Langit Terang di Bumi yang Gelap

S Prasetyo Utomo
http://suaramerdeka.com/

1. Lelaki Berkulit Legam

TANAH gelap cokelat pekat. Gadis berkulit bening itu muncul dari rumah tua. Berdandan cantik, ranum, harum berahi. Langit terang gemerlap bintang-bintang, berpendar: jauh dan dekat, menyala dan redup. Ia berjalan di antara rumah-rumah rapuh tanpa penghuni. Kelelawar-kelelawar garang bersarang di dalam rumah-rumah melapuk, bercericit dan beterbangan dengan kepak sayap gaduh.

Gadis sintal belia berkulit bening itu meninggalkan rumahnya dan bersua seorang lelaki muda, legam kulitnya, meradang sepasang matanya. Duduk di bawah pohon ranggas, tua, ratusan tahun umurnya. Perempuan muda itu menyandarkan kepalanya pada pundak lelaki hitam bermata beringas. Di tangannya terangkum beberapa tangkai kembang liar.

Liar mata lelaki legam itu.

“Tinggal beberapa orang yang masih hidup,” kata lelaki legam, pelan. “Hampir-hampir tak kutemukan perempuan, kecuali kau.”

Perempuan muda berkulit bening -yang selalu keluar rumah pada malam hari- wajahnya berbinar dalam gelap. Ia mengendus bau tubuh lelaki berkulit legam, dengan desah hangat, merajuk, dan kian merapat ke tengkuk. Ia merasuki percumbuan dalam gelap, di celah akar-akar melata pohon ranggas berusia ratusan tahun. Di belakang mereka terdapat gedung tua, bekas bangunan kantor balai kota, dengan pintu dan jendela yang tinggi kokoh, dan kini melapuk temboknya, dikikis lumut.

Tengah malam perempuan sintal berkulit bening itu merasakan rumput tempatnya berbaring basah berembun. Ia bangkit dari sisi lelaki berkulit legam bermata garang. Meninggalkan lelaki itu dengan senyum pemujaan. Ia bangkit dan melangkah. Melewati jalan beraspal mengelupas. Menyusuri kota mati, kembali menjadi rimba dan dilingkupi kegelapan. Desis ular-ular berbisa melata di semak-semak belukar. Ia masih mendengar suara perempuan yang dicumbu lelaki di sebuah reruntuhan gedung tua, tetapi tak pernah dilihatnya sosok tubuh mereka yang tengah bercumbu. Perempuan sintal berkulit bening itu terus saja melangkah. Merasakan kubah langit begitu dekat, dan bintang-bintang gemerlapan.

Di bawah pohon tua yang berumur ratusan tahun, lelaki berkulit legam itu masih tergeletak. Bersimbah peluh. Di rerumputan kusut masih tersisa bau harum tubuh perempuan sintal. Dan selalu saja terulang perasaan sepi dalam gelap yang pekat, yang memberinya rasa hampa. Ia merasa tak utuh. Melapuk serupa batang kayu, gagu, dan merindukan perempuan sintal itu, meski baru saja berpisah.

Esok hari ia harus pergi ke tambak, menjaring ikan dan memasaknya. Tak ada sawah. Tak ada ladang di luar kehidupan kota mati. Ia juga tak pernah bersua manusia di luar kota mati. Kalaupun ia bertemu seseorang, ia tak mengenal orang itu, bahkan cenderung takut, curiga, ngeri bila tertular penyakit aneh – menggigil, panas, kejang, muntah-muntah dan mati. Begitu gampang manusia tertular penyakit dan mati, hingga kota menjadi rimba hampir-hampir tanpa penghuni.

Pohon-pohon tumbuh liar, gedung-gedung melapuk, rumah-rumah ambruk, dan binatang-binatang liar bermunculan. Selalu gelap. Terik matahari terhalang pohon-pohon liar. Kota terasa teduh. Burung-burung terus berkepak, bertengger di dahan-dahan pohon.

Aspal jalan terbongkar akar-akar pohon menjalar, ditumbuhi semak berduri dan bunga-bunga liar. Kupu-kupu memenuhi belantara, aneka rupa. Binatang-binatang berkeliaran di kota yang menjelma menjadi rimba.

2. Lelaki Gemuk Pendek

HANYA perempuan sintal berkulit kuning langsat itu yang selalu muncul seorang diri, dan mencari tempat kencan dengan lelaki yang ditemuinya. Ia tinggal melangkah dalam gelap malam, berhenti di bawah pohon tua yang ranggas batang dari rantingnya. Biasanya seorang lelaki akan menanti. Pada saat perempuan sintal itu benar-benar melenggang ke bawah pohon tua di halaman bangunan gedung balai kota, telah berdiri menunggu lelaki gendut pendek dengan mulut menganga, selalu meneteskan liur. Kini lelaki gendut pendek yang selalu meneteskan air liur itu menampakkan perasaan tak sabar, sesekali menggerutu, lantaran perempuan sintal berkulit bening itu tak segera muncul. Di bawah pohon ranggas berumur ratusan tahun itu lelaki gemuk pendek berkali-kali memaki.

Lelaki gemuk pendek itu bergetar dadanya saat melihat bayangan perempuan sintal berkulit bening dengan mata bercahaya. Wajahnya yang panas berubah menjadi bergelora. Dibakar hasrat berahi. Liurnya meleleh, menetes dari sudut bibirnya, seperti rembesan air di celah tebing berlumut. Ia menerkam leher perempuan sintal berkulit bening hingga perempuan itu rebah di semak. Mendengus-dengus. Mengendus-endus. Liurnya terus berlelehan.

Tengah malam pada saat perempuan sintal berkulit bening itu bangkit dari rerumputan, meninggalkan pohon ranggas tua berumur ratusan tahun, lelaki gendut berperawakan pendek itu masih telentang di rerumputan. Masih terbaring ia untuk beberapa lama, dengan mata terkatup, mulut menganga, melelehkan liur. Tak tampak lagi wajahnya yang garang dan beringas. la lelap dalam dengkur, dengan tubuh dibintiki embun. Di sekelilingnya binatang melata mendesis dalam diam, menyusup semak-semak belukar. Ditekannya rasa sunyi yang membuatnya terasing. Ia masih akan bersua perempuan sintal itu. Tapi apa arti pertemuannya itu? Selalu saja ia kembali terlempar untuk menjadi manusia di kota yang jadi rimba, yang bertahan agar tak punah, tak musnah.

3. Lelaki Kurus Degil

PADA gelap malam hari berikutnya, lelaki kurus degil dengan mata elang menanti di bawah pohon tua ranggas yang berumur ratusan tahun. Perempuan sintal berkulit bening itu menyibak ranting dan rimbun daun-daun, menampakkan mata yang bercahaya. Langit terang dengan gebyar bintang-bintang di atas bumi yang gelap pekat.

“Oh, kukira kau tak lagi muncul kemari,” lenguh lelaki kurus degil, bermata elang. “Aku akan mati kalau kau tak lagi kemari.”

“Tempat pertemuan ini akan selalu kukunjungi.”

“Aku mulai cemas, kalau kita akan punah seluruhnya.”

“Buatlah aku mengandung, biar lahir bayi dari rahimku,” desah perempuan sintal berkulit bening itu.

4. Bayi Lahir

KOTA telah jadi rimba yang pekat, ketika perempuan sintal itu mengandung. Ia tampak lebih cantik, lebih bercahaya wajahnya. Perempuan itu tak lagi menemui siapa pun di bawah pohon tua ranggas yang berumur ratusan tahun. Ia hanya sesekali melintas di jalan jalan yang rimbun belukar semak berduri. Kulitnya yang bening kian bercahaya. Wajahnya memancarkan kebahagiaan. Kandungannya kian membesar. Ia menampakkan kecantikan yang bergairah.

Tak lagi disinggahinya pohon tua ranggas yang berumur ratusan tahun. Lelaki berkulit legam yang sesekali melihat si perempuan cantik sintal itu dengan perut bunting dan wajah bercahaya, takjub dalam debar dada. Selalu wajah yang bercahaya dan mata yang berbinar itu demikian gemerlap, hingga siapa pun bisa memandanginya dari kejauhan. Anjing-anjing liar berhenti menggonggong, burungburung tak lagi mencicit dan serangga berhenti mengerik. Perempuan sintal berkulit bening itu melintas hutan dalam sunyi yang pekat. Setelah ia menjauh, lenyap dalam pepohonan liar berlumut dan bersulur, kembali terdengar gonggong anjing, cicit burung dan serangga mengerik. Masih tersisa bau harum tubuh perempuan sintal berkulit bening itu, terbawa angin yang murni.

Lelaki gemuk pendek dan lelaki kurus degil melongokkan kepalanya di jendela, menanti perempuan berkulit bening itu lewat dalam gelap malam, yang menyebabkan dada mereka berdesir. Bayi siapakah yang dikandung perempuan itu? Bayi itu memberi harapan kehidupan baru akan lahirnya manusia di kota yang telah menjadi rimba, dan binatang-binatang makin buas makin beringas. Suatu saat, mungkin, binatang-binatang liar itu akan memanggsa habis manusia.

Di antara desau angin yang terpendam pada rimbun pepohonan, lelaki kurus degil itu kadang mengutuki dirinya sendiri, kenapa ia tak turut mati digerogoti penyakit yang memusnahkan manusia di kota ini. Ia merindukan suara bayi, suara anak-anak yang bermain di pelataran. Alangkah menggairahkan bila kota kembali terang-benderang lampu gemerlapan, dengan kesibukan di kantor-kantor, pertokoan, tempat hiburan. Terminal dipenuhi manusia dengan bising lalu lintas: klakson, asap, decit rem mobil dan umpatan kasar sopir. Tapi tak ada lagi mereka. Kota telah menjadi rimba gelap, siang maupun malam.

Pada dingin subuh yang diiringi desau angin menggertap di dedaunan, terdengar tangis bayi. Kencang. Nyaring. Langit terang karena bintang-bintang gemerlapan. Tak pernah langit seterang ini. Lelaki berkulit legam, lelaki gemuk pendek, dan lelaki kurus degil, mengendap-endap dalam degup dada yang gugup, mencari arah yang sama: suara bayi itu.

Tanah gelap cokelat pekat. Gadis sintal berkulit bening itu melahirkan bayinya di rumah tua. Sendirian. Tanpa pertolongan. Tak ada suara serangga. Tak ada gonggong anjing liar. Hanya suara bayi itu yang lengkingnya tajam ke langit penuh bintang gemerlap. Langit jadi begitu dekat, seperti bisa dijangkau ujung jemari tangan. Tapi ketiga lelaki itu melangkah dengan rasa ingin tahu dan degup jantung ragu: bayi siapakah yang lengkingnya tajam di tengah kota yang jadi rimba?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *