Pohon

Maroeli Simbolon
sinarharapan.co.id

KONON. Tersebutlah desa yang indah permai. Namanya termasyur di jagat raya. Keindahannya adalah taman impian.

Desa ini dibatasi dua sungai yang bening; tempat ikan dan udang menari. Keramahtamahan penduduknya, wah, tiada banding, tiada tanding: saling menolong dan tepo saliro. Bahkan angin merasa berdosa jika tidak mengabarkannya. Maka tak mengherankan bila dunia selalu membicarakannya. Continue reading “Pohon”

Sang Aktor

Gerson Poyk
http://www.sinarharapan.co.id/

Tidak disangka, ada juga sebuah teater nasional di ibu kota Afghanistan. Sangat prihatin melihat puing gedung teater nasional itu lewat televisi. Setelah batara perang lenyap, para aktor dan aktris, para penyanyi dan pemusik mulai manggung. Terharu melihat mereka manggung di puing gedung teater itu. Di masa batara perang berkuasa kesenian tidak mati, kecuali menyelam, menyembunyikan diri dan ketika badai berlalu, kesenian timbul dari dasar persembunyiannya. Continue reading “Sang Aktor”

Sastra Melayu Singapura Pasca-Masuri

Viddy AD Daery
http://www.infoanda.com/Republika

Baru-baru ini DKJ bekerjasama dengan Dewan Kesenian Sumsel menyelenggarakan Festival Puisi Internasional 2006 di Palembang dan Jakarta. Konon acara besar itu kurang mendapat sambutan penonton. Tapi itu tentu masalah publikasi dan hal-hal di luar sastra.

Dalam hal sastra, yang banyak dituju oleh Agus R Sarjono –sebagai Ketua Panitia– justru lebih kepada pengenalan lebih lanjut sikon sastra dunia, terutama sastra negeri tetangga. Continue reading “Sastra Melayu Singapura Pasca-Masuri”

Mimpi sang Raja

Sunaryono Basuki Ks
http://www.sinarharapan.co.id/

Sang Raja terbangun dari mimpinya yang lucu: tujuh ekor ikan teri memakan tujuh ekor ikan paus, dan tujuh orang anak kecil masing-masing memakan gunung, memakan hutan belantara, memakan danau, memakan tanah, memakan jalan dan jembatan, memakan gedung-gedung bertingkat tempat bercokolnya bank besar, dan memakan kertas-kertas bergambar George Washington. Continue reading “Mimpi sang Raja”

Pertanyaan untuk Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra Indonesia

Maman S. Mahayana
Pewawancara: Dony P. Herwanto

Kembali ke Akar Tradisi

Di sini (Korea.red) sudah jam sembilan malam Don. Begitu jawab Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra Indonesia ketika wartawan Jurnal Bogor, Dony P. Herwanto menyapanya lewat jaringan pertemanan Facebook (FB). Maman yang tercatat sebagai warga Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor itu, kini tinggal di Korea. Continue reading “Pertanyaan untuk Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra Indonesia”

Bahasa ยป