Sajak “Kesepian” Friedrich Nietzsche

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=586

Sebelum menyusuri puisi Nietzsche yang bertitel “Kesepian” dari buku “Malam Biru Di Berlin,” terjemahan Berthold Damshauser dan Ramadhan K.H. 1989. Terlebih dahulu, aku kan kembarai kesanku padanya.

Setidaknya aku punya dua buku karangannya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Jilidannya telah rusak, yang aku rekatkan dengan memaku, tidak menggunakan lem perekat. Demikian kelakuanku pada buku-buku yang kerap kubaca sampai tercerai, aku benahi seperti tukang kursi; Sabda Zarathustra, Ecce Homo.

Sedang dua lainnya; Lahirnya Tragedi dan Senjakala Berlaha serta Anti Krist, hampir-hampir ludes, tetapi belum aku paku. Aku kira, dari empat bukunya diri ini terbebani, maka kan kucoba menanggalkan beratnya. Atau jangan-jangan kini terasa ringan, berjinjit pun jadi.

Nietzsche, insan paling bergairah yang pernah kutemui, jika tak pantas menyebutnya sangat bernafsu. Jiwanya meledak-ledak seakan di atas kobaran bara, tidak sebentar pun duduk tenang. Seumpama derasnya gelombang menghajar tanjung karang, nilai dikira orang mapan, ia sebut berhala-berhala.

Ia tak dapat ditaklukkan kecuali insaf sendiri, ombak selalu membaur menanggulangi kekeroposan, kelembekan diri; mental-mental mencipta kelayakan lalu, terserang badai keluputan digerusnya habis. Dirinya ingin senantisa waras, serupa timbangan tidak pernah berhenti bergoyang.

Aku yang pernah terinfeksi Zarathustra-nya hampir setahun, selebihnya mengawang, sewaktu di kontrakan Gedong Kuning Yogyakarta sampai kembali ke tanah kelahiran. Untung mendapati penyeimbang atas karya Ibnu Attaillah, bertitel Al-Hikam. Kalau takdirku tak perdalam ulang sambil menyusuri daerah terpencil Watucongol, Magelang, mungkin sudah tak normal seperti dirinya, yang ditimpakan banyak orang.

Friedrich Wilhelm Nietzsche (15 Oktober 1844 ? 25 Agustus 1900) menyebut pribadinya bukan hantu, tapi bagiku dengan itu ingin menjelma hantu gentayangan melampau milenium di depan. Menjegal nilai-nilai semu pemanis buatan, mengolok-olok pengkhotbah bermodal gincu pun sorban. Ialah benar-benar hantu memiliki jasad utuh, selayaknya ajaran Karl Marx (1818?1883), yang menaungi kepala-kepala para pengikutnya.

Sejenis bisul di tubuh filsafat, pula di lapangan sastra manja grup. Ia mengetahui kemandekan nilai dielus-elus pengikutnya kian mengkilap, berdampak mengumpulnya darah kotor fikiran usang tak dapat difungsikan, otomatis pemberontakan datang:

Terbitlah Jean Paul Sartre (1905-1980), oleh kakek buyut perlawanan Voltaire (1694-1778). Di sebelahnya bermunculan para filsuf dan sastrawan kemayu, yang berperang dengan para pendatang beringas.

Nama Nietzsche termasuk sering disebut sebagai momok barangkali dirindu, apalagi tatkala berbicara soal ?tuhan telah mati.? Bagiku karya yang berhasil sejenis Sabda Zarathustra, tak sekadar berkhotbah, menghasut, apalagi berindah-indah. Namun mampu menggerakkan organ lain menyusup ke balik jiwa pembaca, sampai batas-batas diinginkan dan diketahui.

Aku tersadar perkataan pelukis Picasso, dari ingatan Christian Zervos (1889-1970), bahwa “…tiada lebih berbahaya daripada keadilan di tangan para hakim dan kuas-kuas untuk melukiskan di tangan pelukis! Bayangkan saja bahayanya bagi masyarakat.”

Maka sungguh berbahaya kata-kata penyair pun filsuf disalah tafsirkan, apalagi sengaja dibengkokkan demi nafas kesia-siaan; membuat penilaian yang didasari kata-katanya semata, tidak dilandasi pergolakan sejarah di dalam kisaran pelakunya.

Kesetiaannya mengurbankan diri membekas tampak cekung pada batuan pualam kehidupan. Laksana letak bersilanya Pangeran Sambernyowo di atas ketinggian Gunung Gambar, yang di bawahnya jurang terlukis peta pergerakannya kabut konflik kota Surakarta.

Tabah mengerami sakit fisik pun psikis, dilarung ombak ke tengah samudra kebebasan memahami gelora hidup naik turun. Berharap unggul selapisan air tertinggi dekat cahaya surya, yang menghantarkan kapal menuju pantai makna. Selepas melayari teka-teki menyerat langkah lincah, pula di kedalaman jiwanya, terdapat pembaharuan terus-menerus.

Ketakpuasan rahim lautan, bersimpan ikan-ikan besar dan ribuan ikan kecil berlomba memakmurkan fikiran. Atau batu-batu bergolak di kedalaman gunung berapi demi diledakkan, jikalau purna kekangan rindu terdalam, hingga tercipta danau kemakmuran, membangkitkan bibit ditiupkan bayu perubahan.

Teks-teks bersenggama menghayati gejolak jaman, membawa pencerahan sejauh kemampuan sudah dicapai. Ini berkembang sedapat pengikutnya mampu memahami, menyusupi bebenang halus tak sekadar mengikat, namun juga menawan, lagi nikmat bagi lambung kemanusiaan. Dan marilah kita simak puisinya:

KESEPIAN
Friedrich Nietzsche

Burung-burung gagak berteriak
Dan terbang ke kota dengan mengumbang:
Salju akan turun segera-
Bahagialah dia yang kini masih -berkampung halaman!

Kini kau berdiri kaku,
Menengok ke belakang, ah! betapa lama sudah!
Mengapa kau yang tolol
Karena musim dingin ke dunia -larikan diri?

Dunia itu pintu gerbang
Ke seribu gurun bisu dan dingin!
Yang kehilangan,
Yang kau kehilangan, takkan berhenti di mana pun jua.

Kini kau berdiri pucat,
Terkutuk untuk ngembarai musim salju,
Bagaikan asap,
Yang mencari langit yang lebih dingin selalu.

Terbanglah, burung, berkoak
Lagumu dalam nada-burung-gurun!-
Umpetkanlah, kau yang tolol itu,
Hatimu yang berdarah di dalam es dan ejekan!

Burung-burung gagak berteriak
Dan terbang ke kota dengan mengumbang:
Salju akan turun segera
Celakalah dia yang tak berkampung halaman!
***

Kini izinkan diriku menafsirinya, sadaplah penuh gairah:

I
Kesepian meluncur beringas, menderas. Gema suaranya terpendam dalam, mendobrak, mengaduk ruang angkasa bersegenap kandungan diuntahkan keluar. Kesunyian tradisi tertimbun masa-masa berlesatan. Mulai bergerak menolak yang membebani selama ini. Jiwa terus bergolak, bayang-bayang suram menguntit dari belakang; sejarah bersegala kenangan diruapinya, bagaikan abu memberkah ditaburkan.

Atau dari pedalaman purba menuju kota sesak suara masing-masing, hingga tak mampu membedakan. Di sana hawa dingin terkucil, dihimpit-hincit kebisuan terbungkam keganjilan tidak sepadang yang dirasai di tengah jalan. Ia merindu berkeringat menggigil, kilatan cahaya silam menyodok dadanya, terkepak kembali sayap-sayapnya berkembang mendapati sang surya:

Merekah memenuhi detak jantung dalam tabung rencana. Terdedah ingatan ke tanah-tanah menerbangkan debu, batu-batu menunggu waktu kesendirian pilu. Padanya ia serahkan segenap kemampaun berbalik mencium hawa sedap malam. Siang menerawang putih, dalam pekat peroleh yang abadi, yakni keyakinan.

II
Pemberontakan hadir dari kelambanan, terbodohi lupa menguliti nasib. Lalu kesadaran menegak, bayu berbondong kekuatan, selepas menyusup melalui lubang pori-pori. Angan lampau terhitung, jengkal demi jengkal lahir pengungkapan. Terbukalah hijab musim cibiran, cuaca makian. Ditelan berat berlari, meninju kebobrokan menekan diri matang sasaran.

Yang memberi umpan dipukuli keculasan, dihincit kekuasaan, tapi betapa arang bersimpan bara masa silam. Kedunguan imbas ketidaksepadanan, atau di sana terjerumus sendiri. Segenap daya patah arang menugel was-was, membeludak kesungguhan dari kewaspadaan terus berlipat kedewasaan. Digerusnya kepicikan, dilumat keegoisan dihadapan muka penghinaan.

Nietzsche mempertanyakan dirinya di hadapan malam kelabu, fajar abu-abu, siang kelawu, senjakala merah memenggal berhala. Nilai-nilai diaduk memudar bagai pesulap di balik layar. Pun terangnya pujian berbalas cermin pantulan, oleh kaki lincah penggoda, hanyut dalam tanya bersimpan kutukan.

III
Dunia berpintu-pintu menjulur ke alam nun jauh, ke pohon-pohon sekarat ditinggalkan ide besar hidup. Akarnya kering tercerabut meranggas penuh debu api sunyi, nafas satu-satu atau dua-dua menekan. Betapa dingin melebihi abad kebisuan, penasaran menghantui tapak kaki kembara, hingga berdarah tidak dirasai. Yang diperoleh di jalan digembolnya tak terlepas, memadatkan keyakinan itu, segumpal es terpegang panasnya.

Yang terlepas selalu was-was, seperti bunga tumbuh di awan dari kisah sang ayah, bersama turunnya hujan anak menangis. Disentak sebuah takdir besar perpisahan seluruh kepemilikan, yakni perasaan. Begitulah ia dijangkiti nilai pencarian, linglung di tengah-tengah kebisuan, akan hasrat senantiasa meremaja.

IV
Yang berdiri pucat dari kutukan musim pencarian di depan pintu, terlihat jalan tertimbun longsoran salju. Hukum tak dapat dikendalikan, tidak dikenali, kecuali maknawi nasib buruk menimpa. Diringkus kebuntuan murung, tiada cahaya panas melelehkan, beku tarikan selain gumpalan menghitam.

Yang terpaksa keluar menerobos gundukan salju dengan jaket tipis. Atau keyakinannya terkelupas lembar demi lembar bolak balik terjaruh. Daging amarah belum beralamat, memudarkan warna pesona pribadi. Sampai suatu kali, nafas kembang-kempis dilayangkan ke akhir tiada tertandai kebugaran.

Ranting sekarat tenggorokannya panas membuat tak waras. Dicarinya batu-batu digesekkan demi hadirnya secerna nafas, percikan api secepat lumatan asap tipis melesat. Entah putus asa atau kesungguhan akhir, doa-doa atau umpatan. Jelasnya lebih dalam dari maut, lebih kejam dari yang dirasai, pilu dari waktu-waktu meninggalkannya. Makin dingin di pucuk-pucuk sekarat, harapannya tetap bernafas di jepitan padat, jeritan melesak ke dada, ceruk paling dalam bersimpan batu mulia.

V
Nilai-nilai padatan nafas udara sesak menggelinjak, hasrat tertumpas dikeluarkan mulut bertenaga. Lengkingan suara serak berteriak dari kesepian menyayat. Kepakkan seluruh sayap kemauan menghardik situasi dilesatkan. Ingatan keras bertumpuk, dalam lawatannya membangun yang digandrungi.

Zarathustra menjadi alamat, seluruh tubuhnya dipancari hasana pembeda; umpatan pada kekerdilan, pembusukan, nilai mandul pembodohan, taklid buta, hamba kebenaran yang mandek serupa sungai tak lagi mengalir, mengempis airnya oleh perubahan jaman, tinggal selokan.

Mencaci maki kelembekan atas keterlambatan terlalu, dengan memeras rasa malu. Usaha kritik diri hingga berdarah dalam membekukan renungan kecewa. Mengejek sifat pecundang yang memperbesar keadaan pada lingkaran sama ketololan.

Nietzsche mengupas keseriusan sekaligus tertawa. Memuncratkan tangis gembira, haru yang mewah, sesudah membenamkan diri dalam cacian menguliti kebodohan. Musik beringas memberedeli capaian kemayu bertenaga dendam, di atas kecintaannya kepada tanah air. Senada alunan komponis Mussorgsky (1839-1881) dalam komposisinya ?Night On Bald Mountain? yang memorat-maritkan tradisi klasik sebelumnya.

VI
Ialah kawanan burung hitam berteriak lantang. Melabrak gemawan mengacaukan musim berganti selepas memasuki situasi. Mematahkan nilai-nilai sekaruan hasratnya tertinggi, memurnikan bijian insani demi memimpin diri paling pribadi:

Telinga purna tersumbat kasih sayang, mata tajam dipejamkan kecemburuan dalam. Alam di balik kesadaran bangkit, tarian lumrah jelma peperangan. Tekukan lembut bersimpan belati maut. Kegusaran hebat menampilkan canda, dan ketentuan jadi permainannya.

Bagi ketahui alamat diberi kecupan, itu kemungkinan sepadan. Sesudah terlupa dirasai, kegetiran menamatkan pemahaman. Atau rindu tanah dijanjikan, bathin mendamaikan persoalan matang, musik pemberontakan bebas dari kesepian, menuju kesunyian sebening binaran cahaya. Sesantun pendapat tidak mengeruk pendapatan, kecuali kekekalan agung bagi semua. Di sana terus diperbaharui, kalau tak ingin celaka dalam kebisuan yang tidak punya maksud kedalaman.

Yang meraba diberi kejelian pandang, tiada lekang jutaan perubahan, punya musik tersendiri dan selalu menghantui. Berteduh di awang-awang menebarkan jala kemungkinan, sedari maksud baik sebagaimana kepulangan.

9 September 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*