Ketika Rieke Diah Pitaloka Berpuisi

Benny Benke
suaramerdeka.com

RIEKE Diah Pitaloka, perempuan supel yang mengawali karier sebagai artis sinetron, tampaknya semakin serius menggeluti dunia sastra, terutama puisi. Baru-baru ini (20/5), perempuan yang juga sedang tekun berteater itu (kali terakhir ia bermain dalam Ekstrem dan Cairan Perempuan) meluncurkan kumpulam puisi bertajuk Renungan Kloset, dari Cengkeh sampai Utrecht. Antologi puisi itu, berisi 40 puisi bertema kritik sosial, cinta, religiusitas, dan semangat pembelaan terhadap kaum perempuan. Continue reading “Ketika Rieke Diah Pitaloka Berpuisi”

Penyengat, Menjadi Pusat Pertumbuhan Sastra Melayu

Agus Sunarto
suarakarya-online.com

Pada awal abad ke-19 kesenian dan budaya Melayu berkembang pesat di Pulau Penyengat, daratan kaya bauksit seluas 240 hektare yang terletak di seberang di bagian Barat Pulau Bintan, Riau.

Ketika itu kegiatan tulis menulis dipandang sebagai pekerjaan mulia yang bisa dilakukan oleh siapa saja sehingga sastra Melayu berkembang pesat dan buku-buku banyak diterbitkan. Continue reading “Penyengat, Menjadi Pusat Pertumbuhan Sastra Melayu”

Perempuan Menulis Puisi

David Krisna Alka
http://www.sinarharapan.co.id/

Perempuan penyair Indonesia dilihat dari segi kuantitas dan kualitas sangat sedikit dibandingkan dengan laki-laki penyair. Beberapa perempuan penyair seperti Toety Heraty, St. Nuraini, S. Rukiah dan Isma Sawitri, karya-karya mereka kini sudak tak pernah terlihat lagi. Apa masalahnya? Padahal kekuatan rasa perempuan lebih tinggi dan mendalam dari laki-laki, jika mulanya kekuatan puisi adalah rasa sebelum kata. Continue reading “Perempuan Menulis Puisi”

Kritik Sastra dalam Perspektif Feminisme

Gunoto Saparie
suarakarya-online.com

DEWASA ini di berbagai belahan dunia, perempuan mulai bangkit mempertanyakan dan menggugat dominasi dan ketidakadilan yang terjadi dalam sistem patriarkhi. Perempuan selama ini memang telah mengalami subordinasi, represi, dan marjinalisasi di dalam sistem tersebut, di berbagai bidang, termasuk di bidang sastra. Dalam sejarah kesusastraan di berbagai wilayah, kita akan melihat berbagai keadaan yang memiliki persamaan sehubungan dengan keberadaan perempuan di bidang ini, yakni tersubordinasi dan termarjinalisasinya keberadaan mereka, baik pada tataran proses kreatif, kesejarahan, maupun sosial. Continue reading “Kritik Sastra dalam Perspektif Feminisme”

Komunitas Sastra di Indonesia: Tumbuh Bak Cendawan, Sirna Laksana Asap

Iwan Gunadi
http://riaupos.com/

Sejumlah kecil komunitas sastra membatasi anggotanya dengan ?persyaratan? yang lebih khusus, sehingga hanya orang tertentu yang dapat menjadi anggotanya. Ada yang membatasinya dengan semangat gender, seperti Forum Sastra Wanita Merah Hitam Kuning (Tamening) di Padang (Sumatra Barat) dan Komunitas Sastra Dewi Sartika di Bandung, Jawa Barat. Ada pula yang hanya menerima buruh sebagai anggotanya, seperti Roda-Roda Budaya dan Budaya Buruh Tangerang, Banten. Continue reading “Komunitas Sastra di Indonesia: Tumbuh Bak Cendawan, Sirna Laksana Asap”

Bahasa ยป