Puisi-Puisi Zainal Arifin Thoha

http://sastrakarta.multiply.com/
ZIARAH DOA

Dan doa adalah
Persembahyangan dalam ziarah
Menali hasrat penuh sedekap
Bersujud diri merambah akrab

Lalu salam sewangi kembang
Bagi kiri kanan tiada pandang
Dan zikir senantiasa sumilir
Mengalirkan cinta dari hulu hingga hilir

Dalam doa ada senyum shalawat
Kepada sesama erat berjabat
Itulah ziarah sepanjang shalat
Pinta dan rahmat diaminkan para malaikat

DARI SEBUAH JENDELA

Jendela yang mengetukketuk deras hujan
Adalah bayangmu yang tibatiba bersalam
Lalu kau buka mantel dan memeras
Gerai rambut yang bercucuran

Adakah yang lebih puitik
Ketimbang senyummu yang gemetar
Lalu binar mata dan bening suaramu
Menghaluskan ini jiwa dalam dingin yang nanar

Duduklah, nikmati kopi
Dan jangan dulu berkata-kata
Biarkan sejarah yang barusan berputar
Mengheningkan resah sembari
Memijit-mijit kalbu yang kepegalan

Oleh daundaun yang menempelkan tangan di kaca
Jendela itu kembali terbuka

Mempersilakan tangismu menerobos
Bersama luruh angin yang luka

HIDUP ATAU MAUT

Perjalanan ini begitu mencengangkan
Pendakian ini begitu mengerikan
Berenang ke laut tak berpantai
Menyelam ke dasar samudera tak bertanda
Bergayut di pohon tak berdaun
Kehidupan adalah pengejaran
Dari huruf-huruf kematian
Kematian adalah mata-rantai
Yang selalu membelenggu dan mengintai
Pengembangan hanya menatah
Langkah-langkah maut yang tercecer
Sedang kerongkongan kita
Selalau dahaga akan rasa dan laba
Apa makna serta hakikat rumput-rumput kering
Dan bebatuan lebur jadi kerikil
Sedang lautan dan gunung-gunung tak pernah akrab
Dan menyapa pada langit
Bintang planit serta gugusan bimasaksi
Hanya selalau kita uji tanpa taburan maknawi
Hidup atau mautkah ini

ODE KETEGUHAN

Seperti barisan semut
Engkau tak menemukan Sulaiman
Kapal Nuh telah lama pula karam
Hanya tanah dan sisa keyakinan
Meski itu pun kerap digerus gundah
Engkau menanam rasa pasrah
Sembari berharap esok tak panen air bah

Seperti kerumunan rayap
Orang-orang akan menganggapmu tak ubahnya kurap
Menggerogoti tiang dan dinding diam-diam
Menggelontorkan nanar dan waswas di lantai pualam
Disemprotnya dengan gas dan api
Namun engkau mempersilakan diri
Dan tak sejangkah pun berkehendak pergi

Yogya, 1998

PERBURUAN DI HATI

Banyak yang tak kita pahami
Dari putaran waktu, seperti
Gerak putingbeliung di hati
Lalu kita lari menghindar
Atau jika kalah, segera nasib
Begitu saja kan tersambar

Tetapi terhadap hidup
Tiada lelah-lelah kita berburu
Seperti awan mengejar musim
Hanya sesekali tertidur
Selebihnya kelana laksana angin

Begitulah, dari rahim waktu
Senantiasa berlahiran hujan
Membasahi hati
Mengubur kemenangan-kemenangan

Yogya, 1999

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *