Bali dan Wuzu: Kembali ke Dasar

I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

SUATU kali Lingyuan, pengikut Zen, menerima surat dari Wuzu, sang guru Zen. Isi surat bertajuk “Kembali ke Dasar” itu amat pendek: “Ladang telah hancur oleh kemarau, tapi aku tak cemas. Aku hanya cemas oleh kenyataan bahwa siswa-siswa Zen tidak memiliki mata. Musim panas ini terdapat lebih dari seratus, tapi tidak satu pun di antara mereka mengerti cerita perihal anjing tak memiliki hakikat pencerahan. Inilah sesuatu yang pantas dicemaskan.” Continue reading “Bali dan Wuzu: Kembali ke Dasar”

Kajian Sastra di Indonesia Lebih Humanistis

Krisman Purwoko
http://www.republika.co.id/

Profesor dari University of the Arts London, mengakui kajian dan teori sastra yang diajarkan di universitas di Indonesia melalui pendekatan humanistis sangat mendalam ketimbang yang ditemuinya di universitas di Inggris.

Hal ini diakui Prof Ray M Lucas yang menjadi pembimbing one-to-one-class untuk kandidat doktor Mutmainnah Mustofa yang tengah melakukan kajian buku ajarnya bersama Prof Ray Lucas yang berjudul “How to Analyze Poet, Poetry and Drama.” Continue reading “Kajian Sastra di Indonesia Lebih Humanistis”

Puisi, Penyair, Penjahat

(Menyambung Tulisan Beni Setia dan Lan Fang)
S. Jai
Kompas Jatim, 3 Nov2010

TULISAN Beni Setia Sastra ?Kebacut? di media ini beberapa waktu lalu (19/10) tampaknya perlu mendapat perhatian khusus. Tulisan yang merupakan tanggapan tulisan sebelumnya oleh Lan Fang Jangan Main-Main dengan Sastrawan (15/10) tersebut bila salah asuh, menyebabkan pembaca bisa jatuh pada tindakan tidak melakukan apapun. Atau setidaknya cukup bertahan pada tindakan kreatif yang biasa saja tanpa tawaran baru estetika yang mengejutkan. Continue reading “Puisi, Penyair, Penjahat”

Dari Sebuah Manifesto Gambar

Hendro Wiyanto *
majalah.tempointeraktif.com

Ada masanya gambar dimaknai sebatas hasil pekerjaan keterampilan “menggambar”, yakni susunan rupa, gambaran bersahaja dengan isi atau maksud jelas, paripurna, sebagaimana gambar anak-anak atau ilustrasi cerita. Arkian, para “ahli gambar” memberi bobot “seni” pada istilah gambar, menguarkan terbentuknya Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) 70 tahun silam. Namun, sejatinya, (seni) gambar itu sendiri cenderung luput dari perhatian, terdesak oleh gencarnya perhatian pada ragam utama seni rupa: lukisan. Continue reading “Dari Sebuah Manifesto Gambar”

Bahasa ยป