Ambarwati

Agus Kurniawan
http://www.kr.co.id/

BOTOL ketiga dia buka, setelah isi dua botol yang lain habis dia tenggak. Dituangkannya minuman keras itu ke dalam gelas, diteguknya sedikit demi sedikit untuk menikmati setiap tetes yang mengalir di tenggorokan.

Mukanya sudah memerah. Pandangannya sudah tidak lagi sempurna. Namun kesadarannya masih belum hilang untuk mengenang kisah perjalanan hidupnya yang kelam. Continue reading “Ambarwati”

Menjadi Sastrawan Koran

Herman RN
http://blog.harian-aceh.com/

Bertambahnya media lokal di Aceh semakin memberikan peluang kepada masyarakat untuk menuangkan segala gundah; segala resahnya dalam bentuk tulisan. Apalagi, setelah ?zaman batu? penuh peluru yang biasa membungkam telah berlalu dengan selembar ?surat bersampul biru? dari Helisinki. Namun demikian, keluhan menembus media masih kerap terdengar, terutama dari mereka penulis pemula. Continue reading “Menjadi Sastrawan Koran”

Teknologi, Sprititualitas, dan Kesadaran

Munawir Aziz
suaramerdeka.com

PERKEMBANGAN teknologi tak hanya berjejak dalam ruang eksperimen dan penelitian canggih. Gerak cepat kemajuan teknologi bukan semata-mata lahir dari observasi khidmat di laboratorium sunyi dengan perangkat mutakhir. Teknologi yang melesat cepat juga melewati rahim pemikiran, perenungan, dan proses imajinatif ilmuwan, pemikir, dan teknolog. Continue reading “Teknologi, Sprititualitas, dan Kesadaran”

In Memoriam Asrul Sani “Terimalah Hidup Apa Adanya!”

Benny Benke
suaramerdeka.com

SULTAN Marah Sani Syair Alamsyah, Yang Dipertuan Padang Nunang Rao Mapat Tunggul Mapat Cacang, mungkin tidak pernah mengira -demikian pula Nuraini binti Itam Nasution- kalau pada masanya putra mereka yang bernama Asrul Sani bakal menjadi salah seorang tokoh penting dalam perjalanan dan perkembangan perfilman Indonesia.

Bahkan dalam lingkup yang lebih luas, ayah enam putra kelahiran Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1927 itu bakal mewarnai perjalanan kesenian dan kebudayaan Tanah Air hingga akhir hayatnya. Continue reading “In Memoriam Asrul Sani “Terimalah Hidup Apa Adanya!””

Filosofi Cinta Rabi’ah Al Adawiyah di Panggung Teater

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Selama ini kita lebih mengenal sajak-sajak cinta karya Khalil Gibran dan May Ziadah. Padahal, dalam kesusasteraan Indonesia dari abad ke-16, ada nama Hamzah Fansuri dan Rabiah Al Adawiyah yang karyanya tak kalah besar. Di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (27/12), kumpulan sajak karya Rabiah yang berjudul Love Undererasure (Cinta di Bawah Karet Penghapus) akan dibacakan. Continue reading “Filosofi Cinta Rabi’ah Al Adawiyah di Panggung Teater”

Bahasa ยป