MATA SIAPA
seperti awan makin pekat
makin gelap makin padat
kian berpetir kian berkilat
seolah kacakaca yang rapuh
tetes pertama nyaris runtuh Continue reading “Sajak-Sajak Kurniawan Yunianto”
MATA SIAPA
seperti awan makin pekat
makin gelap makin padat
kian berpetir kian berkilat
seolah kacakaca yang rapuh
tetes pertama nyaris runtuh Continue reading “Sajak-Sajak Kurniawan Yunianto”
KAMPUNG KUNING
Saat menulis buku itu dia kehabisan bahan. Maka dengusnya: “Aku minta bahan anak-anak, kenduri, pedagang tikar, perantau dan para jawara yang menumpang kereta kelinci!” Tapi, kau mau meminta pada siapa?
Barangkali pada dermaga, atau pada para tekong yang selalu menawarkan kreditnya. Juga pada pelancong yang menyukai ibu tua, gua onik, bumbung aren, kenong batu dan tambak berlapis? Continue reading “Sajak-Sajak Mardi Luhung”
cetak.kompas.com
Babi Merah Jambu
untuk Agus Suwage
Barangkali buluku sepantas sutera, tapi sungguh aku enggan bercermin. Sebab pantulanku akan terlihat suci, dan aku tak suka bersaing dengan mereka yang beriman.
Bangun sebelum fajar itu, aku masuk ke dalam sisa tidurmu, menyaru sebagai penghibur berpupur putih lesih dan bermoncong merah jambu dan berhujah betapa kau terlihat bahagia di antara para musuhmu. Continue reading “Sajak-Sajak Nirwan Dewanto”

Alex R. Nainggolan Continue reading “Kepada Puisi-Puisi (Joko Pinurbo)”
Ahmadun Yosi Herfanda
Republika
Selama dua malam berturut-turut, 23-24 Agustus 2007, keraton Yogya bertabur puisi. Tidak kurang dari 30 penyair Indonesia membacakan sajak-sajak mereka di Sasono Hinggil, bagian dari komplek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Salah satu mata acara Divisi Sastra Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XIX/2007 itu dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Ir Condroyono MSp, dengan me-launching buku sastra FKY XIX, Tongue in Your Ear, yang berisi makalah pembicara, puisi para penyair dan esei peserta workshop, setebal hampir 500 halaman. Continue reading “Keraton Yogya Bertabur Puisi”