Novel “The White Tiger” Harga Diri dan Praktek Korupsi

Jenis Buku: Novel
Judul : The White Tiger
Penulis : Aravind Adiga
Penerbit : Sheila, CV Adi Offset
Tahun penerbitan : 2010
Halaman : 360 hal + viii
Peresensi : Asti Musman
http://www.balipost.co.id/

MEMBACA novel The White Tiger yang ditulis peraih The Man Booker Prize, Aravind Adiga, kita akan dibawa pada perasaan sinis akan kondisi lingkungan dan masyarakat India. Lingkungan yang kumuh dan korupsi yang merajalela menjadi bagian hidup masyarakat Negara berkembang itu.

Novel ini ditulis dengan gaya bertutur lewat surat yang ditujukan pada Yang Mulia en Jiabao dengan alamat Kantor Perdana Menteri Beijing, Cina. Entah mengapa penulis novel memilih Wen Jiabao sebagai orang yang dituju untuk suratnya. Barangkali karena sang tokoh di akhir cerita adalah bagian dari enterpreneur India yang diperhitungkan untuk bertemu dengan perdana menteri. Sosoknya tampak tanpa cela walaupun sebenarnya semua image yang baik itu dibangun di atas hasil perampokan dan upaya suap pada lingkungan yang menekannya.

Penulis novel ini memandang negara yang sangat spiritualis itu dari sisi yang berbeda. Misalnya, ”Satu fakta tentang India adalah: putarbalikkan pernyataan apapun yang Anda dengar dari perdana menteri kami tentang negara ini dan Anda akan mendapatkan informasi sebenarnya. Nah, Anda sudah mendengar bahwa Ganga disebut sungai emansipasi dan setiap tahun turis Amerika datang untuk memotret para sadhu telanjang di Hardwar atau Benaras, dan perdana menteri kami pasti menggambarkannya persis seperti itu, lalu membujukmu untuk berendam dalam sungai tersebut. Jangan! Mr Jiabao, saya sarankan Anda tidak berendam di sungai Ganga kecuali Anda ingin mulut Anda dipenuhi kotoran manusia, jerami, potongan tubuh manusia yang sudah lembek, potongan busuk mayat kerbau, serta tujuh macam limbah industry berbahaya.”

Tokoh novel ini bernama Balram. Ia adalah seorang sopir dari pengusaha kaya, Mr Ashok. Sebagai seorang sopir, tampaknya ia terlalu cerdas, padahal penulis novel menggambarkan bahwa Balram berasal dari desa ”kegelapan” yang merupakan wilayah urban India yang langka akan pendidikan. Walaupun begitu sah-ah saja penulis menjungkirbalikkan ceritanya. Namanya juga cerita fiksi.

Dalam menuturkan ceritanya, sang sopir memang tampak cerdas. Dengan uang hasil merampok uang majikannya, setelah terlebih dahulu ia menghabisi nyawa sang majikan, Balram hidup sangat berkecukupan. Uang tujuh ratus rupee itu cukup untuk membeli rumah, motor, toko kecil dan kehidupan baru. Rencana semula uang milik Mr Ashok itu ditujukan untuk menyogok para politisi agar memperlancar bisnis. Berikutnya, Balram menggunakannya untuk membangun perusahaan taxi he White Tiger Drivers. Sebuah keberuntungan yang sangat mulus mendapatkannya. Lantas jadilah entrepreneur muda yang disegani di kotanya.

Majikan

Sang tokoh senantiasa teringat dengan gaya kerja majikannya Mr Ashok yang selalu menyogok jika menemui kesulitan dalam bisnisnya. Balram pun melakukan hal itu ketika perusahaan taxinya terkena masalah, salah seorang sopirnya menabrak anak kecil dan anak itu meninggal. Maka untuk meredam masalah ia menyiap polisi dan dengan sikap penuh pura-pura diselimuti dua ia menyerahkan uang pada orang tua korban. Perkaranya bisa diredam oleh uang!

Di awal cerita Balram seorang yang sangat jujur dan menghormati majikan. Akan tetapi di penghujung cerita, ia berubah menjadi manusia bengis yang tega membunuh majikannya. Alasannya: kemerdekaan! ”Tentu saja ada kemungkinan bahwa saya bisa tertangkap (karena pembunuhan). Di India ini tak ada yang berakhir, kata Mr Ashok, selama kau bisa menyuap polisi dengan sebanyak mungkin amplop cokelat dan tas merah (uang).”

Walaupun sang tokoh dihantui perasaan bersalah karena pembunuhan itu, namun ia tidak merasa menyesal. ”Saya akan berkata bahwa itu harga yang pantas untuk mengetahui bagaimana rasanya tidak menjadi pembantu, sekalipun hanya untuk satu hari, satu jam, atau bahkan satu menit,” tandas sang Tokoh.

Novel The White Tiger ini memang mengingatkan, betapa mahalnya harga diri, yang kadang kita anggap murah! Walaupun harga diri itu ditebus dengan jalan baik atau pun yang salah. Yang pasti pembaca dapat merasakan persoalan ini bukan hanya berkutat pada hitam putih, akan tetapi juga memiliki unsur kemanusiaan yang kadang berada di wilayah abu-abu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *