Menemurupakan Gus Dur

Wahyudin *
jawapos.co.id

TAHUN 2009 ditutup dengan Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau Gus Dur wafat. Itu tentu saja merupakan sebuah tutup tahun yang mengagetkan, menusuk kalbu, dan menerbitkan dukacita.

Gus Dur mengembuskan napas terakhir dalam umur 69 tahun di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, 30 Desember 2009, sekitar pukul 18.45. Berjuta orang percaya bahwa jika ajal menjelang, tak ada sesiapa pun yang kuasa menunda atau memajukannya walau sesaat. Namun, tetap saja kematian cucu Kiai Haji Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdatul Ulama, itu terasa mengejutkan.

Boleh jadi karena kematian itu seketika membenturkan kita pada dinding kenyataan bahwa entah yang ke berapa kali kita telah tak mengacuhkan seorang manusia penting yang menjulang dalam kealpaan di balik karut-marut politik di tanah air. Seorang manusia, dengan sosok dan pokok yang istimewa, yang sengaja atau tak sengaja diabaikan dari, pinjam istilah novelis Garth Stein, waktu yang melipat diri bangsa ini.

Ialah Gus Dur; yang seolah-olah ”baru” mengusik kelalaian kita dengan kematiannya. Bahwa sosok dan pokok yang istimewa itu pernah membelai harga diri negeri ini, tapi kini telah terbaring dalam kesemestaan abadi. Kenyataan itu sangat mungkin membikin banjir keringat di benak seseorang yang bersikeras meringkas sosok dan pokok yang spesial itu dalam kata-rupa semenjana.

Namun demikian, kita telanjur mengenal putra Wahid Hasyim, menteri agama pada masa Presiden Soekarno, itu sebagai sosok yang kompleks dan nyeleneh; seorang pelintas batas yang konsisten; seorang ulama dan pemimpin organisasi umat Islam terbesar di Indonesia dan di dunia Islam; seorang demokrat dan pluralis kritis Orde Baru; seorang pemikir dan penulis yang tangkas, cerdas, dan jenaka; seorang pakar kelirumologi, anekdot, dan humor; seorang penikmat sepak bola, musik klasik, lagu-lagu Ebiet G. Ade dan Umm Khulsum dari Mesir, sastra, film, dan wayang kulit; seorang politikus yang terpukau dengan kekuasaan; seorang presiden yang eksit dari istana dengan santai; seorang bukan ”manusia satu dimensi”; seorang manusia yang sudah tentu susah-susah mudah diringkus-rampung dalam salah-dua pengertian selama hayat dikandung badannya.

Itulah ketelanjuran yang kadung diputar ulang dalam sebuah agenda kebudayaan bertajuk Masih Ada Gus Dur di kompleks Galeri Langgeng, Jalan Cempaka 8 B, Magelang, Jawa Tengah, lalu (16 April).

Di bawah tatapan gelap langit yang selepas jumatan telah menggertak dengan guyuran lebat hujan dan tamparan dingin angin yang mencokot kulit, saya telanjur menatap lekat pemutaran ulang ketelanjuran itu dalam bentuk pidato yang mengular dengan iringan kolaborasi musik Komunitas Lima Gunung Susanto Mendut dan jazz Idang Rasyidi serta seni rupa pertunjukan Arahmaiani dan entah siapa pula.

Seorang pencinta seni rupa yang berdiri di samping saya saat itu, yang sudah tak sabar menanti pembukaan perhelatan seni rupa bertajuk Pluralis di ruang pameran Galeri Langgeng, mengomentari pidato, musik, dan seni rupa pertunjukan itu sebagai ”sesajen estetika campur sari” untuk Gus Dur yang mungkin akan menikmatinya dengan terkekeh-kekeh.

Komentar itu tiba-tiba saja menggerakkan saya menyelinap masuk ruang pameran untuk menikmati dengan cemas pusparagam karya seni rupa dari 42 seni rupawan lintas generasi, dari generasi Joko Pekik, Srihadi S., Sunaryo; generasi FX Harsono, Tisna Sanjaya, Heri Dono, Anusapati, Mella Jaarsma; generasi Sigit Santosa, Nasirun, Yuswantoro Adi; hingga generasi Pande Ketut Taman, S. Teddy D., Dipo Andy, dan Andre Tanama.

Apa boleh buat, pameran yang diampu dengan penuh seluruh oleh kurator Afnan Malay tersebut sungguh-sungguh memperlihatkan tegangan tinggi dalam proses kreatif perupa-perupa itu untuk menyingkap yang tersembunyi dan masuk-menemu ”pokok” Gus Dur di balik, di seberang, atau bahkan di dalam ”sosok” Gus Dur yang -pinjam kata-kata Greg Barton, penulis biografi tepercaya Gus Dur-gemuk atau agak gendut. Perutnya yang sedikit buncit seperti perut Buddha hampir-hampir menonjol keluar membuat kemeja batik murahnya (atau setelan jasnya) tidak bisa terkancingkan di bagian itu. Dia mengenakan kacamata berwarna hitam yang agak tidak pas, dengan pinggir yang tebal. Mata kirinya hampir tertutup sempurna dan jelas pula bahwa penglihatan mata kanannya juga tidak terlalu baik. Jelas, Gus Dur bukanlah seseorang yang bersifat fotogenik. Giginya tidak rata dan agak kuning (terlihat jelas jika sedang tersenyum atau tertawa lebar). Rambutnya hitam berombak dan tidak tersisir rapi (kalau memakai peci selalu miring).

Itulah rupa-raga ”sosok” Gus Dur: sosok yang tak fotogenik namun melekat dalam benak dan tergurat-lekat pada sebagian besar karya-karya dwimatra maupun trimatra dalam pameran yang berlangsung hingga tiga minggu ke depan ini.

Saya ingin menyebut kecenderungan visualisasi itu sebagai upaya melekatkan ingatan atas ”sosok” Gus Dur dari apa yang telah dilihat sebelumnya, misalnya, melalui foto. Dari sini mereka masuk-menemu permenungan untuk menyingkap ”pokok” Gus Dur dalam bentuk dan warna dengan mereintegrasikan atau menyatukan kembali kepingan-kepingan pengetahuan, kesan, dan citra Gus Dur sebagai makna.

Atas makna itu, pada gilirannya, mereka mentransfigurasikan ”sosok” dan ”pokok” Gus Dur dalam metafora, analogi, dan simbol. Kita lihat, misalnya, lukisan Sigit Santosa bertajuk Orang Majusi yang merupakan sosok Gus Dur yang khas seperti deskripsi Barton di atas tapi dengan dada robek yang memperlihatkan segumpal hati merah menyala.

Sepintas lepas, penggambaran itu mengingatkan kita pada sepotong lukisan Yesus dalam khazanah seni rupa kristiani. Namun, yang ingin saya garis bawahi berbeda, bahwa menyatukan frasa Orang Majusi dengan gambar hati merah merekah adalah sebuah tindakan kreatif untuk ”melihat dalam imajinasi” Gus Dur sebagai bukan penyembah api, melainkan sebagai manusia istimewa yang keistimewaannya berpendar dari ”dalam” dirinya, bukan dari ”luar” rupa-raganya yang tak elok.

Pemaknaan yang kurang lebih sama seperti itu tersirat dalam lukisan raksasa Nasirun berjudul Sejuta Hati untuk Gus Dur yang merupakan Gus Dur bak malaikat bersayap putih terkembang yang Tertawa dari Sana menyaksikan tingkah pola manusia Indonesia, sebagaimana digurat dengan jenaka oleh Didik Nurhadi.

Transfigurasi semacam itu memperlihatkan pemaknaan mereka bahwa Gus Dur adalah manusia yang telah mencapai transendensi yang disebut Dolorosa Sinaga Wali Tertawa dalam patung fiberglass-nya yang mengabadikan Gus Dur mirip Buddha tertawa dalam pose Buddha tidur.

Dengan begitu, bisa dimengerti bahwa Gus Dur digambarkan oleh Kadafi G. Kusuma sebagai pencinta damai dengan 99 sifat kemuliaan seperti dibukukan Dipo Andy, antara lain, antisensor sebagaimana digambarkan Aan Arief. Dengan kata lain, Gus Dur adalah manusia mulia yang menghormati perbedaan suku, agama, dan ras; seorang pluralis yang Menanam Pelangi seperti dilukiskan S. Teddy D.

Karena itu, Popok Tri Wahyudi menyerupakannya Naga Hijau yang berkehendak membebaskan orang-orang yang ditindas, disenyapkan, dihilangkan dengan paksa oleh kekuasaan yang pongah sebagaimana diterakan Titarubi.

Ringkasan tersebut mengungkapkan bahwa para perupa tersebut ”melihat dalam imajinasi” mereka Gus Dur sebagai ”sosok” dan ”pokok” tanpa cela. Boleh sepakat, boleh tidak. Selebihnya, untuk menghirup makna lebih dalam, kita perlu menengok langsung pameran tanpa katalog yang memadai ini, kecuali delapan lembar kertas berisi catatan kuratorial sang kurator tanpa disertai foto-foto karya dan data perupa yang lengkap.

*) Kurator seni rupa, tinggal di Jogjakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *