TJK, Semangat ”Glonakalisasi”

Judul : Topeng Jero Ketut
Karya : Sunaryono Basuki Ks.
Penerbit : Yayasan Indonesia Tera 2001
Tebal : 196 halaman
Peresensi: I Nyoman Tingkat
http://www.balipost.co.id/

MEMBACA novel “Topeng Jero Ketut” (TJK) karya Sunaryono Basuki Ks, ingat dengan tradisi ngaben tikus di Tabanan. Masyarakat di sana pada 2001 mengupacarai tikus dengan ngaben sebagaimana layaknya upacara ngaben bagi manusia Hindu Bali. Diniatkan dengan ngaben menggunakan bade tumpang pitu itu, para tikus tidak mengusik sawah-sawah petani sehingga peristiwa gagal panen tidak terjadi. Dengan demikian, kenyataan swasembada beras bisa dikembalikan untuk mewujudkan keseimbangan.

Novel TJK ini pun secara implisit diniatkan untuk mengembangkan keseimbangan alam dalam konsep Trihita Karana. Dengan penghalusan Jero Ketut untuk bikul (tikus) diharapkan kerusuhan tidak menjadi-jadi di seputar sawah karena itu pantang bagi masyarakat Bali mengumpat tikus. Makin diumpat, tikus akan makin rusuh. Kata orang Bali, “bikul kepisuh”. “….topeng Jero Ketut itu sakti. Jangan sampai menyebutnya sembarangan. Kalau sampai marah, kita bisa celaka” (hal. 57).

Dalam konteks inilah rupanya pengarang mencermati perilaku tikus ditautkan dengan mentalitas manusia khususnya para pengusaha kelas kakap yang meresahkan masyarakat kecil di Bali. Novel ini mengisahkan para pengusaha pada masa Orde Baru digambarkan senantiasa bertopeng di balik “mantra” pembangunan yang diprogramkan pemerintah demi kesejahteraan rakyat. Batas antara pengusaha dan penguasa nyaris tak terbedakan. Akibatnya, rakyat kecillah yang dikorbankan sementara para pengusaha itu dengan mudahnya lempar tanggung jawab bahkan terlepas dari jerat hukum, sebagaimana dialami Tmmy,Pance, Bobby, dan Eddy. Mereka tiba-tiba bisa menghilang setelah TJK berhasil diburu dengan memanfaatkan keluguan masyarakat Bali.

Namun demikian, setelah bisa menghilang mereka juga menyesal karena tidak bisa mengembalikan dimensi kemanusiaannya seperti dialami Pance. “Pance tak bisa menemukan batas antara topeng itu dengan wajahnya. Dipegangnya topeng itu erat-erat, dan ditariknya untuk melepaskannya. Pance menjerit kesakitan. Wajah topeng itu sudah melekat menjadi satu dengan wajahnya, dan menariknya begitu seperti menarik wajahnya sendiri. Sakit.” (hal. 145). Di balik keberhasilan mereka menghilang setelah TJK berhasil diburu, tampaknya Tommylah pengusaha bernasib paling mujur, sebaliknya Eddy seorang pengusaha bernasib paling sial. Tommy dikatakan bernasib mujur karena selain bisa menghilang, ia juga bisa berdialog dengan TJK.

”Kamu dari mana, Jero ?” tanya Tommy dalam hati.
”Aku berasal dari masa lalu yang jauh, Anak Muda”.
”Siapa pembuatmu?”
”Walaupun aku sebut namanya, kamu pasti tidak mengenalnya. Sebab namanya tidak pernah tercatat dalam sejarah kebudayaan Indonesia”.
”Hmmm, apakah aku akan bisa menghilang ?”
”Kamu bisa berbuat apa saja sekehendakmu” (hal. 164).

Sementara itu, Eddy dikatakan paling sial karena ialah satu-satunya pengusaha pemburu TJK sempat menghirup angin pengap penjara walaupun dengan fasilitas berlebih. Tak ubahnya ia memindahkan kemudahan dan kemewahannya di rumah ke penjara. ”Kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan di kantor dan di rumah dengan kemudahan yang dia peroleh dari sejumlah oknum dipindahkannya ke dalam sel, yang sama sekali tak mirip sel. Dia punya pembantu, punya kamar mandi sendiri, bisa minta makanan apa saja yang dia sukai” (hal. 184).

Nasib sial Eddy karena dijebloskan ke penjara berlangsung hanya sesaat. Setelah mendapat kiriman tas plastik berlogo ”Sogo” berisi TJK dari Bali yang diantara oleh istrinya ke penjara, Eddy benar-benar bisa menghilang. ”Aku sudah menghilang, sudah bisa terbang bebas. Tak seorang pun bisa melihatku sekarang, tak seorang pun bisa kulihat. Sungguh topeng luar biasa.” (hal. 187).

Raibnya Eddy dari penjara berbuah duka bagi karyawan penjara. Mereka dituduh bermain di balik layar. Keadaan bertambah runyam ketika koran-koran menyiarkan berita ini. Fenomena ini mengingatkan kita pada kasus para tahanan yang pernah hilang tanpa bekas di negeri ini. Jangan-jangan mereka bersiluman seperti leak Bali. Berubah wujud di balik TJK yang dapat membuatnya bertindak sekehendak hati.

Di samping itu, berhasilnya para pengusaha Jakarta memburu TJK menunjukkan adanya kemenangan di pihak pengusaha, tetapi kekalahan bagi masyarakat Bali. Dengan kemenangan itu, para pengusaha bebas dari jerat hukum karena mereka bisa melicinkan hukum sebagai mana dilakukan Bobby. ”Bobby sangat suka memakai oli untuk melicinkan seluruh jalan bisnisnya. Bahkan secara kiasan pula, tubuhnya pun penuh berlumuran oli sehingga sulitlah dia dipegang oleh siapa pun.” (hal. 63).

Kekalahan masyarakat Bali di sini tampak dari desakralisasi benda-benda bertuah demi melancarkan kegiatan bisnis para konglomerat hitam (meminjam istilah Kwik Kian Gie). Sementara timbal baliknya tidak berimbang. Hal itu terjadi karena proses pembusukan dari dalam yang tersirat dari konflik internal masyarakat Bali dalam dua kutub kepentingan.

Kepentingan materialistik-hedonistik di satu sisi dan kepentingan sakralitas nilai-nilai religius di sisi lain. Kepentingan pertama berhasil dilakoni oleh koalisasi Made Toya – Gudur, sedangkan kepentingan kedua disuarakan oleh Nengah Jegog, Jero Balian, dan kaum sulinggih. Kepentingan kedua sebagai wujud idealisasi norma agama dikalahkan oleh kepentingan pragmatis, ekonomis, dan gelis (meminjam istilah Pedanda Gede Made Gunung).

Mengapresiasi novel ini, pembaca dihadapkan pada akulturasi budaya Bali, Jawa (Jakarta), dan budaya asing. Dengan demikian semangat global, nasional, dan lokal(isasi) terpatri dalam penyaturagaan ”glonakalisasi”. Antusias global tercermin dari pilihan bahasa para tokoh yang mengalir dari bahasa Bali, ke bahasa Indonesia, ke bahasa Inggris. Semangat nasionalisme terlihat dari kelihaian para pemburu TJK hendak menyelamatkan usahanya dengan dalih menyejahterakan masyarakat kecil, sedangkan ciri lokal tampak dari relasi pengusaha Jakarta dengan masyarakat Bali untuk mendapatkan topeng sakral yang hanya bisa ditemukan di Bali. Akibatnya, budaya Bali dibenturkan di persimpangan jalan.

Kontradiksi apa pun yang disuarakan dalam novel ini, tampaknya pengarang tetap mengedepankan rasionalitas. Model berkisahnya mengikuti alur penulisan ilmiah yang dibungkus dalam cerita rekaan dengan bahasa yang mengalir. Itu menjadikan novel ini berhasil mengusung dan mengangkat kearifan lokal dalam gemuruh semangat otonomi daerah. Namun demikian, seperti karya sastra yang banyak beredar dalam dekade terakhir, novel TJK ini menyisakan masalah teknis sehingga sejumlah kata tercetak salah tanpa lembar ralat. Yang sangat fatal adalah penulisan satu tokoh dengan dua nama berbeda, Wayan Jegog dan Wayan Jegoh (hal.17).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *