Puisi-Puisi Y. Thendra BP

Kepada Fatris dan 30 September 2009
dari sebuah potret

yang datang pada jam 5 sore itu
begitu tiba-tiba
yang pergi pada jam 5 sore itu
begitu tergesa-gesa

aku sanggup melupakan
yang datang
tapi tak sanggup melupakan
yang pergi

gadis kecil memeluk kucing hitam
di antara reruntuhan bangunan
dan air mata hitam

Kepada Pesolek

dingin bulan
gigil jalan
dan aku terus melangkah
rumah tutup
kedai larut malam
pengendara motor
melintasi embun
yang jatuh dari bintang tak bernama
betapa lengang jam berdentang
di mata jaga
malam tinggal bayang
lampu-lampu hotel
lampu-lampu reklame
cuma bikin asing pada kepulangan
pada kekasih yang menyimpan ciuman:
lidah lembut dalam telinga

angin kencang berhembus
tapi sedikit suara yang tergambarkan
dan aku terus melangkah
ambang subuh
engkau makin tertinggal jauh
yang tidur dalam sajak:
rabun senja!
dan aku terus melangkah
pada bengkolan ke tujuh
aku memasuki pagi baru

Angin Panas

angin panas
angin panas yang menyeberangi laut
membawa bau tubuhmu
yang hutan terbakar itu

angin panas
angin panas yang membuat malam
kotaku jadi demam
karna lehermu menyimpan sungai
sungai yang melarungkan abu pohon-pohon

o, cintaku yang ditinggalkan burung-burung, ujung rambutmu yang pecah
mengeluarkan asap
jadi kata-kata sesak dalam sajak
sajakku yang berjalan sendirian
di jalan jalan kotaku yang malam
yang demam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *