Ekspresi Estetis Pada Karya Seni Fotografi

I Komang Arba Wirawan
http://www.balipost.co.id/

Berawal dari fotografi jurnalistik yang digeluti selama lima tahun bekerja sebagai wartawan foto pada harian DenPost (1998-2003) — Kelompok Media Bali Post. Kecintaan pada dunia fotografi tumbuh seiring dengan waktu, berbekal dengan kamera analog Nikon FM 2, berbagai sudut kota lalu lintas Kota Denpasar, olahraga, human interest dan kriminalitas terekam menghiasi harian DenPost.

Hiruk-pikuk reformasi 1998, demo mahasiswa, sampai bom Bali I menjadi tugas jurnalistik yang sangat berkesan. Meliput dengan menahan kesedihan hati dan air mata di mana saat menyaksikan korban bom terbakar, di mana hasil karya ini terlalu sadis untuk dipublikasikan. Ini semua membawa pada sebuah titik di mana foto jurnalistik merupakan ajang tempaan menuju pada foto seni, yang membawa kematangan melihat momen, angle, dan ekspresi estetis.

Berbekal dengan kamera analog Nikon F4 yang berhasil dibeli dari bonus di kantornya memberikan fasilitas yang lebih lengkap dalam menghasilkan sebuah karya foto jurnalistik. Saat kesempatan muncul untuk menjadi tenaga pengajar di Program Studi Fotografi Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, mengarahkan pada bertemunya titik gaya seni fotografi yang digelutinya.

Kesempatan studi banding ke Program Studi Fotografi Fakutas Media Rekam ISI Yogyakarta dari pimpinannya tidak disia-siakan, dengan menghasilkan karya monumen 11 Maret, Light of Jogja, taman sari, yang mendapat apresiasi pada pameran di Musium Neka (2006). Kesuksesan ini membawa keyakinan semakin percaya diri, bahwa seni fotografi suatu saat dapat berdampingan dengan seni rupa yang lain.

Apalagi kondisi kampus yang dinamis dengan iklim dan pergaulan seni yang tinggi, mempercepat cita-cita menjadikan Bali sebagai pusat seni fotografi. Pemikiran ini dilatarbelakangi bahwa Bali dapat menjadi pusat seni rupa (seperti lukis dan patung, terakhir seni kartun), mengapa seni fotografi tidak?

Berdasar pada teori seni yang terkait dengan wacana fotografi adalah teori seni komunikasi, teori seni ekspresi, teori seni fungsional, dan teori seni instrumental. Teori-teori seni ini bisa saling terkait satu sama lain dalam konteks bagaimana sebuah karya foto dapat diimplementasikan sebagai fotografi seni dengan bentuk-bentuk penampilannya secara dwimatrawi.

Membuat foto seni yang merupakan bagian fotografi, yang memiliki konsep estetika yang memperhitungkan terlebih dahulu unsur-unsur penciptaan sebuah foto, dari pencahayaan sampai proses pencetakannya. Semua direncanakan dengan matang dan terencana, karena kini foto seni telah sama rumitnya dengan seni lain. Apalagi jika kita membincangkan posisi fotografi dalam konteks kesenirupaan (fine art). Bisakah dan mampukah fotografi disandingkan dalam keluarga seni rupa (high art).

Koeksistensinya ini tidaklah berpretensi saling menegasikan. Justru sebaliknya, dan siapa tahu, dunia high art makin diperkaya dengan hadirnya fotografi di komunitasnya. Sejalan dengan perkembangan teknologi sekarang ini fotografer yang mau menekuni foto seni akan lebih mudah dengan hadirnya teknik digital. Apalagi mau bekerja keras mencoba dan mau belajar terus-menerus. Sebuah foto akan dapat menjadi representasi fotografer yang menciptakannya. Sehingga lahir maestro-maestro fotografi punya ciri khas masing-masing, sehingga mengenalkan diri ke publik yang lebih luas.

Sebuah karya fotografi yang dirancang dengan konsep tertentu dengan memilih objek foto yang terseleksi dan diproses dihadirkan sebagai luapan ekspresi artistik fotografernya, maka karya tersebut bisa menjadi sebuah karya fotografi ekspresi. Sehingga karya foto tersebut dimaknakan sebagai suatu medium ekspresi yang menampilkan jati diri fotografernya dalam proses penciptaan karya fotografi seni.

Fotografi sebagai salah satu entitas dalam domain seni rupa juga tidak terlepas dari nilai-nilai dan kaidah estetika senirupa yang berlaku. Namun dengan keyakinan bahwa setiap genre memiliki nilai dan kosa estetikanya sendiri, maka fotografi pun berbagai sub-genrenya juga tidak lepas dari varia nilai dan kosa estetikanya sendiri. Setiap kehadiran jenis fotografi karena tujuan penghadiran tentunya juga memerlukan konsep perancangan yang bermula dari ide dasar dan kontemplasi yang berkembang menjadi implementasi praksis yang memerlukan dukungan peralatan dan teknik ungkapan kreasinya.

Lebih jauh lagi bagi pencapai objektifnya, diperlukan berbagai eksprementasi dan eksplorasi baik terhadap objek fotografi maupun proses penghadirannya setelah menjadi subjek/subjectmatter dalam karya fotografinya. Tidak tertutup kemungkinan bahwa setiap objek perlu dipotret beberapa kali dalam rangka eksperimentasi dengan berbagai sudut pandang/angle (pandangan estetik) maupun dengan teknik komposisi dan panduan pecahanyaan dan kecepatannya penutup rana yang berbeda.

Semuanya digunakan dengan tujuan untuk mendapatkan berbagai ragam alternatif tampilan yang memiliki nilai estetis yang berbeda secara eksploratif dan dipastikan bisa memberikan beberapa pilihan hasil foto yang terbaik yang disesuaikan dengan hasil foto yang terbaik yang disesuaikan dengan kebutuhan nilai estetis yang diharapkan. Hal tersebut tercemin dalam domain fotografi sebagai aspek yang ideasional maupun yang bersifat teknikal.

Proses penciptaan dan penghadiran karya seni fotografi pada umumnya melalui empat proses: a. Proses pencarian ide; b. Proses pemotretan, c. Proses editing atau kamar terang dan d. Proses printing atau akhir end-product-nya. Pada setiap proses memiliki varian estetika tersendiri baik bersifat ideasional maupun yang bersifat teknikal. Proses yang pertama pencarian ide dicari dengan studi kepustakaan ataupun eksplorasi internet, diskusi, menyaksikan pameran-pameran seni rupa lainnya juga traveling mencari objek-objek dan momen estetis dalam perjalan tersebut.

Proses yang kedua, pemotretan adalah eksekusi dari fotografernya. Di sini tentunya telah dipersiapkan teknik, dan peralatan yang memadai untuk menghasilkan karya seni fotografi. Proses yang ketiga adalah proses editing yang diperlukan penguasaan komputer Photoshop yang memadai untuk menampilkan karya yang lebih estetis dari hasil pemotretan. Proses yang keempat, di sini tidak kalah pentingnya karena hasil akhir sebuah karya seni fotografi dapat dinikmati apakah karya seni fotografi tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat atau tidak. Juga ditambahkan dengan pertimbangan apakah print kertas atau print kanvas sehingga dengan tambahan pigura karya seni fotografi tersebut sempurna. Selamat Berkarya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *