Bidan Salwa

Teguh Winarsho AS
kr.co.id

BERJALAN tertatih-tatih menerobos gelap malam, perempuan hamil itu terengah kehabisan nafas. Tapi ia terus melangkah sebab rumah itu sudah semakin dekat. Ia bisa melihat kerlip lampu teras rumah itu seperti kunang-kunang. Juga pagar bambu di seling pohon perdu. Selain itu, rasa sakit di perutnya sudah tak tertahan, mual, mulas. Ini adalah kehamilan pertama sejak dua tahun menikah dan ia tak mau melahirkan di tengah jalan, disergap dingin. Ia harus cepat-cepat menemui Bidan Salwa, perempuan penghuni rumah itu, satu-satunya bidan di kampung. Continue reading “Bidan Salwa”

Ikan yang Menyembul dari Mata

Mardi Luhung *
Koran Tempo, 11 Juli 2010

I
AKU dilahirkan di bulan Maret. Sekian puluh tahun yang lalu. Tepat ketika negeriku mengalami hari-hari berdarah. Hari-hari di mana kawan dan lawan cuma saling tuding: “Ini kawan, itu lawan, dia aman, kau tidak!” Dan malamnya, yang dituding sebagai lawan pun dijemput ramai-ramai. Diciduk, istilah pastinya. Lalu paginya, di pantai akan berjajar sekian tubuh yang tanpa kepala. Sekian tubuh yang kata para penciduk: “Milik orang yang tak pernah berdoa. Dan layak dihabisin.” Continue reading “Ikan yang Menyembul dari Mata”

Surabaya Tak Butuh Festival Seni

W Haryanto
cetak.kompas.com

Sebuah festival seni, awalnya dimaksudkan sebagai perayaan komunal atau ritual terhadap kehadiran Tuhan di muka bumi. Maka, setiap elemen dalam komunitas akan menyertakan produksi-produksi budaya sebagai bagian dari penyatuan atas perayaan tersebut.

Bagi masyarakat tradisional, sebuah festival dikaitkan dengan prosesi keagamaan seperti Grebeg Suro atau Grebeg Mulud. Bagi seniman, sebuah festival juga dipahami sebagai penyertaan momentum-momentum klimaks dari kreativitasnya. Maka, festival secara kultural terikat dengan relasi-relasi antarindividu di mana festival itu berlangsung. Persinggungan dalam festival, bukan upaya menominalisasi pencapaian proses seniman. Continue reading “Surabaya Tak Butuh Festival Seni”

Pengantar PuJa: Wanita Yang Kencing Di Semak :)

(Kumpulan Esay & Puisi H.U. Mardiluhung, terbitan PUstaka puJAngga, Cetakan ke II, 2006)
Nurel Javissyarqi *

Ketika realitas masuk dalam angan ke depan (harapan), lalu terjadilah pergumulan, lantas kabut mitos menyempurnakan gagasan awal, saat bergerak maju terlahirlah puisi. Puisi, salah satu cabang ilmu pengetahuan, sebab ia memiliki logika, meski tersendiri. Ia lebih sempurna daripada ilmu lain, lantaran di kedalamannya bersimpan logika rasa, itulah sebagian jalan terciptanya puisi, meski juga bisa berbalik arah. Continue reading “Pengantar PuJa: Wanita Yang Kencing Di Semak :)”

Bahasa »