Musim Semi Penyair di Denpasar

Rofiqi Hasan
tempointeraktif.com

Menyadari pentingnya peran puisi daalam pengembangan sastra, setiap tahun Yayasan Printemps des Potes bekerja sama dengan Alliance Franaise (Lembaga Kebudayaan Prancis) di seluruh dunia selalu mencanangkan program Musim Semi Penyair.

Kegiatan ini merupakan suatu agenda budaya yang merayakan puisi dalam segala bentuk ekspresinya yang diadakan serentak setiap bulan Maret di berbagai tempat di dunia. “Temanya berbeda-beda, disesuaikan dengan situasi serta kondisi terkini,” kata Jean-Pierre Sim?on, direktur artistik Printemps des Po?tes 2010.

Pada tahun ini, dalam edisinya yang ke-12, Musim Semi Penyair sengaja mengambil tema Warna Perempuan. Di Denpasar acara tersebut sudah berjalan untuk yang keempat kalinya. Dan acara Musim Semi Penyair atau Printemps des Potes kali ini akan digelar di Penggak Men Mersi, Jalan Supratman 169, Kesiman – Denpasar, pada 27 Maret besok.

Selain menghadirkan beragam wujud apresiasi puisi, semisal pembacaan, musikalisasi, serta monolog dari dramawan asal Prancis, akan digelar juga pameran lukisan yang menampilkan karya-karya dari sanggar Seniwati Gallery.

Jean menyatakan, seperti pada bidang-bidang kesenian lainnya, perempuan seringkali ditempatkan pada peranan kecil, sebagai sumber ilham, tempat curahan atau penghibur hati. “Pertanyaannya bukanlah untuk memperdebatkan apakah puisi feminin ada atau tidak. Pertanyaan adalah memberi tempat, melalui sejarah, bagi andil perempuan-perempuan penyair dan keberadaan mereka yang patut diperhitungkan pada karya-karya kontemporer,” ujarnya.

Berbeda dengan perayaan Musim Semi Penyair pada tahun-tahun sebelumnya, Alliance Fran?aise Denpasar kali ini juga akan menerbitkan sebuah antologi puisi dwi-bahasa yang memuat karya-karya penyair Prancis dan Indonesia, khususnya Bali, terpilih, yang bertajuk Couleur Femme. Buku itu rencananya akan diluncurkan secara simbolis pada Sabtu besok.

Para penulis Bali yang karyanya tergabung dalam buku puisi tersebut rata-rata para penyair muda, antara lain, Pranita Dewi, Muda Wijaya, Putu Vivi Lestari, Wayan Sunarta, Surya Kencana, Ni Ketut Sudiani, Ni Made Purnamasari, Ni Made Frischa Aswarini, Ni Putu Rastiti, Moch Satrio Welang, Putu Nopi Suardani, dan Istiko Rahadi.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *