MENULIS JADI BERKAH BELAJAR DARI KEPENULISAN PIPIET SENJA

Sutejo
Ponorogo Pos

Pipiet Senja adalah nama samaran dari Etty Hadiwati Arief, yang lahir di Sumedang, 16 Mei 1956. “Bagiku, menulis sungguh membawa nikmat dan berkah.” Begitulah ungkapnya di akhir pengakuan proses kreatifnya di majalah Mata Baca, edisi Juni 2007, hal. 29. “Bersama buku aku bisa keliling tanah air, bahkan beberapa Negara pernah kusinggahi: Singapura, Malaysia, Mesir, dan Saudi Arabia. Melalui pena, aku dapat mengukir kata-kata indah dan bermakna, memberi pembelajaran kepada pembaca, sekaligus menghibur atau menemani mereka yang kebetulan senasib denganku. Nah, menulis ayooooo!” Continue reading “MENULIS JADI BERKAH BELAJAR DARI KEPENULISAN PIPIET SENJA”

Sastra Kota, Tantangan dan Pertumbuhan

Donny Anggoro
oase.kompas.com

Sastra adalah dunia imajinasi. Tak ada karya sastra paling imajiner yang sanggup memiliki wilayah otonomi mutlak, subjektif, bahkan tiada sangkut pautnya dengan individu atau kalangan tertentu seperti perkataan Adolfo Sanchez Vasquez “sastra lahir dalam ke-kini-an dan ke-di sini-an yang konkret” (Art and Society, Merlin Press, London, 1973). Memang Vasquez dalam buku tersebut menuliskan pandangannya dari kacamata Marxisme. Tapi dari pendapat Vasquez ada satu hal yang sulit ditolak: karya sastra tak mungkin lahir dari ruang kosong. Continue reading “Sastra Kota, Tantangan dan Pertumbuhan”

Cerpen, Modernitas dan Kematian

Marwanto
http://www.kr.co.id/

BAGAIMANA masyarakat modern-kota memandang kehadiran sebuah cerpen? Sudah barang tentu jawabannya beragam. Sebuah cerpen di suratkabar mungkin dipandang sebagai hiburan semata. Pemuatannya di sebuah koran harian yang pas hari Minggu, sangat cocok untuk mengisi waktu santai. Cerpen di sini lalu hanya semacam intermezo. Selingan dari kebisingan berita yang ?itu-itu saja?: kekerasan, kriminal, kesibukan di lantai bursa serta acara seremoni politisi. Continue reading “Cerpen, Modernitas dan Kematian”

Imaji Modernitas Andrea Hirata

Judul: Laskar Pemimpi – Andrea Hirata, Pembacanya, dan Modernisasi Indonesia
Penulis: Nurhady Sirimorok
Penerbit: Insist Press
Cetakan: Pertama, November 2008
Tebal: xx + 191 hlm.
Peresensi: M. Lubabun Ni?am Asshibbamal S.
http://www.korantempo.com/

USAI saya membaca buku kritik sastra ini, selongsong rasa tak percaya sontak menyergap, ?Mengapa novel-novel Laskar Pelangi kok sampai digandrungi ?banyak? orang?? Padahal, bila merujuk pemaparan buku ini, imaji tentang modernitas dalam karya Andrea Hirata itu terasa sesak. Continue reading “Imaji Modernitas Andrea Hirata”

Bahasa ยป