MERAYAKAN KE-BODOH-AN PENYAIR-PENYAIR MUDA KONTEMPORER

Catatan untuk ‘PENYAIR (ITU) BODOH

Ahmad Kekal Hamdani

2 Paragraf Pertama Tentang Penyair dan Kebodohan

Beberapa bulan yang lalu (entah tepatnya kapan), saya mendapatkan sebuah buku antologi puisi “Penyair (itu) Bodoh” karya seorang kawan di Yogyakarta; Dea Anugrah mahasiswa Filsafat UGM, sahabat saya yang mirip Chow Yun-Fat itu. tapi tentu saja dia bukan penjudi, tapi penyair yang bodoh. Dan atas kebodohannya itu, saya nyaris jatuh cinta kepadanya. Continue reading “MERAYAKAN KE-BODOH-AN PENYAIR-PENYAIR MUDA KONTEMPORER”

Sajak-Sajak Saut Situmorang

http://sautsitumorang.wordpress.com/
sajak

bunga gugur, manusia mati, langit dan bumi memang tak punya perasaan.

tapi apalah perasaan! cuma gerimis di bumi, jatuh dari langit. kadang kau terperangkap di dalamnya, waktu menunggu bis kota terakhir sebelum senja tiba.

kesedihan kursi kursi kosong di bar ini seperti membawa masuk sepi jalanan malam kota di luar, membuat lagu penyanyi reggae itu seperti tangis duka imigran terdampar di negeri yang tak kenal bahasa ibunya. Continue reading “Sajak-Sajak Saut Situmorang”

Max Dauthendey (1867-1918)

Penyair Jerman yang Meninggal di Kota Malang

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=447

Tatkala insan dari tlatah jauh memasuki alam tropis Jawa Dwipa, meyakini keberadaannya, akan diserap suara-suara gaib.

Kehadiran suara merambahi sekujur badan jiwa, naluriah berkecambah meresapi aura keganjilan.

Nalarnya ditelan pusaran keagungan, yang dicari tapak kehakikian. Kesantausaan hayat ketulusan menebarkan budhi mengembangkan pekerti. Continue reading “Max Dauthendey (1867-1918)”

Bahasa ยป