Miss Konseli

Ida Ahdiah*
http://www.jawapos.com/

BARU saja, Andrea, siswi kelas 2 SMA, menghubungi seluler Miss Konseli, begitu siswa-siswa di sekolah memanggil Rima. Sore itu juga ia ingin bertemu dengannya untuk sebuah urusan yang sangat penting. Padahal itu hari Minggu!

Seingat Rima, hanya ada satu alasan mengapa seorang siswi menelepon selulernya di luar jam kerjanya sebagai konselor di sekolah dan ingin bertemu dengannya saat itu juga. Alasannya, siswa itu hamil! Berkelahi, nyontek, melawan guru, nilai pelajaran turun, berbeda pendapat dengan orang tua, atau putus cinta, itu persoalan yang bisa dibahas saat jam kerja atau digolongkan pada masalah yang bisa ditunda. Continue reading “Miss Konseli”

EKSORDIUM RATU ADIL: BAHASA MENGGERAKKAN JIWA

Nurel Javissyarqi
http://media-lamongan.blogspot.com/

?Tulisan sastra-filsafat tidak perlu dipertanggungjawabkan!?
Pendapat itu terlontar dari seorang pendidik di sebuah universitas daerahku, lulusan S3. Guru sewaktu aku dibangku sekolah menengah pertama. Insan cerdas yang mengagungkan profesi, sebab di atas rata-rata penduduk tempat tinggalnya. Tapi mahasiswanya tak banyak baca, aku kerap duduk-duduk bersantai di toko buku dekat kampusnya, hanya satu-dua datang melihat. Padahal buku di sana tersedia lumayan pun murah. Masyarakat belum suka baca, meski sudah bisa membaca, lantas buat apa sejak kecil sekolah sampai perguruan tinggi? Continue reading “EKSORDIUM RATU ADIL: BAHASA MENGGERAKKAN JIWA”

DICARI: KRITIK(US) SASTRA INDONESIA

Saut Situmorang

Bukankah sangat memalukan bahwa kritikus Belanda A Teeuw sampai pernah menulis sebuah esei berjudul “Tentang Paham dan Salah Paham dalam Membaca Puisi” di mana dia melaporkan tentang “rasa heran”nya atas hasil “analisis” dua sajak modern Indonesia oleh sekelompok dosen sastra kita yang tak satupun berhasil memuaskannya! Walaupun Teeuw mengatakan tidak bermaksud mengkritik “mutu” analisis para dosen sastra kita atas sajak “Salju” Subagio Sastrowardoyo dan “Cocktail Party” Toeti Heraty tersebut, dan Continue reading “DICARI: KRITIK(US) SASTRA INDONESIA”

Bahasa »