Peringatan 1000 Tahun Merapi

Godod Berimajinasi Absurd
Susianna
http://www.suarakarya-online.com/

Sejak zaman dulu, panorama Gunung Merapi telah mendapat sentuhan seniman pelukis, baik lokal maupun mancanegara. Sebagai contoh pelukis Belanda kelahiran Salatiga (Jawa Tengah), Leonardus Joseph Eland (1884-1952) telah melukis Gunung Merapi lewat karyanya, antara lain Di Balik Merapi yang pernah dipamerkan di sebuah galeri di bilangan Jakarta Selatan (1998). Basuki Abdullah (Alm) menyumbangkan lukisan Merapi, Gelora Yang Tak Kunjung Padam untuk Museum Nasional, yang diserahkan melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu, Fuad Hassan (1 Maret 1992).

Gunung berapi yang melegenda di Jawa itu seperti magnet yang menginspirasi para seniman. Bukan saja ketika gunung itu sedang dalam keadaan tenang dan damai, tetapi juga ketika gunung itu mengamuk memuntahkan lahar, seperti terjadi pada hari Selasa Kliwon, 22 November 1994. Peristiwa mencekam itu sempat disaksikan sendiri oleh pelukis Widayat (Alm) dalam perjalanan pulang menuju rumahnya, Mungkid, Magelang. Widayat pun seakan terbakar semangatnya untuk mengabadikan pesona “wedhus gembel” itu di atas sejumlah kanvas. Karya ekpresinya yang cukup dahsyat itu digelar dalam pameran tunggalnya di Yogyakarta, Januari 1995.

Berbeda dengan seniman nyentrik Drs Godod Sutejo. Pelukis asal Yogyakarta ini bukannya merekam suasana letusan gunung berapi, tetapi mengungkapkan imajinasinya dalam rangka mengenang peringatan Seribu Tahun Merapi. Sebanyak 55 lukisan akrilik dengan fokus Gunung Merapi dikerjakannya sejak 2005 lalu. Karya-karya itu digelar dalam pameran tunggal ke-12 “Peringatan Seribu Tahun Merapi”, 18-26 September 2006 di Wisma Pemerintahan Daerah Istimewa Provinsi Yogyakarta, Jl Diponegoro 52, Jakarta Pusat. Bersamaan dengan kegiatan pameran yang dibuka Kepala Kantor Perwakilan Daerah Provinsi DIY itu digelar pula “Pameran Foto Hitam Putih” dokumentasi Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Tercatat sebanyak 16 foto dokumentasi BPPTK hasil rekaman Gunung Merapi sejak 1822.

Konon, pameran tunggal Godod ini telah mendapat restu dan dukungan dari ‘juri kunci’ Gunung Merapi MP Suraksohargo, yang lebih akrab disapa ‘mBah Marijan’. Ini terungkap dalam lembaran katalog kegiatan pameran itu.

“Sebelum gempa dan Gunung Merapi meletus bulan Mei 2006 lalu di Yogyakarta, saya sudah merencanakan pameran ini. Karena, September 2006 ada peringatan 1000 tahun Merapi di Yogyakarta. Diperkirakan 1000 tahun lalu, Merapi itu meletus sangat dahsyat dan telah meluluhlantakkan daerah sekitar Magelang dan Yogyakarta sebelah utara,” ungkap pelukis kelahiran Desa Tameng, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, 12 Januari 1953.

Sebagai karya imajinasi, tentunya lukisan Godod tak menggambarkan secara fisik saat Merapi meletus. Tetapi fokus penggambaran justru merujuk pada berbagai suasana dan aktivitas sekitar lingkungan Merapi, termasuk upacara ritual di seputar Merapi dan gambaran tentang lingkungan gunung berapi lainnya. Karya Godod, antara lain Jalan Sehat di Gunung Gamping, Pengajian Gunung, Mencari Kayu di Gunung, Mancing di Rawa Gunung, Main Bola di Gunung, Tarik Tambang di Gunung, Sedekah Laut di Parangtritis, Kontes Perkutut, Ke Pasar Burung, Upacara Gunung dan Labuhan Gunung.

Pancaran Pribadi

Lukisan Godod mempresentasikan hamparan alam sepi yang terbentang luas dalam irama pewarnaan lembut dengan menyiratkan gambar-gambar kecil dari kejauhan. Gaya lukisan alumni Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta itu memang ekslusif dan merupakan trademark tersendiri. Namun setiap lukisan yang ditampilkan berbeda, tidak hanya dalam pewarnaan, tetapi juga dalam ungkapan, nuansa dan komposisi.

Ide melukis manusia kecil-kecil dilihat dari kejauhan adalah hasil perenungan Godod di Pantai Samas, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. “Alam yang saya lukis fantatis. Background lukisan saya banyak mengungkapkan nuansa baru dalam pewarnaan cerah dengan sapuan warna baru. Dulu datar halus, sekarang kasar. Tetapi mengesankan alam sepi,” papar ayah 4 anak dari pernikahannya dengan Sugiarti.

Lukisan kolektor barang antik ini memiliki pancaran tersendiri yang tidak saja bila diamati secara kasat mata, tetapi juga dicermati dari mata batin. “Lukisan alam sepi Godod merupakan sumber inspirasi. Lukisan itu bukan sekedar dilihat dari nilai seninya saja, tapi hakekat yang tersirat pada lukisan itu,” kata Ketua Umum DPP Organisasi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME Tri Sabda Tunggal Indonesia (TSTI) FX Bambang Soeratman, yang juga salah satu Ketua DPP Himpunan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME (DPP HPK).

Dijelaskan, yang tersirat pada lukisan itu merupakan pengejawantahan pribadi sang pelukis dalam menghayati makna hidup, dalam keheningan yang bermuara pada pencapaian keselarasan hidup lahir dan batin. Dan, bila dipandang dalam keheningan, dihayati sampai mendalam, lukisan itu merupakan pancaran pribadi Godod yang kuat, yaitu “aku” atau keingsunan-nya. Artinya, di balik alam sepi sebenarnya hidup tidak kesepian. Berbagai keaneka-ragaman sifat watak manusia, dan isi sekalian alam, namun bisa bersatu untuk mencapai suatu keindahan dalam perbedaan dan kebersamaan hidup menuju kebahagiaan.

Lukisan dengan obyek kecil-kecil sebetulnya menggambarkan bahwa manusia dengan segala pikiran dan perasaan, kemampuan dan potensinya adalah kecil bila dibandingkan kuasa alam yang terbentang. Sementara makna bergerombol itu karena keterbatasan manusia. Maka ia membentuk komunitas yang atas dasar gotong royong untuk mencapai tujuan hidup yang selaras, baik lahir maupun batin.

Berbicara tentang pewarnaan lukisan Godod, lanjut penghayat itu, karya Godod merupakan suatu kelembutan wujud kesucian hati, bersihnya nurani untuk mencapai sesuatu tujuan yang berbeda dengan kehidupan yang glamour. ()