Taufiq Ismail Salah Tafsir Puisi Mawie Ananta Jonie

Asep Sambodja
oase.kompas.com

Dalam buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI DKK (1995), Taufiq Ismail menulis, “Enam bulan menjelang Gestapu, Mawie sudah berkata “kunanti bumi memerah darah”. Tepat, karena dia sudah tahu sebelumnya” (lihat halaman 219).

Apa yang salah dari kalimat Taufiq Ismail itu? Pernyataan itu merupakan interpretasi terhadap puisi Mawie Ananta Jonie yang berjudul Kunanti Bumi Memerah Darah yang dimuat di harian Bintang Timur pada 21 Maret 1965. Merujuk pada jalan pikiran kalimat itu, enam bulan kemudian terjadi peristiwa G30S. Dan, Taufiq mengatakan, “Dia sudah tahu sebelumnya.” Continue reading “Taufiq Ismail Salah Tafsir Puisi Mawie Ananta Jonie”

Tentang Sthrimaya Indumaty: Aceh…

Tentang Kekuatan Perempuan (Sentimentalitas Berlebihan)

IBM Dharma Palguna
balipost.co.id

KETIKA masih anak-anak, Sthrimaya Indumaty yang lahir di Philippina dibawa bermigrasi ke Amerika Serikat oleh Ibunya. Di sana ia berkembang menjadi orang Amerika keturunan Asia. Ketika saya pertama kali mengenalnya, Sthrimaya Indumaty adalah seorang perempuan 27 tahun, penuh percaya diri, mahasiswi sebuah universitas ternama di Amerika. Continue reading “Tentang Sthrimaya Indumaty: Aceh…”

Penulis Sastra dan Kuis Berhadiah

Anindita S. Thayf
kompas.com

Tanggal 15 Oktober 2010, saya menerima penghargaan sastra dari Balai Bahasa Yogyakarta. Novel saya, Jejak Kala, dianggap layak disemati julukan sebagai yang “terbaik” dari puluhan karya sastra yang ditulis para penulis Yogyakarta dan diterbitkan oleh penerbit Yogyakarta. Tentu saja saya senang: ada karya saya yang mendapatkan penghargaan. Continue reading “Penulis Sastra dan Kuis Berhadiah”

Belajarlah Sastra kepada yang Lebih Tua

AF. Tuasikal
http://m.kompas.com/

Adalah hal yang kurang tepat, bila Beni Setia tidak hadir di Forum Temu Sastra Jatim, lalu menyinggung hal tersebut sehingga asumsi yang dia tulis tidak tepat dan mengambang (kurangnya keakuratan data). Lepas dari hal tersebut di atas, Beni Setia beranggapan bahwa problem sastra di Jatim adalah kemarahan para penyair-penyair yang tidak kunjung di beri kesempatan tampil di media massa, lalu menerbitkan buku sendiri. Ini adalah anggapan dan asumsi yang salah. Continue reading “Belajarlah Sastra kepada yang Lebih Tua”

Bahasa ยป