Burung Walet

Ellyzan Katan
http://www.riaupos.com/

Senja yang tidak biasa, begitu pikir Aslan. Di beberapa titik langit, gumpalan awan berserabut seperti sarang lebah. Aslan menjadi gugup. Pikirannya beterbangan ke mana-mana. Sesekali singgah juga ke kampung nelayan, kampung yang telah lama ditinggalkannya.

Hmm, Aslan menyadari, itu merupakan ingatan singkat yang selalu mengganggu. ?Aku tak akan terpengaruh. Tak akan!?

Kampung nelayan itu telah jauh berada di pulau seberang. Kini, sebagai seorang guru, tidak mungkin lagi baginya untuk mengingat-ingat setiap jejak langkah yang pernah dibuatnya dulu. Biarlah, apa-apa yang masih tersimpan di dalam kepalanya, menjadi ingatan yang hanya datang sesekali. Tapi tanpa disadari, semakin kuat Aslan berusaha melupakanya, semakin kuat pula riak-riak air laut bermain di telinga. Sepertinya, apa yang dikhawatirkan Aslan semakin kuat tercium.

?Kembalilah bila kau telah berhasil. Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama.?

Hah, surat itu, surat yang datang tiga tahun lalu itu, tidak seharusnya singgah terlalu lama di tangannya. Seharusnya, begitu telah selesai membacanya, surat itu memang harus dibuang. Aslan merasa bersalah ketika tetap menyimpannya hingga sekarang.

?Asal kau tahu, hingga sampai detik ini pun, aku masih tetap menunggu. Dan aku sudah sampaikan niat ini kepada orang tua, aku akan tetap menunggu.?

Burung-burung itu kembali terbang. Padahal bukanlah musimnya bagi burung-burung walet hitam itu untuk selalu meninggalkannya sarangnya. Pada saat sekarang, burung itu akan lebih memilih berada di dalam rumah burung dari pada terbang ke luar. Musim hujan telah datang sambil membawa uap sejuk yang begitu pekat.

Aslan sendiri di rumah. Tidak ada kawan, tidak ada bual-bual, dan tidak ada televisi. Aslan seolah tenggelam dalam kesendirian yang sengaja dipeliharanya itu. Sampai burung-burung itu, tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya melalui pentilasi di atas jendela.

Dilihatnya burung walet yang hinggap di atas lemarinya itu. Warnya hitam. Bulunya penuh pekat dengan titik embun. Ada suara mencicit pelan keluar dari mulut sang burung. Sayang, Aslan tidak mampu untuk menterjemahkan apa yang dibicarakan oleh burung walet yang tersesat itu. Tidak mampu.

?Aku membawa kabar dari kampung nelayan. Dia sedang menunggumu sekarang.? Mulut burung walet tak henti bergerak. Suaranya memenuhi segala penjuru.

Pandangan mata Aslan sekilas lekat menatap ke arah burung walet. ?Sudahlah, hari sudah malam,? bisiknya di dalam hati. ?Jangan ganggu aku.?

Tapi burung itu seolah enggan untuk pergi. Dia sekarang berpindah. Semula berada di atas lemari, tapi kemudian mengepakkan sayapnya menuju ke atas cermin besar yang menggantung lemah di dinding, tepat di sebelah kanan tempat tidur Aslan.

?Kau tetap tak mengerti, Aslan. Setelah bekerja di perusahaan ikan, sekarang dia tidak lagi berniat untuk melakukan apa pun. Sehari-hari dia hanya menatap ke arah kapal-kapal yang datang singgah di pelabuhan.?

Burung walet kecil kembali berpindah ke ujung ranjang. Kali ini bukan saja mulutnya yang bergerak, tapi juga diikuti sayap-sayapnya yang kecil. Sesekali burung itu mencicit panjang. Aslan hanya memandangnya saja tanpa tahu harus berbuat apa.

Kemudian setelah selesai menyaksikan setiap gelagat yang dikeluarkan oleh burung walet, Aslan sengaja berdiri. Diambilnya buku tebal yang masih terbuka di atas meja. Isabel Allende, Daughter of Fortune, baru dibaca beberapa halaman. Burung walet yang masuk itu, datang tidak diundang, telah mengganggu kekhusukannya membaca. Mengapa pula dia sampai berani menggangu seperti sekarang? ?Aku tidak ingin menyimak semua ocehan yang kau berikan. Aku malas.?

Lalu burung itu kembali mengepakkan sayapnya. Kali ini berputar-putar di atas langit-langit kamar, dan hinggap di pentilasi pintu. Kicauannya yang pelan itu menarik perhatian Aslan. Sayang, lelaki yang hanya memakai kain sarung itu, yang bersinglet itu, menengadahkan kepala, dingin, tanpa basa-basi.

Aslan sendiri sedang mencoba kembali merajut setiap hal kecil yang dulu sempat bermain di kepalanya. Seorang anak kecil berlari di tepi pantai sambil berteriak-teriak menjual ikan. Kakinya penuh dengan pasir berwarna putih. Hmm, sungguh menyenangkan. Dia pandai memainkan gelombang. Setiap jejak kakinya yang kecil itu, meningkahkan irama yang begitu menawan. Aslan masih ingat betapa dia pun ikut larut membantu menjualkan ikan untuk perempuan mungilberambut pirang itu. Uap angin penuh sesak dengan rasa garam.

Tapi benar agaknya yang dikatakan oleh orang kampung, barang siapa yang telah meminum mata air dari gunung Terempa, pastilah dia akan terkenang dengan segala bentuk kehidupan orang pulau; hilir-mudik manusia pencari ikan yang handal menunggang punggung gelombang, jaring pukat panjang, tawar menawar di pasar ikan, serta keramahan penduduk sekitar, Aslan tak dapat melupakannya.

Hanya perjalanan panjang ini saja yang menghambat langkah kakinya untuk kembali. Gurun air laut yang memutih saat musim utara dan beberapa petuah orang tua-tua, menjadikan semua rencananya untuk mengikatkan diri pada perjodohan sejati, tak dapat dilangsungkan. Aslan menelan ludah. Dadanya geram. Aliran darahnya terasa seperti sungsang, berbalik arah.

?Hah, kau pula yang hendak meminang anak aku? Apa tak salah??

?Tapi, Pak, saya bersungguh-sungguh. Tak lama lagi saya akan menyelesaikan kuliah. Dan tak lama lagi, saya akan mendapatkan pekerjaan.?

?Apa kau kira dengan berbekal selembar ijazah kau dapat menjamin masa depan anak aku? Tak semudah itu. Aku tak percaya.?

?Katakan saja kalau Pak Cik telah menjodohkan dia dengan orang lain. Begitu kan??

?Hari sudah malam. Aku mau tidur.?

Pelataran rumah yang masih diingatnya hingga sekarang itu, menggigil ketika telapak kakinya dipaksa untuk turun. Angin-angin yang masih bermain di tengh laut sana, sengaja mendiamkan diri, enggan untuk mendekat. ?Mengapa pandangan ini gelap?? Di sekitar banyak cahaya yang beterbangan. Tapi tetap saja, Aslan mencari-cari di mana cahaya berikutnya yang bisa dipakai sebagai penunjuk jalan.

Burung walet kecil masih berciut-ciut di jaring pentilasi. Paruhnya yang lancip tapi mungil itu, bergerak-gerak lincah. Dia mau mengatakan ini kepada Aslan, ?Itu dulu, sekarang sudah berubah. Kau harus mempercayai aku. Keluarganya tidak seperti itu lagi. Kau harus segera kembali sebelum terlambat.?

Kalender besar yang diberikan oleh bank menggantung di dinding. Aslan mencari-cari, mengapa hari berlalu begitu panjang sekarang ini? Antara kebutuhan hidup dasar dengan kecenderungan untuk menemukan sesuatu, tak dapat lagi dibedakan. Pekerjaan adalah hal lain. Lagi pula selama ini, semua telah dijalaninya dengan sungguh-sungguh.

Siapa yang tak mengetahui Aslan dengan nama pena Atan Sambang? Dialah yang kerap mengisi laman sastra banyak koran di mana-mana tempat. Tapi semua itu masih ada yang kurang. Burung, ya, burung walet ini mengacaukan pikirannya. Aslan duduk lebih tegak. Kali ini dilihatnya lagi burung walet yang masih berkicau itu.

?Apa kau tidak tau, aku sudah melupakan semua itu?? Aslan berbidik di dalam hati.
Paruhnya bergerak membalas. ?AKu tau kau marah, Aslan. Aku tahu. Tapi bukan berarti begini, bersikap tidak perduli sama sekali sama saja memendam celah tajam di dalam hati engkau sendiri.? Sayang, Aslan tak bisa mengerti. Dia hanya menangkap ada getar-getar halus terjadi di dalam dadanya ketika burun walet itu berkicau. Cahayanya semakin mengkilat ketika dibasuh oleh kilauan lampu.

?Sekarang aku telah melupakan dia. Tak akan lagi aku mengingatnya. Cukuplah dulu aku dibuat sengsara, malu oleh orang tuanya. Sekarang tidak lagi.?

Lalu burung itu pun mendadak terbang. Dia menghilang. Aslan tinggal sendiri di kamar. Buku Isabel Allende, Daughter of Fortune, tak lagi menarik untuk dibaca. Entah mengapa, telinganya mendengar kecipak air laut. Air yang telah lama tidak dilihatnya lagi.

Aslan memang terlalu larut dalam pekerjaannya sehari-hari. Selain menjadi seorang pengajar di salah satu sekolah swasta, dia juga dipercaya sebagai seorang dosen di universitas yang dulu tempat dia menuntut ilmu. Selain itu, kegiatannya menulis di banyak surat kabar telah menyita hampir seluruh perhatian dan waktu yang tersisa. Aslan mengapung di tengah lautannya sendiri, lautan yang tak bertepi dan tak berpulau.

?Jangan ganggu aku lagi.? Suara Aslan menggema pelan. Dia tidak ingin burung kecil itu kembali datang, hanya membuat bising saja. Tapi ketika hampir empat malam burung yang gemar berbual dengannya itu tidak datang, tanpa disadari, Aslan sengaja membuka jendelanya sampai larut malam. Matanya tak pernah berhenti untuk melihat setiap ada bayang hitam yang terbang melintas di depan jendela. Kelelawar pun dikiranya burung walet. Dengan begitu Aslan merasa kehilangan.

Radio kecil yang ada di samping bantal, dinyalakan. Beberapa siaran luar negeri yang biasa didengarnya, tak menarik lagi untuk disimak. Bahkan untuk Radio Singapore International, siaran yang tidak pernah dilewatkannya setiap malam, hambar begitu saja. La Rani Hafit kini berceloteh kering. Di pengeras suara yang ada, suara lelaki penyiar yang gendut itu, melayang tak berbekas. Setiap info yang diberikannya, seperti debu yang habis terbawa angin. Aslan berpikir, apa yang salah? Burung itu, ah, kemana dia pergi?

Setiap hari di kampung nelayan memang menyenangkan. Aslan memelihara beberapa jenis ekor burung. Ada punai, bayan, pergam, kakak tua, dan merpati. Khusus burung walet, Aslan masih ingat, hanya dipelihara untuk tujuan ekonomi. Pemeliharannya pun terbatas di rumah burung. Biasanya rumah burung yang tinggi menjulang itu dimiliki oleh taoke-taoke Cina karena hanya taoke-taoke itulah yang mampu membuat sebentuk rumah burung. Harganya mahal.

Tapi bagi Aslan, kicau berbagai macam jenis burung yang dipeliharanya pada waktu itu, tak semenarik kicau burung walet yang bertamu ke kamar malam-malam. Suaranya menyiratkan sesuatu. Ada makna yang tak dapat dimengerti oleh telinga Aslan, kendati telah dicobanya untuk menyimak sedemikian rupa. Tetap saja, kehadiran burung walet itu membentangkan rasa penasaran yang dalam di hatinya. Aslan berdiri mematung di depan jendela. Malam ini sudah yang ketujuh burung walet tak datang.

Pikiran Aslan melayang ke mana-mana. Seharusnya burung itu datang ke sini. Aku akan berdiri di dekatnya, berbual-bual, dan saling beradu suara. ?Dia berkicau, dan aku akan bercakap. Ya, caka apa saja.? Aslan menghirup udara malam dalam-dalam. Hmm, pikirannya kembali ke masa lalu.

Gadis kecil yang lincah masih berlari-lari di tepi pantai. Kali ini, dia menjinjing bakul berisikan beberapa helai daun pandan. Daun itu, menurut cerita dari mulutnya yang kecik nonet itu, akan dijadikan tangkal di rumah. ?Kalau daun ini digantung di atas jendela, makhluk halus tak akan mau datang. Rumah kita wangi, Bang. Bau daun pandan ada di mana-mana.?

Daun pandan? Ya, Aslan masih ingat. Daun pandan itu pulalah yang kerap dipetik oleh orang-orang kampong untuk penangkal di rumah. Termasuk si jelita, anak seorang wak haji kaya, perempuan yang telah memikat hatinya, ikut pula memetik daun pandan di sepanjang garis pantai.

?Kalau Abang mau, jangan daun pandan yang biasa dipakai untuk masak, tapi pakailah daun pandan berduri yang banyak tumbuh di sepanjang pantai kita ini.? Lalu tubuh kecilnya kembli berlari menyusuri jalan setapak yang ada di antara rindangnya pohon kelapa.

Daun pandan. Mana daun pandan? Di atas pentilasi jendela kamar tidak ada daun pandan. Aslan tidak menangkap sehelai pun daun pandan tergantung di sana. Dan burung itu, ke mana dia tak juga datang-datang?

Aslan gelisah. Setelah mencoba menenangkan diri dengan menikmati segelas teh panas, dia beranjak keluar kamar. Dilihatnya ada beberapa orang masih hilir mudik di luar sana. Dan hujan, turun rintik-rintik. Beberapa katak, terlihat menikmati air hujan. ?Pasti, pasti dia tak akan datang. Hari hujan.? Gumam suara Aslan tak mampu menembus rintik hujan yang bernyanyi di atap rumah.

?Hah, kau pula yang hendak meminang anak aku? Apa tak salah??

?Tapi, Pak, saya bersungguh-sungguh. Tak lama lagi saya akan menyelesaikan kuliah. Dan tak lama lagi, saya akan mendapatkan pekerjaan.?

?Apa kau kira dengan berbekal selembar ijazah kau dapat menjamin masa depan anak aku? Tak semudah itu. Aku tak percaya.?

?Katakan saja kalau Pak Cik telah menjodohkan dia dengan orang lain. Begitu kan??
?Hari sudah malam. Aku mau tidur.?

Percakapan yang tak pernah ada ujungnya itu, selalu saja bermain di telinga. Aslan menggigil mengingatnya. Betapa telah lekat di hati Aslan dendam yang membatu. Dia pun menghempaskan diri di tas ambin tua yang ada di teras. Benar-benar malam yang panjang. Burung walet tak juga datang.

Semakin lama Aslan duduk di teras depan, semakin lambat perjalanan waktu dirasa. Detak jam di dinding seolah berhenti pada jarak-jarak tertentu. Tidak sedikit pun Aslan menyadari kalau dari jauh, burung walet kecil, burung yang banyak mempermainkan jiwanya, mengawasi. Dari sebatang ranting, burung itu mengintai. Ya, ya, kesabaran seperti apa pun tidak akan mampu menggerutu seperti kau, Aslan. Belum pernah ada.

Beberapa barisan embun, dapat diajak untuk berbual. Sayang, Aslan tidak mengerti dengan bahasa yang dipakai alam. Kalau dia mengerti, tidak akan begini jadinya. Yakinlah?
Lamat-lamat terdengar suara Aslan bergumam. Suaranya tidak seperti menggerutu, tapi seperti bernyanyi. Hmm, nyanyian apakah yang dibisikkan oleh Aslan.

?Kau harus mengakuinya, Aslan.?

Seperti mimpi. Ya, seperti mimpi. Aslan mendapati seluruh dedaunan dan halaman rumah mengerucut. Beberapa makhuk tanah mulai sibuk masuk ke dalam lubang untuk menghindar. Keadaan berubah sedemikian cepat. Aslan menatap tinggi ke awan.

Dari banyak arah, langit mendadak bercahaya. Bulan bersinar penuh. Tidak sedikit pun awan menghalangi buncahan cahaya ke wajah Aslan. Dia mematung. Beberapa titik hitam muncul dari langit. Aslan menajamkan penglihatan. Sesekali lelaki yang terlihat kusut itu, menarik nafas panjang. Titik hitam apakah yang muncul itu? Semakin lama, semakin ramai. Semakin dekat, semakin bising. Aslan mundur selangkah. Terlihat jelas uap takut di wajahnya.

Tiba-tiba burung walet kecil itu mendekat. Sayapnya mengepak perlahan, hinggap di sisi pagar kayu.

?Engkau masih belum percaya? Aku ke sini untuk mengakatan yang sebenarnya, dia menunggu engkau sekarang.?

Aslan heran. Telinganya bisa menyimak dengan jelas setiap kata yang dikeluarkan oleh burung walet. Jelas, benar-benar jelas.

?Kau lihat, bukan hanya aku yang datang. Semua telah datang.?

?Aku tak bisa bergerak.?

?Kabar ini aku bawa langsung dari perempuan yang dulu sempat kau puja-puja. Apa kau lupa??

?Kalian apakan dia, ha??

Burung walet semakin ramai mengitari sekelaliling Aslan. Suaranya menyeruak ke mana-mana.
?Dia hanya ingin kau kembali. Bukankah telah tujuh tahun kau meninggalkan kampong nelayan? Selama itu pula dia menunggu engkau dengan perasaan yang tak menentu. Apa kau tahu, orang tuanya batal menjodohkan dia dengan orang lain, seperti yang kau sangkakan dulu.?

Aslan terdiam. Percakapan terakhir yang telah membuat panas hatinya itu kembali muncul di depan mata. Tapi, kali ini agak berbeda. Raut wajah orang tua yang dipanggilnya Pak Cik itu tidak seperti dulu lagi, terliht agak tua. Padahal umurnya baru limapuluh empat tahun.

?Hah, kau pula yang hendak meminang anak aku? Apa tak salah??

?Tapi, Pak, saya bersungguh-sungguh. Tak lama lagi saya akan menyelesaikan kuliah. Dan tak lama lagi, saya akan mendapatkan pekerjaan.?

?Apa kau kira dengan berbekal selembar ijazah kau dapat menjamin masa depan anak aku? Tak semudah itu. Aku tak percaya.?

?Katakan saja kalau Pak Cik telah menjodohkan dia dengan orang lain. Begitu kan??

?Hari sudah malam. Aku mau tidur.?

Burung-burung itu berputar semakin kencang di sekitar Aslan. Kepak sayapnya yang berayun begitu kuat menerbangkan rambut, debu, dedaunan, atap daun, dan beberapa ranting di tanah. Seketika itu pula Aslan menangkap sesuatu yang ganjil telah terjadi di depan matanya. Burung walet kecil yang semula masih bercakap-cakap dengannya mendadak memunculkan cahaya. Dari setiap bulu di sayapnya memercikkan air. Air itu semakin banyak dan semakin banyak. Aslan menjadi basah kuyup dibuatnya.

?Hentikan. Hentikan. Hentikaaaaaaaaan??

Aslan tak sadar ketika beberapa orang penghuni rumah menepuk-nepuk pipinya. Di sekitar tempat Aslan berbaring, banyak ditemukan bulu burung walet.***

Tanjung Batu, 14 Juni 2010

Ellyzan Katan, kelahiran 16 Juni 1984, adalah alumni Universitas Islam Riau. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Saat ini menetap dan bekerja di Tarempa, Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau. E-mail; ellyzan_katan@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *