Budi Darma dan Kritik Sastra Modern

Restoe Prawironegoro Ibrahim
lampungpost.com

Hingga sekarang ini, kritik sastra Indonesia masih banyak menerima dampratan. Baik dari para kritisi sendiri maupun budayawan. Dan dampratan itu selalu menonjolkan, meskipun dengan segala argumentasi yang kadang masih harus di pertanggungjawabkan kebenarannya.

YA, itulah kondisi sastra Indonesia. Tak ubahnya seperti kata orang; “Sastra merupakan dunia jungkir balik”, demikian yang tertulis dalam buku Solilokui, karya Budi Darma.

Sebenarnya kumpulan esai sastra Budi Darma tersebut bermula dari permintaan Pamusuk Eneste. Dan karya esai sastra itu sendiri ada yang dari majalah, surat kabar, maupun ceramah, bahkan ada pula yang dari sastra catatan pribadi. Dan bagi pengarangnya mengadakan perubahan kadang-kadang mudah, kadang-kadang tidak. Bahkan kadang-kadang mengadakan perubahan merupakan perjuangan tersendiri. Sebagaimana halnya bentuk sastra yang lain, seperti novel, cerita pendek, dan puisi, esai juga merupakan organisme hidup. Hakiki esai sebagai organisme hidup menyebabkan semua perubahan dapat dikenakan pada esai, demikian Budi Darma sendiri dalam mengomentari Solilokui sebagai uji coba. Uji coba demikian pada hakikatnya merupakan Solilokui. Dan memang saya merasa bahwa berkelebatnya sekian banyak kata dalam kumpulan esai ini tidak lain dan tidak bukan merupakan percakapan dengan diri sendiri melalui bermacam cara dan bentuk.

Dan perlu digarisbawahi kumpulan esai sastra: Solilokui sebenarnya ditulis sejak tahun 1969. Namun, kesemuanya memiliki ciri yang sama; ia ditulis dengan gaya yang lekas, kritis, serta dengan wawasan sastra yang luas.

Fenomena

Mengusik masalah takdir ternyata kita selalu merumitkan persoalan yang mandiri. Meskipun sebenarnya takdir itu sendiri merupakan fenomena manusia dalam bagian terkecil kehidupannya. Tetapi menyangkut dari keotoritasnya sebagai suatu manusia yang utuh, ternyata hal itu dibutuhkan. Dan otoritas itu tidak hanya berhenti pada suatu bidang, akan tetapi dalam segala hal persoalan hidup.

Begitu pula pada kemanusiaan seorang pengarang. Ternyata sebuah pengakuan lebih berarti. Karena semuanya menjadi jelas dan terbuka. Bahwa menjadi pengarang juga merupakan pilihan, dan pilihan itu ternyata bermula dari takdir. Demikian pula apa yang dikisahkan oleh Budi Darma dalam Pengakuan, “Saya menjadi pengarang karena takdir. Bakat, kemauan, dan kesempatan menulis hanyalah rangkaian pernyataan takdir. Bahkan hambatan untuk menulis, dalam bentuk apa pun, juga tidak lepas dari takdir. Dan sebagai seseorang yang memercayai kekuasaan takdir, mau tidak mau saya menundukkan kepala kepadanya.”

Budi Darma sebagai seorang pengarang yang baik, ia bermula dari suatu ikatan, yaitu percaya pada takdir. Dan takdir merupakan belenggu setiap manusia dalam predikat menyandang gelar maupun kemandirian manusia. Dan anggapan bahwa takdir merupakan suatu ujud ternyata benar. Itu pun dilontarkan oleh pengarang pada setiap karya. Malah takdir sendiri merupakan ancaman yang terberat bagi seseorang.

“Meskipun saya tidak mempunyai hak untuk mempertanyakan takdir mau tidak mau saya sering berpikir mengapa saya menulis. Saya merasa ada sesuatu dalam diri saya yang memaksa saya untuk menulis. Saya tahu bahwa saya tidak dapat mengelakkan paksaan ini. Saya juga merasa bahwa tanpa menulis saya menjadi manusia tidak bermanfaat. Sebab itulah, tanpa menulis saya merasa berdosa.”

Ternyata takdir tidak hanya berhenti pada angan-angan, atau semacam cita-cita, tetapi ia selalu mengusik dan menuntut. Dari tuntutan itulah manusia bergerak maju dan memainkan dalam menunaikan tugas sebagai takdir yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Esa. Demikian juga apa yang dirasakan oleh Budi Darma sebagai pengarang cerita pendek, novel, serta bekerja sebagai dosen. Dan pengakuan merupakan tabir kepengarangan. Budi Darma pada saat itu dan sekarang.

Kritikisme Sastra Modern

Sumber karangan yang terhimpun dalam Solilokui, esai sastra Budi Darma, ternyata bermula dari sepengakuan. Dan diakhiri dengan Sastra Merupakan Dunia Jungkir Balik. Di samping itu, Budi Darma juga mengikut sertakan catatan pribadi; Sebuah Surat untuk Harsy Avelling. Selebihnya ada yang pernah dimuat di Kompas, Horison, dan sejenisnya dalam bentuk paper pembahasan. Kesemuanya ditulis dengan gaya yang sama, persoalan yang sama, dengan sikap yang sama, dan lain-lain yang juga sama.

Dalam penulisan Budi Darma mengenai kritik sastra Indonesia, kadangkala ia menunjukkan sikap satire yang tak kepalang tanggung. Ada pula ia memberi kesan bahwa sastra Indonesia masih dalam persimpangan jalan. Seperti apa yang dikatakan Budi Darma dalam Fungsi Jurusan Sastra Indonesia dalam Pengembangan Sastra Indonesia Tidak Mempunyai Wawasan Sastra, kira-kira demikian.

Pertama, kurang mempunyai kepekaan apresiasi dan daya kritik, dan karena itu kurang mempunyai pendapat mengenai sastra. Kedua, menganggap membaca karya sastra, kritik sastra segala sesuatu yang berhubungan dengan sastra sebagai beban, dan karena ia itu acuh terhadap perkembangan sastra.

Tinjauan Budi Darma dalam masalah sastra yang dianggapnya tidak mempunyai wawasan, ternyata tidak luput dari dugaan para kritisi sastra. Sebab itu, semua berkaitan penuh dengan apa yang kita namakan “kreativitas”. Dan juga Budi Darma menilik kreativitas dari segala penjuru. “Yang lebih perlu baginya adalah persis yang dapat melahirkan kreativitas. Proses ini panjang. Dalam prosesnya ini dia tidak diam, atau hidup tidak karuan, serta eksentrik, akan tetapi bekerja keras,” demikian bagi Leonardo Da Vinci. Saat-saat kreativitas itu sendiri tidak begitu perlu.

Memang banyak hal bahwa bekerja keras merupakan sesuatu hasil dari proses kreativitas. Juga apa yang pernah ditulis Subagio Sastro Wardoyo, Bakat Alam dan Intelektualisme. Banyak mengupas masalah kreativitas dalam kaitan dengan proses menjadi intelektual. Nah, di sini sebagai seorang kritisi sastra yang peka, maka Budi Darma mempersoalkannya. Bukan karena ia sinis terhadap banyak bermunculan karya sastra, maupun kritik sastra, melainkan pola hidup seorang sastrawan itu harus mengetahui waktu, ruang serta kedisiplinan. Di samping itu, juga bakat kurang lebih 10% yang dibutuhkan.

Dari gambaran inilah, maka esai sastra Solilokui karya Budi Darma banyak menampilkan perihal mengenai sastra, terutama pada kritik sastra Indonesia sendiri. Salah satu cuplikan: “Format buku yang dicetak memaksa beberapa bagian yang seharusnya tercetak menjadi tidak tercetak. Eliot berusaha mengubah formatnya, supaya semua bagian yang akan diterbitkannya tidak terpotong. Pound mengatakan biarkan terpotong begitu saja. Eliot menurut. Maka terbitlah The Waste Larnd yang tidak sama dengan semula dikehendaki penyairnya sendiri. Dan semua semula dikehendaki orang mengakui The Last Waste Larnd bukan karya sembarangan dalam sastra dunia. Penulisan karya sastra dapat terjadi semacam itu. Apakah sastra merupakan dunia jungkir balik??

Kejadian semacam ini bagi pengarang Budi Darma merupakan suatu persoalan dalam sastra. Dan terutama apakah sastra yang demikian, yang terencana dari semula, kemudian terjadi dari keadaan yang semula menjadikan karya sastra besar. Dengan pikiran yang “sah” Budi Darma mempertanyakan kreativitas sastra, dari sastra merupakan dunia jungkir balik ; mungkin juga sastra menjadi besar karena “takdir”-nya melewati manusia dan pekerja kreatif sastrawannya sendiri.

Restoe Prawironegoro Ibrahim, sastrawan, Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *