Sang Pencerah

Jauhari Zailani
lampungpost.com

Satu abad Muhammadiyah. Melalui film Sang Pencerah, pemahaman terhadap organisasi ini tercerahkan.

MUMPUNG Lebaran, sekeluarga kami menonton. Ada dua isu penting, menurut anak-anak saya, yang aktual. Pertama, film ini diluncurkan ketika umat Islam dihebohkan dalam menentukan arah kiblat salat. Kedua, sepanjang dekade terakhir, kita disibukkan isu pluralisme. Continue reading “Sang Pencerah”

Detak Bahasa Di Antara Pencipta Dan Apresiator Puisi II

Imron Tohari

Kemajuan tehnologi komunikasi dewasa ini, diakui atau tidak diakui, telah memberi warna baru bagi tumbuh kembangnya sastra seni, khususnya sastra puisi/syair/sajak. Benarkah seperti itu?

Saya katakan iya! Bukannya tanpa alasan, lihat saja dengan menjamurnya forum-forum pertemanan (jejaring social) di dunia virtual/maya, seperti yang lagi trend dewasa ini, semisal: Yahoo Answer, Friendster, Hi5, FaceBook, dll. Menjadikan para pencinta sastra puisi/syair/sajak, bisa dengan cepat dan mudah mempublis karya-karyanya tanpa harus takut ditolak, yang mana hal tersebut merupakan salah satu momok bagi mereka bilamana karya tersebut dikirim ke media cetak yang tentunya melalui proses seleksi terlebih dahulu. Continue reading “Detak Bahasa Di Antara Pencipta Dan Apresiator Puisi II”

Dari Ambivalensi Hingga Berladang di Punggung Sastrawan

Indrian Koto
Riaupos, 03 Okt 2010

Tulisan Romi Zarman yang berjudul Tiga Catatan di Riau Pos Edisi Minggu 19 September 2010 terkesan terburu-buru memandang ragam soal dalam sastra. Lantaran banyaknya hal yang ingin dia gugat, perlu kiranya ada respon untuk membuka sebuah dialog. Harapan saya akan ada diskusi dan bahasan yang lebih spesifik untuk setiap persoalan. Continue reading “Dari Ambivalensi Hingga Berladang di Punggung Sastrawan”

Tiga Catatan

Romi Zarman
Riau Pos,19Sep2010

Tiga catatan yang akan saya kemukan terdiri satu entitas yang bernama sastra. Pertama; perihal sastra maya yang menimbulkan ambivalensi dalam diri sebagian kaum sastrawan. Di satu sisi, mereka menolak kehadiran koran, tapi di sisi lain mereka juga mengirim dan mempublikasikan karya di sana. Kedua; pesatnya perkembangan sastra maya telah melenyapkan batas antara lokal-nasional. Tak ada istilah lokal-nasional. Riau Pos, misalnya, tidak bisa dikategorikan sebagai koran lokal. Lenyapnya batas-batas teritorial di dunia maya, mudahnya akses ke website Riau Pos, telah membuka mata kita bahwa Riau Pos bisa diakses di mana saja dan kapan saja. Continue reading “Tiga Catatan”

Sastra Indonesia, Satu Abad yang Sia-sia

Ribut Wijoto
Radar Surabaya, 3/10/2010

Bagaimanakah kondisi kesusastraan Indonesia 25 tahun ke depan? Pertanyaan ini penting dan mendesak untuk dijawab. Jawaban dapat berguna untuk menentukan visi dan dasar kreativitas kesusastraan saat ini.

Ke depan, secara alamiah, bahasa Indonesia akan terpinggirkan. Sastrawan Indonesia tidak akan lagi menulis dalam bahasa Indonesia. Sastrawan akan memilih menulis dalam bahasa Inggris. Mengapa? Beberapa gejala dapat diketengahkan. Continue reading “Sastra Indonesia, Satu Abad yang Sia-sia”

Bahasa ยป