitraan, dengan enak. Gonick mengawali pembedahan mitos ?gambar yang bisa melukiskan ribuan kata dengan analogi seperti ini : “Sekarang ayo kita menghitung-hitung sedikit. Di tiap inci persegi, printer resolusi tinggi membuat kira-kira 6,25 juta titik. Tiap titik bisa memilih di antara 16.777.216 warna. Bila memakai istilah komputer, kita bilang ada 150 juta bit informasi dalam gambar kecil itu. Bayangkan bila gambar itu dijadikan animasi, dengan selusin gambar per detik, maka kalikan saja 150 juta bit enam kali.” Tak heran bila simpulan ini membuat Gonick menulis “Aku jadi tambah hormat pada film kartun Mickey Mouse” (halaman 156).

Dalam bahasa komputer standar, tiap huruf dalam abjad dilambangkan dengan delapan bit, jadi kata ?gambar; (enam huruf) ini perlu 6 kali 6, sejumlah 48 bit. Mitos perbandingan sebuah gambar dengan ribuan kata pun musnah, karena satu gambar beresolusi tinggi bernilai lebih dari 3 juta kata.

Era hypersignifikasi seperti ini tak lagi sekadar wacana. Ada sederet daftar tentang membanjirnya pelayanan sehari-hari yang sebelumnya diangankan dalam utopia mendatang: TV interaktif, mesin-berdaya-bantu (computer-aided instruction), berbagai media elektronik, moda telekonferensi, bursa on-line, pembelanjaan home computer dan sebagainya. Atau Gonick menggambarkan konsekuensinya secara sosial-psikologis, bila sehari-hari kita dikepung dengan kata-kata seperti ini: PC, gila kerja, biotech, neuro-linguisting programmer, private sector, perampingan usaha, chaos, ekonomi informasi, market niche, office automation, megatrend dan sebagainya (halaman 99)

Larry Gonick dengan cerdas telah membuktikan bila komik bisa menjadi media yang cukup komunikatif untuk menganalisis wacana terkini, seperti yang dia yakini bahwa media teknologi rendah sanggup memperjelas gambaran tentang teknologi tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *