Puisi-Puisi Pringadi AS

http://reinvandiritto.blogspot.com/
le mois

bulan menggelinding. jatuh di sixth avenue, taman peluru
diego. malam pedro. santo-santo yang kembali dari malam paskah
telur-telur berwarna merah muda. bulan di antaranya, sembunyi
dari peluit wasit yang botak kepalanya. o, collina kah ia? tidak. ia
tengah di italia, memahat patung dengan besi-besi terapung di
teluk meksiko. tetapi ia pulalah yang mengusir malaikat yang bertanya
adakah kau lihat bulan menggelinding kemari?

di kepalanya sendiri, ternyata, ada bulan yang lain lagi.

(2010)

RAK

hitunglah berapa macam buku yang
berjajar rapi dengan judul-judul fiksi?

kehidupan adalah juga semacam khayalan
mengiang-ngiang di telingamu yang riang

seperti jalan raya pagi hari, mobil-mobil saling
mengantri, membunyikan klakson, dan meneriakan asap
dari knalpot yang usang

ada lelaki kecil sedang ingin menyeberang
di punggungnya ada ransel yang berisi petasan

di pikirannya, ia siap meledakkan kehidupan.

BUKU

setiap halaman, sepertinya menceritakan kematian

ada rasa deg-degan setiap kali melangkah ke halaman selanjutnya
jangan-jangan ada kayu yang menancap di dada. jangan-
jangan ada mobil yang menabrak kepala. jangan-jangan
ada engkau yang menusuk aku dengan pisau dapur itu

dapur, memang seringkali menciptakan rasa takut
apatah engkau mencampur bubuk mesiu di setiap sarapan pagiku

tetapi buku, membuatku lebih hati-hati lebih dari
lampu kuning yang menyala di setiap tikungan yang berbahaya

RUANG

kehilangan, sepertinya menusuk lewat lubang
jendela dikabarkan angin dan televisi yang menyala

suara pengabar berita masuk ke dadaku
dengan debar yang purba seolah pohon-pohon mangga
di sebelah rumah meranggas tiba-tiba.

ada ketukan-ketukan kecil di sana
berharap ia adalah tamu yang kutunggu dengan
setoples kue kering dan minuman dingin rasa markisa

kehilangan, sepertinya sudah sofa hitam tua
di ruang terkunci ini; pula seekor kucing tengah
tertidur pulas di atasnya.

REMANG

kematian, semestinya adalah jalan melepaskan
ingatan yang terbaca dari koran-koran bekas di gudang belakang rumah

nama, kota, peristiwa adalah kue-kue basah yang
dibeli di pasar-pasar rakyat setiap hari selasa

ada jalan-jalan yang becek dan berlubang
seperti menyimpan rahasia yang sama ketika lampu kamar
dimatikan, menyisakan cahaya bulan

kematian, semestinya adalah lampu-lampu taman yang
remang dan panjang; sepasang muda-mudi tengah bercumbu
saling meninggalkan sidik jari.

(2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *