Spirit Nasionalisme untuk Kemerdekaan

Peresensi: Siti Muyassarotul Hafidzoh*
http://oase.kompas.com/
Judul buku : Al-Afghani and Ahmad Khan on Imprealism
Penulis : Yudian Wahyudi
Penerbit : Pesantren Nawesea Press Yogyakarta
Tahun : 1, 2010
Tebal : 44 halaman

Nasionalisme menjadi narasi besar bangsa Asia untuk keluar dari jebakan imprealisme. Spirit nasionalisme menggerakkan etos perjuangan merebut kedaualatan bangsa dari jerat penjajahan. Bukan saja bangsa Indonesia yang lahir sebagai bangsa merdeka lewat gemuruh nasionalisme, melainkan hampir semua bangsa Asia dan Afrika yang pernah terjajah oleh kolonialisasi Barat pada abad yang lampau. Kemerdekaan yang diraih Indonesia bersamaan dengan kemerdekaan yang diraih India dan Pakistan. Kedua negara ini menyegarkan perjuangannya lewat spirit nasionalisme yang tinggi. Sama dengan yang dijalani Indonesia, nasioalisme bergemuruh menjadi spirit perjuangan.

Negara-negara Islam bekas jajahan Barat mengobarkan semangat nasionalisme untuk meraih indepedensi (kemerdekaan). Spirit perjuangan yang melandasi gerak langkah negara-negara Islam bukan saja spirit nasionalisme apa adanya, tetapi nasionalisme yang diisi dengan semangat keagamaan. Ajaran agama menjadi media sangat strategis mengobarkan semangat perjuangan. Tidak sedikit resolusi jihad dikumandangkan untuk mendongkrak gerak perjuangan dalam melawan penjajah. Bukan saja Indonesia yang gelisah dengan jerat imprealisme, tetapi negara-negara lain juga mengabarkan kisah yang sama.

Buku bertajuk ?Al-Afghani and Ahmad Khan on Imprealism? memberikan potret perjuangan dua pemikir Muslim asal Pakistan dan India yang begitu bersemangat menjadikan ruh keagamaan sebagai landasan perjuangan menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan. Al-Afghani dikenal sebagai pemikir asal Pakistan yang mempopulerkan gerakan Pan-Islamisme, yang mengimpikan seluruh negara Islam bersatu menegakkan panji-panji Islam yang tidak terkungkung oleh penjajah Barat. Ide-ide kreatif Al-Afghani ternyata bukan berkembnang di negaranya sendiri, melainkan menjadi buah pemikiran umat Islam sedunia lewat pintu Turki, negara Islam yang saat itu masih memegang kendali politik yang begitu besar di Timur Tengah. Lewat majalahnya ?Urwatul Wutsqo? bersama pengikut-pengikutnya menggerakkan dinamisasi umat Islam menuju bangsa maju yang beradab, tidak terkekang oleh belenggu kolonial.

Demikian juga yang dilakukan Ahmad Khon, tokoh nasionalis asal India, yang tidak mau menggerakkan semangat perjuangan hanya dengan modal kebangsaan saja, tetapi juga menyulutkan nilai agama sebagai basis gerakan melawan ketidakadilan. Walaupun ide-idenya tidak semewah Al-Afgani, tetapi Ahmad Khon mampu membangkitkan semangat perjuangan bangsanya, khususnya umat Islam, untuk bengakit mengejar ketertinggalan dan melepaskan diri dari belenggu kolonialisasi. Ketertinggalan haruslah dikejar, karena ketertinggalan akan membuat umat Islam semakin mundur dan terbelakang. Dengan semangat membela kemajuan, Ahmad Khon selalu mengupayakan terwujudnya gerak ijtihad agar pemikiran umat Islam semakin maju dan beradab.

Semangat perjuangan melawan kolonial yang digagas kedua pemikir diatas ditelaah lebih kritis oleh Prof Yudian dengan analisis islamic legal philosopy. Bahwa perjuangan membela negara sebenarnya merupakan perjuangan membela agama (al-din), rasio-pemikiran (al-?aql), harta kekayaan (al-mal), jiwa (al-nafs), dan keturunan (al-nasl). Kelima hal ini menjadi prioritas utama yang harus dijaga manusia dari apapun juga yang bisa merusaknya. Menjaga kelima hal tersebut hukumnya wajib. Dasar ini kemudian dijadikan landasan menggerakkan nasionalisme untuk berjuang membela kelima hal dasar tersebut, dan akhirnya umat Islam begitu bergemuruh memperjuangkan kemerdekaan negara. Berkat spirit kelima hal tersebut itulah, Al-Afghani dan Ahmad Khon menjadikan spirit agama sebagai basis gerakan nasionalisme. Walaupun keduanya memang berbeda area dalam peta perjuangan, tetapi titik temu perjuangan keduanya tidaklah jauh berbeda.

Spirit nilai agama dalam menggerakkan nasionalisme untuk meraih kemerdekaan menjadi pelajaran penting bangsa Asia dalam menggerakkan kembali perusahan sosial masyarakat pada awal abad ke-21 saat ini. Terjadinya berbagai perkembangan teknologi mutakhir menjadikan standar hidup semakin kabur, bahkan kawan dan lawan sudah tidak bisa ditebak lagi. Semua berjalan penuh kaitan yang sangat erat dan sinergis. Perjuangan yang didasarkan dengan keyakinan akan beragama menjadikan perjuangan tersebut terasa sebagai surga yang sedang dijalani dengan begitu nikmatnya.

Ijtihad pemikiran dan gerakan yang dicontohkan kedua pemikir ini menjadi kaca benggala buat bangsa Indonesia untuk menata kembali tatanan sosial kebangsaan di tengah pluralitas kehidupan yang terjadi. Bukan nilai agama saja yang bisa menggerakkan semangat nasionalisme, apapun bisa, yang penting tetap menegakkan prinsip yang sedang diperjuangkan. Prinsip itulah yang akan diterus dipegang sebagai amanat kehidupan yang akan dipertanggungjawabkan. Yudian memaparkan semua itu sebagai wujud membela nasionalisme lewat kekuatan pena. Pena yang diangkat Yudian dijadikan sebagai obor perjuangan menegakkan kemerdekaan.

*Peneliti Center for Developing Islamic Education (CDIE) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *