Posted by PuJa on April 30, 2010
http://sastrakarta.multiply.com/ Tinta Menetes Menyeru Nama kubelai hati semata wayang jangan sesali menanggung duka jalan bertemu berliku pematang padi berayun lengan melambai jalan pena bertebing badai
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on
http://sastrakarta.multiply.com/ SEKEPING PIKIRAN YANG PECAH Pikiranku pecah Oleh perencanaan Menjadi kepingan tercacah Berantakan Berhamburan ke antah berantah Pikiranku terbelah Mempertanyakan masa depan Ataukah dayaku masih pasang Sedang usia dikejar hitungan Kurasa tinggal susah
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on
http://sastrakarta.multiply.com/ Kata-kata Kaulah sungai tanpa air Menari di ujung bukit sampai padaku Mencuri senyap tempat berdiam Demikianlah kau Bayang tanpa tikam Janji tanpa kata-kata Ajari perihal air dan mata
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on
http://sastrakarta.multiply.com/ Hujan Jarum hujan jarum turun pada jiwaku dari gulungan mendung mukamu sebelum senja dan aku tak mesti pergi berlindung sebab begitu manis jarum jarum itu nancap di darahku
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on
http://sastrakarta.multiply.com/ Dalam Perjalanan aku antarkan kau melewati malam hujan melintasi pohon-pohon dingin menahan gigil terbatin malamlah yang mencipta lorong gelap, menyimpan kenangan-kenangan dari beribu rintik hujan, dan matamu merekam lagu sendu melawan pijar lampu jatuh, menyalami pejalan-pejalan yang berteduh.
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on
http://sastrakarta.multiply.com/ Jineman Uler Kambang : sg 1 gong ataukah perempuan yang berdiam di dalamnya memintaku berjanji kesekian kali untuk kembali basah dan gigil memanggil-manggil nama kecilmu : sebentuk talu. atau hanya sekilas rindu
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on
http://sastrakarta.multiply.com/ Pesan Kakek Untuk Cucunya Tubuh adalah seumpama kulit gabah Yang menutupi isi di dalamnya Jika kau ingin mengetahui kandungannya Kau harus mengupas kulitnya. Semisal kau cucuku, Kau harus telanjang untuk mengetahui isi tubuhmu Entah itu baik atau buruknya.
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on
http://sastrakarta.multiply.com/ SAJAK DI SECANGKIR KOPI buat EM DE Setetes kopi ujar di secangkir diammu telah kureguk habis di sela keriuhan hedonisme Setetes lagi nyangkut di sehelai benang serbet pilihanmu terlempar di sudut wastafel pengabdian terbasuh sudah kerak kesal di dasar inginmu Setetes lagi hilang entah kemana dan entah untuk siapa
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on
http://sastrakarta.multiply.com/ KESEPIAN Begitu tergeragap dari tidur kurasakan tubuhku membesar pelan-pelan makin lama makin besar dan tak dapat dihentikan. aku tumbuh menjadi raksasa yang besarnya tak terhingga dan ganas luar biasa. Sambil meraung aku melompat ke angkasa kukejar-kejar rembulan yang menjerit-jerit ketakutan ia kusepaki kian kemari kusiksa kubentur-benturkan dengan matahari hingga luka-luka merajam seluruh tubuhnya. Dan
Filed under: Puisi