Perjumpaan Singkat di Desa

M.D. Atmaja

Sepulang kerja, Dhimas Gathuk telah menemui Kangmas-nya yang sering berpetualang tidak jelas arah. Saudara tua yang sangat jarang sekali dapat dia temui walau mereka berada di satu rumah. Ini karena Kangmas Gothak lebih sering menjelajah kehidupan dan menemukan pemahaman ketimbang duduk manis di tempat enak dan menikmati dunia. Kangmas Gothak telah menjadi pengembara semenjak mereka masih kecil, semenjak kedua orang tuanya masih ada. Diketika dia menjadi Bapak, Ibu, dan juga seorang Kakang, Kangmas Gothak menyembunyikan hasrat untuk berjelajah. Dia merawat adiknya, sampai dirasa cukup mampu mengurus diri lalu pergi. Continue reading “Perjumpaan Singkat di Desa”

Ketika Aku Menjadi Orang Papua

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Kapal putih itu membawa seratus tahanan politik menyusuri sungai menuju hulu yang jauhnya 60 km dari muara. Karena sungai dalam dan arusnya lemah maka pelayaran tidak memakan waktu lama. Di antara seratus tapol itu, aku yang paling nekat. Melompat dari kapal di malam buta, menyelam beberapa lama dan selama menyelam terasa ada tembakan bertubi-tubi. Untung tak ada peluru mengenai tubuhku. Ketika muncul di permukaan, dalam keadaan menghirup udara, mataku memandang kapal yang yang menembak tadi sudah cukup jauh. Continue reading “Ketika Aku Menjadi Orang Papua”

Perempuan-perempuan Modis Mao

Sita Planasari Aquadini
http://majalah.tempointeraktif.com/

PARAS ayu itu langsung saja melesak dalam ingatan. Seorang gadis berkepang dua, matanya hitam bulat, tajam menusuk. Hidungnya bangir, bibirnya mungil. Kesempurnaan khas gadis Tiongkok yang polos dan lugu itulah yang terangkum dalam lukisan perupa Cina, Qi Zhilong, bertajuk China Beauty itu.

Lukisan bertarikh 2009 ini sangat menarik bila kita menoleh kembali pada kisah sukses pelukisnya, Qi Zhilong. Perupa 47 tahun kelahiran pedalaman Mongolia ini terkenal dalam kancah seni rupa internasional berkat serial lukisan Gadis dalam Seragam Mao. Seri lukisan ini mengangkat nama perupa lulusan China Central Academy of Fine Arts Beijing tersebut dalam jajaran perupa bergenre Political Pop pada 1995. Continue reading “Perempuan-perempuan Modis Mao”

SSSSST, ADA PEMBUNUH CINTA DI ISTANA!

Robin Al Kautsar

?Ji, di dalam cerita peperangan dan penderitaan yang paling kejam sekalipun, di sana ada kisah cintanya. Sedangkan drama kehidupanmu begitu hambar.?
(PDN, hal 143)

?Pembunuh di Istana Negara? karya Dhian Hari M.D. Atmaja pada dasarnya mencoba mengangkat tema politik. Suatu tema yang cukup jarang diangkat akhir-akhir ini, di mana tema seks begitu mendominasi. Oleh karena itu tema ini mengingatkan saya bahwa sebagian sastrawan kita dulu begitu berpretensi melukisan kecenderungan-kecenderungan utama masyarakat yang berpusat pada negara seperti “Grota Azura” karya Sutan Takdir Alisyahbana atau bahkan pada “Nyali” karya Putu Wijaya. Kebetulan kedua karya tersebut tidak begitu disambut secara luas. Mungkinkah karenanya tema politik akhirnya dihindari oleh banyak pengarang? Continue reading “SSSSST, ADA PEMBUNUH CINTA DI ISTANA!”

Bahasa ยป