Kacamata Hitam Iyam

Ida Ahdiah
http://www.suarakarya-online.com/

Sejak sebulan lalu, tiap pagi, menjelang berangkat kerja, Iyam punya upacara rutin, memakai kacamata hitam di depan cermin di dinding ruang tamu, rumah petaknya. Sebelum dipakai, kacamata itu ia lap dengan tisu yang lebih dulu dicelup ke air. Setelah lapannya merata di lensa, ia keringkan dengan tisu kering. Baru kemudian ia kenakan kacamata bergagang tebal dan lebar dengan lensa sebesar piring kecil yang biasa digunakan untuk tatakan gelas kopi suaminya, Warno, itu.

Lensa itu menelan wajahnya yang tirus kecil. Menyembunyikan hidungnya yang mungil.

Di depan cermin yang memantulkan tiga perempat tubuhnya ia memeragakan beberapa gaya. Pertama, perempuan kurus dengan tinggi sedang ini menyilangkan kedua lengan di permukaan buah dada, menolehkan kepala ke samping, dan memasang sedikit senyum di sudut bibir. Gaya lain, ia busungkan dada, monyongkan dua bibir yang berpulas merah cabe. Namun gaya yang paling ia suka adalah memasang tangan kanan di pinggang, tangan kiri menyibak rambutnya yang lurus sebahu ke belakang, kepala miring ke kiri sambil tertawa lebar, dan sebelah kaki jinjit.Upacara di depan cermin itu ditutup dengan gaya seolah-olah ia sedang naik motor. Ia letakkan pantat di udara, kedua lutut menekuk, dua tangan memegang kemudi motor, dan kacamata bertengger di wajahnya. Dengan mulutnya ia membuat suara deru menyerupai motor yang sedang digas meluncur di jalanan.

Udi, putranya yang berusia batita berjingkrak-jingkrak girang melihat ibunya yang ia kira mengajaknya bermain motor-motoran. Ia ikut bergaya seakan-akan sedang naik motor juga. Mulutnya menirukan suara motor yang sedang digas. Iyam tergelak-gelak ketika dari mulut putranya keluar suara, “Teot, teot, minggir, motor lewat…”

Iyam berjongkok meraih Udi, menciumnya bertubi-tubi. Udi mencopot kacamata itu, berupaya memasang kedua gagang di telinganya. Tapi tak berhasil karena terlalu longgar. Tangannya yang kecil belum cukup kuat untuk menahan secara kencang. Kacamata itu melayang, jatuh di lantai. “Yaaah, pecah…” Iyam memekik dengan paras was-was.Warno yang sejak tadi menyaksikan tingkah polah istri dan anaknya sambil senyam-senyum senang, memungut benda itu dari lantai, menelitinya. “Tidak, tidak pecah. Retak juga tidak. Kacamata ini made in Italia,” Warno membaca hurup-hurup yang tertera di gagangnya.

Segera Iyam memasukkan kaca mata itu ke dalam tas plastik kecil bergambar Barbie pemberian Bu Siska. Di tas yang selalu ia bawa ke tempat kerja itu ada dompet plastik dari toko mas, tempat suaminya dulu membeli mas kawin cincin, 3 gram, yang kini terpasang di jari manisnya. Dompet itu berisi uang logam lima ratusan dan beberapa lembar ribuan. Di tas itu Iyam juga menaruh payung lipat yang ia gunakan kala panas terik dan hujan.

“Aku tidak butuh payung lagi…” Iyam mengeluarkan payung memberikannya kepada Warno dengan senyum merekah, yang dulu membuat Warno bahagia menyuntingnya. Lalu sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya ia berkata riang, “Aku nggak percaya pulang kerja nanti akan mengendari motor. Kita punya motor, Mas. Hahaha, akhirnya kacamata ini ada gunanya,” Iyam terkikik-kikik sambil tangannya menepuk-nepuk tas Barbie , mencium Udi dan pamitan pada Warno hendak berangkat kerja.

Lupa kapan pastinya, Iyam memperoleh kacamata itu dari Bu Laura, saat cuci gudang. Nyonya rumah tempat ia kerja, hari itu memilih barang-barang yang tak terpakai di lemarinya untuk disingkirkan. Ia keluarkan beberapa lembar pakaian, tas tangan, celana dalam kumal, kutang yang karetnya sudah longgar, baju yang bosan dipakai, perlengkapan make up yang tidak cocok, dan aksesori tua, yang salah satunya adalah kacamata.
“Ambil kalau kamu ada yang suka. Sisanya buang saja,” kata Bu Laura.
Iyam segera menyahut, “Jangan dibuang. Saya bawa pulang saja. Boleh?”

“Tapi ini dan ini…” Bu Laura mengacungkan baju dalam, “Buang saja. Beberapa baju masih bisa dipakai. Kelihatannya untuk kamu kebesaran.” Ia mematut-matut sebuah blus ungu bermanik-manik di tubuh Iyam.

“Saudara atau tetangga saya badannya ada yang sebesar ibu.” “Tas dan kacamata ini masih bagus, bisa kamu pakai. Dua-duanya merek Gucci.” Bu Laura menyerahkan kedua benda itu ke tangan Iyam.

Iyam tidak tahu apa istimewanya Gucci. Di rumah ia punya handuk yang dibeli di pasar bertulisan Gucci.

Di hari cuci gudang itu Iyam membawa pulang dua kantong plastik besar berisi barang lungsuran Bu Laura. Termasuk pakaian dalam yang tidak ia buang seperti saran Bu Laura. Setiba di rumah barang-barang itu ia gelar di emperen lalu memanggil saudara dan tetangganya yang tinggal berdekatan untuk memilih. Barang-barang ludas dalam sekejap. Cuma tak satu pun dari mereka yang tertarik mengambil kacamata hitam.

Berbulan-bulan benda itu tergeletak di meja tamu, berdebu. Iyam baru tergerak menggunakannya ketika matanya terserang infeksi yang membuat matanya merah, mengeluarkan gumpalan kecil kuning, gatal, dan sulit dibuka kala bangun tidur. Warno dibuat terkagum-kagum melihat istrinya berkaca matahitam. “Kamu seperti Jupe,” ujarnya kala itu sambil membandingkan istrinya dengan artis yang maju sebagai wakil Bupati Pacitan, yang sedang diwawancarai wartawan infotaimen di televisi tua yang tengah ditontonnya.

Saudara dan tetangganya berkomentar kacamata itu membuat Iyam tampak seperti orang komplek. Orang komplek adalah sebutan untuk orang yang tinggal di perumahan yang dibatasi pagar beton setinggi dua meter.

Sampai satu siang, sepulang kerja, Iyam mengambil kacamata, melap dengan tisu yang ia celup di air dan mengeringkannya dengan tisu kering. Lalu ia hampiri suaminya yang sedang menjaga warung kopi. “Mas, aku akan seperti Jupe setiap hari,” lapornya.
Suaminya mengerling tak mengerti. “Kayak Jupe,”
“Aku akan punya motor.”
“Ampun, Yam, ampun, kita tak punya duit buat kredit motor. Jangan mimpi.” “Bu Laura akan memberi aku motor.”
“Cuci gudang lagi?”

Iyam menggeleng. “Bulan depan dia akan pindah mendadak ke kota lain. Rumah sekaligus perabotan sudah terjual. Katanya dibeli teman dekatnya. Ia bilang akan memberikan motornya padaku sebagai kenang-kenangan.”

“Kok ada ya, orang pemurah seperti Bu Laura,” ujar Warno lirih. Warno pernah melarang Iyam bekerja sebagai pembantu di komplek perumahan seperti dilakukan banyak perempuan tua dan muda di kampungnya. Ia tidak rela istrinya yang bekas penyanyi organ tunggal tingkat kampung mengepel, mencuci baju, memasak, nyebokin, dan mungkin dilabrak majikannya gara-gara kesalahan kecil. Pikirnya, ia masih bisa memberi makan istrinya dari hasil kerjanya sebagai supir di perusahaan air isi ulang.

Ia mengizinkan Iyam bekerja ketika perusahaan air minum isi ulang ditutup karena ketahuan memalsu merek air minum terkenal. Mencari kerja juga tidak mudah. Kebutuhan keluarga tak bisa dipenuhi hanya dari warung kopi di tengah kampung, yang jarang disinggahi pembeli. Apalagi saat itu Iyam bersikukuh ingin memberi Udi susu formula, karena menurut iklan bisa membuat anak cerdas, padahal ASI Iyam melimpah.

Enam kali seminggu, Minggu ia libur, Iyam bekerja di dua rumah. Pertama di rumah keluarga Pak Hartono dan Bu Siska, yang keduanya bekerja dari pagi hingga senja. Iyam hanya ketemu pagi hari dengan mereka. Baru kemudian ke rumah Bu Laura, yang ibu rumah tangga. Suaminya Pak Herman, seorang pengusaha sibuk. Kedua anaknya pergi sekolah dini hari dan pulang senja. Selama bekerja di situ, bisa dihitung jari Iyam bertemu dengan Pak Herman. Itu pun selalu sedang bicara di telepon.

Pekerjaan Iyam menyapu, mengepel, mencuci, dan menyetrika. Pekerjaan yang tidak terlalu berat karena tugas mencuci sudah diambil alih oleh mesin cuci. Di masing-masing rumah Iyam bekerja 3 jam. Gajinya yang diterima tiap bulan ada sedikit sisa karena setiap hari Iyam diberi nasi dan lauk pauknya untuk dibawa pulang, cukup untuk makan sampai malam. Sisa uang gaji ia tabung yang rencananya untuk membeli motor bekas yang bisa digunakan suaminya ngojek. Syukur-syukur kalau nanti suaminya dapat langganan antar jemput anak sekolah seperti tetangganya. Sekarang ia tak perlu beli motor lagi. Ia sudah bilang pada Warno akan menggunakan sebagian uang itu untuk membeli dua helm. Ia akan memilih helm warna ungu, sama dengan warna motornya.Warno, yang menggantikan istrinya menjaga warung kopi, bersyukur mengizinkan istrinya bekerja. Apalagi ia tahu kedua majikan Iyam baik. Waktu lebaran keduanya memberi Iyam satu kali gaji, beras, telur, ayam, kue-kue, dan pakaian. Dan yang paling mengejutkan sebulan lalu Bu Laura mengatakan akan memberi Iyam motor! Kabar Iyam akan mendapat motor sudah tersebar di kalangan para pembantu komplek, Satpam setempat dan tentu saja saudara dan tetangga. Di antaranya ada yang terang-terangan mengatakan iri melihat keberuntungan Iyam yang disayang majikan.

Oleh Satpam setempat Iyam disarankan untuk memperbaharui KTP-nya yang sudah hangus. Kartu Tanda Penduduk itu, katanya, akan mempermudah pemindahan kepemilikan motor. Juga dibutuhkan untuk membuat SIM. Tiga hari lalu KTP barunya sudah selesai.

Warno sendiri yang mengajari Iyam mengendarai motor, pinjaman dari kakaknya. Iyam yang pemberani belajar motor dengan cepat. Beberapa kali Iyam dibiarkan membawa motor sendiri di jalan-jalan kampung. Kini Warno tak sabar ingin melihat istrinya naik motor, berkacamata hitam seperti yang diperagakan Iyam setiap pagi sebulan belakangan ini. Namun Warno bertanya-tanya ketika siang itu Iyam tiba di rumah, memakai kaca mata hitam, tapi berjalan kaki.

“Yam…” Warno memutuskan mengurungkan niatnya untuk bertanya soal motor yang sudah ada di ujung lidahnya.. “Kamu kayak Jupe,…” Warno akhirnya coba becanda meski terdengar kaku dan dipaksakan.
“Cerita motor itu sampai di sini, Mas.”
“Sampai di sini bagaimana?” “Bu Laura menjual motor itu karena ada yang menawar.”
“Kan dia sudah janji.”
“Dia bilang begini sama aku. Iyam, ternyata motornya ada yang nawar. Ya, sudah ibu jual saja. Belum rezekimu rupanya.”
“Kamu tidak bilang janji adalah hutang.” “Aku bilang begitu.” “Lalu…”

“Maaf, ya, Yam, semula saya memang ingin memberinya padamu. Tapi saya berubah pikiran. Berubah pikiran kan, tidak melanggar hukum. Lagi pula, saya pikir, kalau kamu punya motor pengeluaranmu akan lebih banyak. Mending tidak usah saja. Jalan kaki setiap hari, lebih baik, lebih sehat. Oh, ya, ini saya kasih kamu 4 bulan gaji. Terima kasih untuk bantuan kamu selama di sini. Saya akan tanya pada pemilik rumah baru siapa ia tahu butuh tenagamu,” Iyam menirukan ucapan Bu Laura.
Dari balik lensa kacamata hitam itu Warno melihat air mengaliri pipi istrinya.

Udi datang menarik-narik lengan Iyam sambil berkata: “Ibu, ibu, ayo naik motor…”Dengan terpaksa Iyam bergaya seakan-akan sedang naik motor. Ia letakkan pantat di udara, kedua lutut ditekuk, kedua tangan memegang kemudi, dan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Dari mulutnya terdengar suara deru motor yang sedang digas melaju di jalanan,. Namun suara deru motor itu, kali ini disertai isakan. Udi mengira ibunya becanda dengan membuat suara motor tersendat-sendat seperti hendak mogok. Ia pun mencoba membuat suara isakan serupa Iyam. Mendengar itu Iyam tak tahan untuk tidak tertawa. Warno juga. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *