Puisi-Puisi Dwi S. Wibowo

http://sastrasaya.blogspot.com/
Gerimis di parangkusumo

Awal tiada mendung, tiada gelap
Senja hingga lewat tengah malam
Lewat suasana sama
Hanya agin pantai menyentuh kulit
Mengiringiperjalanan jati diri
Tak sampai sedetik
Mataku berkedip
Aku hampir tenggelam
Dalam banjir dan hujan yang dulu pernah terjadi
Hilanglah jejak-jejak kaki di pasir pantai
Saat pagi menjelang
Matahari tlah nampak meski malu-malu di balik awan
Di atas pasir pantai yang secepat kilat menjadi kering
Tiada lagi jejak langkah saudaraku
Selamat jalan mas bayu, mas fadli, dan bang leo

Yogyakarta, 10 september 2007

Mendung di negeriku

Mendung yang sejak kemarin sore
Menyelimuti nasib saudaraku
Meniupkan topan pada tubuh kurusku
Masih terus saja mencekam
Cakrawala dan mega kelabu
Apa gerangan takdir tanahku
Yang menjadi kubangan oleh gerimis
Meski hujanpun tidak
Inikah yang sanggup tuhan berikan
Pada tanah air yang nantinya menjadi lumpur
Kapankah akan berakhir?
Dan dimana?
Dewa matahari yang mengobarkan semangat
Disaat teman dan sahabatku
Kedinginan dalam gelap badai negeriku
Dimana? Kawan

Yogyakarta, 24 september 2007

Ratri

Dimanakah Ratri?

Yogyakarta, 24 september 2007

Pudar

Pudar
Cintaku pudar
Tanpa hati
Tanpa nurani
Tanpa rasa
Cintaku pudar
Lukis
Lukis lagi
Ku gores lagi tinta
Namun tiada berbekas
Tanpa sedikitpun
Cintaku pudar

Yogyakarta, 7 november 2007

Rindu

Hidup ini hanyalah kerinduan
Buaian rindu
Aku rindu orang tuaku
Aku rindu kekasihku
Akupun rindu pada tuhanku
Betapa rindu sanggup melahirkan makna dalam hidupku
Melalui kata makan menjelma
Menjadi larik-larik
Yang berisi mimpi, harapan, dan tujuan hidup
Begitulah rindu

Yogyakarta, 4 november 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *