Salam “novelia” dari Sigli

Musmarwan Abdullah
blog.harian-aceh.com

“Saya sedang dalam rangka pemetaan wilayah pedalaman Pidie untuk setting novel yang tengah saya garap. Abang bisa bantu saya, tak?” demikian bunyi SMS dari Arafat Nur di Lhokseumawe pada Medio 2007 lalu.

Seminggu kemudian Arafat tiba di Pasi Lhok, Kembang Tanjong, Pidie. Ini gampong tempat lahir Ayah Daod (Muhammad Daud Paneuk), tokoh GAM generasi perintis. Di sini, setengah hari Arafat mengamati, mencatat dan berdialog dengan beberapa warga setempat. Continue reading “Salam “novelia” dari Sigli”

Apartemen

Denny Mizhar

Dari atas balkon aku melihatnya, tampak gelisah, melihat ke kanan-kiri. Sepertinya mencari seseorang. Siapakah yang ia cari? hampir dua jam berdiri tak beranjak pergi. Seberapa penting orang yang di cari hingga menunggunya dengan berdiri lama di samping jalan tepi jembatan dekat apartemen tempatku tinggal. Baru seminggu aku menempati apartemen. Aku membeli apartemen, sejak rumahku di gusur dan aku dapat ganti rugi. Aku membelinya sudah tiga tahun yang lalu, selagi menunggu jadi aku kontrak rumah di dekat apartemen yang sedang dibangun. Continue reading “Apartemen”

Pulang Haji

Amien Wangsitalaja
Jawa Pos

Haji Norham akhir-akhir ini merasa, sepertinya makin banyak saja orang melakukan kegiatan-kegiatan dan proyek-proyek sosial dan atau keagamaan. Dari anak-anak muda sampai orang-orang tua, dari panitia-panitia kecil sampai panitia-panitia besar. Haji Norham merasakan hal ini sepulangnya dari ibadah hajinya setahun lalu. Dan ia merasakannya bukan karena setelah pulang haji itu ia menjadi interes dengan kegiatan atau acara berbau sosial dan atau keagaaman itu. Sama sekali bukan, karena ia hampir tak punya waktu untuk hal-hal semacam itu. Ia tak kan punya waktu untuk hal-hal di luar kesibukan kantor yang cukup menguras pikiran dan energi. Continue reading “Pulang Haji”

SASTRA DI TENGAH BUDAYA KAUM PECUNDANG

Maman S. Mahayana *

Sungguh luar biasa sihir Piala Dunia! Perhatian segenap bangsa di jagat ini seperti tersedot dan tumpah pada layar kaca. Tukang beca berteriak histeris. Kesebelasan yang dijagokannya, menang. Ia berjingkrak memegang uang taruhan. Dan kaum cerdik-pandai, politisi, para eksekutif atau buruh bangunan, hanyut pula dalam tontonan yang secara langsung, sebenarnya tak ada kaitannya dengan keadaan yang terjadi di negeri ini. Continue reading “SASTRA DI TENGAH BUDAYA KAUM PECUNDANG”

Bahasa ยป