Danarto, “Haji Itu Perlu Dorongan Spiritual Yang Kuat”

Wawancara ini juga dimuat dalam Majalah MataAir edisi 18 “Banyak Jalan Menuju Makkah”
http://www.gusmus.net

Siapa yang tidak kenal Danarto. Budayawan gaek dan penulis buku “Orang Jawa Naik Haji” ini dilahirkan pada tanggal 27 Juni 1941 di Sragen, Jawa Tengah. Kali ini, Danarto akan mengisahkan pengalamannya berhaji serta berbagai pendapat dan ungkapannya tentang fenomena unik ibadah haji kepada anda.

Ayahnya bernama Jakio Harjodinomo, seorang mandor pabrik gula. Ibunya bernama Siti Aminah, pedagang batik kecil-kecilan di pasar. Setelah menamatkan pendidikannya di sekolah dasar (SD), ia melanjutkan pelajarannya ke sekolah menengah pertama (SMP). Kemudian, ia meneruskan sekolahnya di sekolah menengah atas (SMA) bagian Sastra di Solo. Pada tahun 1958?1961, ia belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta jurusan seni lukis.

Danarto aktif mengamati dan menulis tentang sufisme. Sedari belia, Danarto sudah punya pengalaman menulis cerita pendek, melukis, menyair, menyutradarai teater dan menjadi penata artistik. Kumpulan cerpennya, Godlob (1975) sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Abracadabra oleh Harry Aveling, pengamat sastra Indonesia dari Australia. Beberapa cerpennya diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan Belanda. Kumpulan cerpennya yang lain, Adam Ma’rifat, memenangkan hadiah sastra pada tahun 1982, Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama tahun 1982. Burton Raffel, pengamat sastra dari Amerika, sampai-sampai mengomentarinya dalam The Asian Wall Street Journal, 28 Februari 1980.

Mantan anggota inti Sanggarbambu ini pernah menjadi dosen Institut Kesenian Jakarta selama 11 tahun dan wartawan majalah Zaman selama 6 tahun. Pada tahun 1983, ia menunaikan ibadah haji dan menghasilkan sebuah laporan perjalanan yang kemudian diterbitkan PT Pustaka Grafiti Pers, Jakarta dengan judul “Orang Jawa Naik Haji”. Danarto juga pernah bergabung dengan teater Sardono yang tampil di Eropa Barat dan Asia tahun 1974. Di samping berpameran “Kanvas Kosong” (1973), ia juga berpameran puisi konkret (1978).

MataAir mewancarainya seputar pengalaman haji dalam sebuah pertemuan sore hari di Mal Pondok Indah. Berikut wawancara selengkapnya.

Masyarakat kita kok kayaknya hasrat berhaji tidak pernah luntur. Bagaimana menurut Anda?

Semangat untuk berhaji masyarakat kita memang tidak ada kendornya, karena keimanan yang tinggi. Setiap jamaah calon haji maupun yang sudah berhaji merasakan bahwa untuk menunaikan ibadah haji membutuhkan suatu dorongan spiritual yang kuat, dan dorongan spiritual itu selalu dipunyai oleh para jemaah calon haji.

Anda pernah menulis buku Orang Jawa Naik Haji. Apa Anda memang ingin mengungkap sesuatu yang unik dari ibadah haji?

Buku Orang Jawa Naik Haji yang saya tulis itu judulnya itu bukan dari saya, tapi dari ide Gunawan Muhammad. Judul itu membuat buku itu laku. Sebenarnya, tidak ada sesuatu yang istimewa dalam pergi haji bagi masyarakat manapun. Tetapi, ketika orang Jawa dicantumkan dalam judul buku itu, orang jadi kepingin baca. Memang ada karakter Jawa dalam buku itu yang berbeda dengan suku-suku lain. Misalnya, saya bisa berhaji apa adanya, secara santai dan kemampuan pasrah yang mutlak..

Konon, seperti Sultan Hamengkubono IX tidak mau berhaji. Apa lantaran ada kepercayaan dalam budaya Jawa yang memandang sinis haji?

Mungkin tidak hanya bagi Sri Sultan Hamengkubono IX, orang kayak Emha Ainun Najib juga tidak mau berhaji. Barangkali begini. Bagi Sri Sultan, berhaji itu merupakan satu kemewahan, sehingga bertentangan dengan sifat-sifat kerakyatan Sultan. Sedang, bagi Emha, barangkali berhaji itu akan menimbulkan kedudukan status sosial yang rancu. Artinya, orang tidak bisa begitu saja dipandang sebagai saudara, apalagi kemudian dengan embel-embel haji, orang jadi punya pamrih yang mendalam.

Dalam haji, bagaimana menyelaraskan ritual dzahir dengan yang spiritual?

Pergi haji itu pertama-tama adalah iman, kemudian kepasrahan serta harapan akan dicapainya suatu kondisi spiritual yang bisa memuaskan. Ketika saya pergi haji, saya tidak mendapatkan suatu sambutan yang ramah. Saya selalu mendapatkan kesukaran dan kendala. Meskipun demikian, karena kepasrahan yang tinggi, kendala itu saya anggap ringan saja.

Maksud kendala dan kesulitan itu apa?

Artinya, kedudukan pembimbing itu tidak ada artinya apa-apa di Tanah Suci. Setiap jamaah punya problematika sendiri-sendiri. Berdasarkan watak dari jamaah itu sendiri, dan dari sini setiap jamaah mendapatkan pengalamannya sendiri-sendiri. Ada saja orang yang enggak mau berhaji lantaran takut dikerjain di Tanah Suci misalnya.

Ada kejadian unik?

Iya memang terjadi. Misalnya gini. Saya pernah terjebak kemacetan 14 jam di dalam bus, tanpa makanan dan minuman. Itu kan sesuatu yang mustahil. Tetapi, saya alami juga itu, karena ada kondisi yang memungkinkan kejadian itu menimpa tiap jamaah.

Jamaah lain juga merasakan. Banyak orang-orang tua yang lapar dan haus. Sementara, ada bayi yang tidur nyaman, tidak terganggu apa-apa. Jadi, betul-betul Tanah Suci itu beroperasi terhadap kejiwaan orang?perorang.

Calon haji harus mempersiapakan segala sesuatunya termasuk kehidupan rohani dan tindakan sehari-harinya. Ucapan, perilaku dan pikiran-pikirannya akan menentukan sepak terjang berhaji di Tanah Suci. Pendeknya, ada dua fakta, ada jamaah yang mendapat kesukaran berjam-jam dan ada jamaah yang tidak mendapatkan halangan apapun. Padahal, harinya sama, tempatnya sama dan ritualnya sama.

Ada yang sadar bahwa peristiwa itu imbas dari kehidupan rohaninya. Tetapi, ada yang tidak sadar bahwa kejadian itu betul-betul kesukaran yang bersifat fisikal semata, karena kecerobohan dari panitia haji.

Saya pergi haji itu tahun 1983. Kala itu, satu kamar yang luasnya sepuluh meter persegi bisa dihuni 50 jamaah dengan satu kamar mandi. Wah, sengsara betul tahun-tahun itu. Di atas tikar tempat tidur ada jemuran. Makanya, bukan tidak mungkin waktu tidur mukanya ketetesan air jemuran. Juga, antrian yang panjang dikamar mandi. Betul-betul ada kebodohan di sana. Ada jiwa yang mampat di sana yang mungkin bagi Emha pasti enggak bisa diterima sebagai ketololan.

Bagaimana saat Anda melihat Ka?bah?

Pertamakali, saya menatap Ka?bah saya merasa kaget sekali, ternyata Ka?bah begitu agung dan mempengaruhi kegiatan sehari-hari saya dalam melaksanakan rukun-rukun haji.

Bagaimana dengan haji eksekutif?

Haji eksekutif itu kan haji yang memenuhi standar sebagai pegawai negeri sipil atau suatu kedudukan dalam pemerintahan, sehingga mereka menganggap hal itu sebagai suatu tugas yang dibebankan oleh negara kepadanya. Dan jika tugas itu sudah terlaksana dengan baik, maka ya sudah cukup.

Pergi haji itu kan juga bermotivasi adanya kerinduan spiritual?

Ya bisa saja. Yah, rindu akan kekayaan spiritual yang bisa didapat dari pengalaman menunaikan ibadah haji. Sehingga, banyak orang kaya raya mau bersusah payah berhaji. Memang haji bisa dilakukan secara gampang. Misalnya, haji itu kan hanya satu syarat, yaitu wukuf di Arafah. Jadi, begitu mendarat di bandara Jeddah kita bisa langsung ke Arafah untuk wukuf dari pagi sampai sore. Sesudah itu, ya sudah haji. Walaupun tidak mengikuti rukun-rukun yang lain, misalnya lempar jumrah dan sebagainya.

Apa yang paling berat saat wukuf di Arafah?

Yang berat itu wukuf di Arafah dan juga melempar jumrah di Mina, karena harus melempar jumrah berkali-kali ditengah dua setengah juta umat Islam.

Dulu, haji bisa menjadi wahana meningkatkan semangat Pan Islamisme.

Dulu, saya kira bisa. Tetapi, sekarang tidak, karena masing-masing negara memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Misalnya, Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar di dunia yang sangat condong ke Barat. Kurang memperhatikan kepentingan-kepentingan rakyat Palestina misalnya. Mungkin, karena posisi Indonesia sekarang serba susah atau serba salah karena berpihak ke Barat. Tapi, kalau tidak berpihak pada Barat, bangsa ini mungkin tidak bisa berlangsung kehidupannya.

Pada saat menjalankan haji kira-kira pada momen ritual apa Anda merasakan kenikmatan spiritual?

Momen yang paling memuaskan secara spiritual bahwa saya bisa berhasil sampai ke Tanah Suci dengan uang tabungan yang diangsur sedikit demi sedikit. Ketika sampai di Tanah Suci, saya merasa bahwa ini suatu berkah yang sungguh di luar kemampuan saya sebenarnya.

Pandangan Anda tentang orang yang berhaji berkali-kali?

Mereka mungkin mendapatkan kepuasan spiritual dari ibadah haji. Walaupun, harus mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk berhaji lagi. Ada janji kedudukan spriritual yang bisa didapat dari Tanah Suci itu. Seandainya itu merupakan bentuk riya? atau sekedar hanya untuk gengsi, rasanya tidak mungkin dilaksanakan berkali-kali, karena akan bosan.

Kayaknya ada yang suda berhaji, tetapi kelakuannya tidak berubah?

Saya kira banyak. Pulang haji kelakuannya tidak berubah. Misalnya, tetap saja melakukan kejahatan. Tetapi, itu ya memang sesuatu yang terjadi secara lumrah. Mengingat bahwa bagi sebagian orang mungkin pergi haji merupakan suatu bentuk pencapaian cita-cita yang bersifat material-finansial. Sehingga, bagi dia tidak perlu ada perubahan atau jaminan spiritual yang bisa di dapat dari pergi haji itu.

Menurut Anda berhaji yang ideal itu bagaimana?

Berhaji yang ideal itu adalah yang dilandasi keimanan, keihklasan dan harapan. untuk mendapatkan kekuatan atau kekayaan spiritual.

Meningkatnya jumlah orang berhaji apa bisa jadi petunjuk bahwa spiritualitas masyarakat kita juga meningkat?

Bisa saja. Meningkatnya jumlah jamah haji itu menandakan juga meningkatnya kekayaan spiritual yang didapat dari Tanah Suci.

Haji diposisikan sebagai rukun Islam yang terakhir. Apakah ini berarti sebagai puncak pencapaian spiritual?

Iya. Haji merupakan gong di rukun Islam. Kalau ada yang tidak butuh pergi haji, barangkali mereka yang berpikiran hal itu menjadi sesuatu yang sangat memeras tenaga dan biaya.

Pesan-pesan Anda untuk mereka yang mau berhaji?

Yang paling penting adalah kehidupan sehari-hari harus ditata betul sebelum keberangkatan. Misalnya, cara berfikir, cara ngomong, cara bertindak sehari-hari yang itu akan mempengaruhi kelangsungan atau kelancaran berhaji di sana. Yah, ada istilah menjadi Muslim yang kaffah.. Sebenarnya, sampai kepada wudhu yang benar, berpakaian yang benar, hubungan antar sesama yang baik, itu semua akan sangat mempengaruhi kelancaran haji kita. (mz)

Sumber: http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=6&id=900

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*