Dalam Gelap tanpa Cahaya Bulan dan Bintang

S. Yoga
balipost.co.id

Senja itu, seperti senja-senja yang lain; senja di masa lalu, dan mungkin senja di masa depan, temaram merah, dengan ufuk-ufuk pancaran langit yang cerah di sisi atasnya, di sisi bawahnya seperti bara api yang tersulut dari kegelapan bumi. Mengingatkan si bocah akan tungku perapian di dapur nenek, seiring terbayang kaki nenek yang telanjang di dekatkan di perapian, seolah denyut darah tak mau lagi memanasi sekujur tubuhnya, sehingga perlu penopang dari energi panas yang lain. Tentu karena seorang nenek pasti sudah tua. Continue reading “Dalam Gelap tanpa Cahaya Bulan dan Bintang”

Menyemai Sastra dari Ujung Timur Pulau Dewata

Nyoman Tusthi Eddy
Pewawancara: Asti Musman
balipost.co.id

BAGI kalangan sastrawan, Kepala SMU Amplapura Nyoman Tusthi Eddy cukup dikenal. Pria kelahiran Pidpid, Karangasem tahun 1945 yang menyemai sastra dari ujung timur Pulau Dewata ini sering menulis puisi dan artikel di sejumlah koran. Selain koran lokal, juga jurnal budaya yang diterbitkan di Malaysia dan Brunei. Dalam pengamatan penulis yang telah menerbitkan 16 buku sastra ini, dunia mengarang, seringkali dipandang sebelah mata oleh para siswa, dan orang awam pun menilainya hanya sebagai pekerjaan seorang seniman yang hobi melamun. Continue reading “Menyemai Sastra dari Ujung Timur Pulau Dewata”

Moralitas, Sastra, dan Kebenaran

Uniawati
http://www.kendarinews.com/

Belakangan ini, begitu banyak tontonan dan berita yang disuguhkan kepada masyarakat seputar pemberitaan mengenai video porno selebriti. Hampir di semua siaran televisi memberitakan tentang kasus itu. Berita itu disiarkan tidak hanya pada acara-acara tertentu saja, misalnya pada acara infotainmen, tetapi juga pada acara pemberitaan yang lain. Dianggap begitu besarkah pemberitaan itu sehingga kemudian merajai hampir di setiap acara pada setiap siaran televisi? Atau jangan-jangan hanya karena yang diberitakan itu kebetulan adalah seorang selebriti sehingga dianggap akan memiliki nilai jual dan daya tarik tinggi sehingga masyarakat akan tertarik untuk menontonnya. Continue reading “Moralitas, Sastra, dan Kebenaran”

Pram, Buku dan Sastra Rasa Penjara

Catatan Buku Biografi Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)

Rama Prabu *
oase.kompas.com

Membincangkan Pramoedya Ananta Toer atau lebih dikenal Pram memang tak ada habis-habisnya, terbukti satu lagi buku biografi menambah khasanah dalam hal itu. Pram memang menarik untuk dibahas, dari sudut manapun terlebih jalan hidupnya yang berliku tak sewajarnya sebagai seorang tokoh perjuangan yang pada akhirnya lebih memainkan penanya dari pada terjun langsung dalam kancah politik nasional. Tapi jangan dikira, menjadi pengarang, menjadi sastrawan justru Pram telah membuat jalur sendiri dan menarik lawan politiknya untuk ikut dalam konsep permainan tinta hitamnya. Continue reading “Pram, Buku dan Sastra Rasa Penjara”

Membumikan Kembali Ide Sastra Kontekstual (II)

Dad Murniah *
infoanda.com/Republika

Pendukung sastra kontekstual mempersoalkan universalisme dalam sastra Indonesia lantaran terlalu memusatkan perhatian pada kehidupan kota. Munculnya sastra kontekstual sekaligus berusaha menjawab konsep politik negara integralistik Orde Baru. Pendukung sastra kontekstual mengusulkan sastra seharusnya lebih terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan atau anasir-anasir lain di luar wacana pusat. Continue reading “Membumikan Kembali Ide Sastra Kontekstual (II)”

Bahasa ยป