Puisi-Puisi Akhmad Sekhu

http://www.suarapembaruan.com/
Lembaran Pikiran

Menerjemahkan lembaran-lembaran pikiran
aku tak sanggup tutup angan berkepanjangan
setiap saat menjerat otak yang berputaran
seiring waktu terus berpacu menyeret cakrawala
ke hadapanku, pemandangan penuh pertaruhan

2004

Pagi bagi Melati

Pagi bagi melati berarti memberi wangi
pada penghuni bumi, aku yang selalu
kagum akan keharumannya tetap terawat
berabad-abad, malaikat pun mencatat
atas tugasnya yang tertunai tuntas

2004

Sajak Hujan

Katamu, hujan telah lama berhenti
musim pun sudah mulai menari lagi
kakinya lincah dan tangannya cekatan
tumbuhkan tumbuhan, kucium suka citamu
yang menjuntai ke tanah-tanah merah
pelangi masih membekas di hati nurani
namun kau masih meragu

Dalam hempasan angin, kudekap sepi
menemu dirimu pada embun membeku
pelukku yang dulu luluh, kini dingin
mulai merayapi, kabur bergegas pergi
namun kau masih juga meragu
haruskah kudatangkan hujan lagi

Katamu, hujan telah lama berhenti, namun
gerimis tangis hati nurani masih membanjir

2000-2004

Terkurung Hujan

Kita pernah terkurung hujan, meneteskan
seluruh perasaan yang tergenang, betapa dunia
bagai tujuh pemuda terkurung goa kesadaran
dari hujan tangis hati nurani mereka
telah tergoda dunia tanpa peduli lagi, hingga
masuk perangkap semu yang mereka buat sendiri

Hujan selalu turun, menempuh rindu
dari kemarau panjang jiwa-jiwa gersang
untuk tumbuhkan semangat kehidupan
dan semaikan jiwa yang lama tak terkabur
benih bagi kebajikan

Kita pernah terkurung hujan, menyiram
kepedulian pada lingkungan, tak lagi terasing
bagai musafir di negeri sendiri
menemukan hidup kesejatian

2001-2004

Hujan Tangis Nurani

Hujan selalu turun, seperti tangis hati nurani
yang mengalir, entah sampai muara mana
membasahi kegersangan jiwa yang telah lama
kering kerontang kedamaian, untuk kembali pulih
pada keberkahan hidup yang menyejukkan

Ketika harapan terbitnya pelangi kehidupan
senyum manis bidadari membias, betapa bahagia
wajah-wajah cerah penuh suka cita yang cerah
merekah semua rasa di dada bertadah hujan
bagaikan anak-anak kecil ceria bermain di tengah
hujan dalam kegembiraan yang mencurahkan
segenap rasa bahagia melegenda sampai dewasa

Berguyur hujan menyejukkan, tentramkan kehidupan
seperti tangis nurani yang tak ingin henti, di saat
bahagia datang menjelang sekian lamanya hilang
kini temukan kembali, seperti dapatkan inspirasi
bagi penyair temukan makna kesejatian puisi

2003-2004

Sajak Seribu Tahun

Seribu tahun lagi, aku mungkin
datang kembali tidak dengan raga ini
tapi puisi-puisi. Sukmaku menjelma
makna-makna yang mengental
dalam pemahamanmu.

Jangan lagi kau sebut-sebut namaku
kalau pesan puitikku tak kau mengerti
mungkin debu-debu lelah mengeja hidupmu
berhamburan kemewahan yang semu
tapi puisi-puisiku tak pernah alpa menyentuh
hatimu yang telah berurat batu itu

Seribu tahun lagi, ya, seribu tahun
diriku mungkin sudah remuk
tapi bersama puisi-puisi
aku akan tetap abadi.

2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *