Isbedy Stiawan Z.S. *
lampungpost.com
malam menguncup
angin laut menusuk
di palka ini perempuanku
menulis kisah-kisah silam
dari setitik tahilalat… Continue reading “Mirip Diana…”
Isbedy Stiawan Z.S. *
lampungpost.com
malam menguncup
angin laut menusuk
di palka ini perempuanku
menulis kisah-kisah silam
dari setitik tahilalat… Continue reading “Mirip Diana…”
Syaiful Irba Tanpaka
http://www.lampungpost.com/
SETIAP kali mengalami orgasme aku selalu memejamkan mata. Kurengkuh tubuh Kinan. Kudekap erat-erat. Kunikmati kehangatan yang mengalir dari tubuhnya ke tubuhku. Dan perlahan-lahan kurasakan seluruh tubuhku menjadi basah. Bahkan bukan sekadar basah, karena kemudian aku merasakan bukan lagi berada di atas tubuh Kinan; tapi seperti terapung di atas lautan, terayun-ayun dimainkan ombak, air asin yang terjilat. Aku terhanyut dan mengalir entah ke mana. Continue reading “Tubuh Kinan”
Winarta Adisubrata *
sinarharapan.co.id
Menukil kembali karya Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873 Masehi) pada awal abad 21 sekarang ini mungkin menimbulkan anggapan pada sementara kalangan sebagai “tidak relevan”. Apalagi jika diingat bahasa yang digunakan pujangga penutup Keraton Surakarta itu bahasa Jawa, yang mungkin sekarang sudah punah.
Walaupun pada zaman Ranggawarsita penggunaannya sudah disebut sebagai bahasa “Jawa modern” yang hingga kini masih difahami para pengguna bahasa “mungkin sebagai bahasa tulis”, nyaris tidak digunakan lagi oleh para pendukung bahasa dan budaya ini. Continue reading “Inikah “Zaman Edan”-nya Ranggawarsita?”
Raudal Tanjung Banua
kr.co.id
DISADARI atau tidak, kampung-halaman telah menjadi ikon tersendiri dalam jagad sastra Indonesia. Tidak hanya sebatas ungkapan ekspresi sebuah karya, namun masuk lebih jauh lagi ke dalam wacana dan gerakan sastra kita, dari dulu hingga sekarang. Dulu misalnya, ada gerakan sastra kembali ke akar yang mengidealkan keragaman karya sastra lewat muatan atau warna lokal. Akar dan lokal, secara simbolik dan geografik merujuk kampung-halaman. Continue reading “Kampung Halaman yang tak Kunjung Terumuskan”
TE. Priyono
http://www.kr.co.id/
MUNGKIN karena sudah tua, Kakek Jenderal jadi begitu pelupa benar. Dijuluki Kakek Jenderal karena di pundaknya tidak hanya ada empat bintang, itu jenderal penuh.Kalau bintang lima, jenderal besar. Nah ini, ada tujuh bintang ! kakeknya para Jenderal. Belakangan ini, Kakek Jenderal sering tidak ingat, dimana telah menaruh sesuatu barang. Kalau sudah begitu, selalu saja ada perintah mendadak dari Kakek Jenderal. Continue reading “Kakek Jenderal”