Kekuatanku

Yonathan Rahardjo
http://www.suarakarya-online.com/

“Tidak masalah teruslah pakai.”
Mendengar kata-kata itu aku tersenyum di sudut bibirku terbentuk pusaran masuk orang bilang ini ciri pipiku.
“Pak Haji yang di depanku memang bijak ia tahu nilai-nilai kemanusiaan,” perasaanku mekar bunga.
Begitu berdiri langkah kakiku terasa ringan.
“Terima kasih sekali, Pak Haji,” aku menyerongkan badan, wajah yang disinari sedikit rasa senang mulai berpijar.

Aku jabat tangan lelaki berkopiah putih dengan helai-helai pendek jenggot mengimbangi rambut-rambutnya yang telah berguguran menyisakan bola kepala berpermukaan mengkilap licin lapang yang perlu dilindungi kain-kain tebal saling menyatu membentuk tutup atas organ penyimpang kebijaksanaan pikiran. Lelaki bijak itu mengantarku berjalan keluar sampai pintu depan rumah ucapan salam berbalasan, mengiring langkahku menjauh, menapak, mengarah dan menyasar pada rumah di belakang rumah pak haji berkopiah putih.

Jalan melingkar, hingga tiba di depan rumah lain, tiba-tiba dada yang agak tenang ini kembali dihantam perasaan resah.
“Ah! Jangan-jangan pak haji yang satu ini tidak ada.”

Kakak beradik, mana ada kesamaan total pada dua orang berbeda meski kembar identik sekalipun! Merayap rasa ragu, tapi dengan tangkas aku tepis rasa ragu itu mencelat ke samping, tepat di depan jendela kamar depan.

“Tok. Tok. Tok!” suara ketokkan pintu rumah oleh siku jari tanganku yang sudah tidak tahan.

Pemilik rumah muncul, dalam keremangan malam kulihat wajah sinis berubah dari roman semula ketika mengetahui siapa yang datang, aku.

Sepertinya ia sudah tahu maksud kedatanganku. Tanpa mau mendengarkan lebih jauh, ia sudah berkata, “Ya, Ya, saya sudah tahu maksud kedatanganmu dan sikap kami sudah jelas.”

“Ehm..”
Aku menunduk di balik kacamataku. Dalam remang cahaya lampu rumah yang menerabas pintu ke luar tempatku berdiri di situ mestinya lelaki berkopiah putih itu bisa melihat mataku berkaca-kaca. Namun ia mengulangi lagi kata-katanya.

“Sudah kataku, sikap kami sudah jelas.” Aku mendongak. Kutatap matanya. Ia yang berdiri di bawah tengah gawang pintu tanda mempersilakan aku masuk dan cuma berdiri di teras luar.
“Apa sikap Bapak?”
“Seluruh keluarga sudah berunding dan tidak mengizinkan tempat itu dipakai untuk berjualan lagi.”
Aku terpaku.
“Seluruh keluarga?” tanyaku terbata.
“Ya. Kami sudah bicarakan masak-masak.”
“Bukankah Pak Haji yang di depan mengizinkan?”
“Dia bukan penentu.”
“Katanya seluruh keluarga?”
“Kamilah beserta anak-anak yang menentukan.”

Aku menelan ludah. Tubuhku kutegakkan. Kupandang ia dengan mata tajam, tapi dengan cepat ia berbalik. Pintu rumah dalam sekejap tertutup. Aku hanya berdiri di depan pintu rumah yang tertutup! Dan lampu padam.

Pikiranku pusing ingat apa yang sudah dikatakan sangat bertolak belakang dengan dulu saat pertama kali minta izin.

Dulu masih sepi tidak banyak orang jualan disitu. Dulu tidak ada tempat untuk bengkel. Dulu tempat itu sepi. Tidak banyak orang mampir. Tidak ada penjual yang lain.

Barangkali dengan aku berjualan disitu akan banyak manfaatnya bukan cuma buatku, tapi buat penduduk disitu juga.

Barangkali itulah pikiran pak haji itu, sehingga ia tanpa pikir panjang langsung mengabulkan permintaanku.

Akupun membuka warung tenda menjual pecel lele, ayam, tahu-tempe goreng!

Dalam waktu singkat daganganku berkembang. Setiap hari selalu ada pembeli mampir dan menikmati makananku, mengenyangkan makan malam mereka butuh nasi, nasi biasa maupun nasi uduk, dengan lauk sambel pecel masing-masing menu.

Aku bisa menikmati sikap dan wajah puas mereka yang menyantap sajianku, apalagi tersedia daun kemangi pengharum mulut, timun penyegar lalu dan minum air teh hangat, jeruk hangat atau dicampur es!

Kadang-kadang rombongan pengunjung datang dan duduk-duduk sembari menyantap pecel ayam, pecel lele atau pecel tempe dan tahu goreng!

Mm… seringkali sepertinya ait liur mereka menetesi nasi dalam piring yang dicangkup dengan tangan telanjang dan dimasukkan mulut mereka, bagiku pemandangan ini jelas!

Mereka menikmatinya di bawah penerangan lampu neon yang begitu benderang. Sementara malam di sekitar adalah kegelapan yang lain tempat masing-masing. Hari demi hari kulalui pemandangan ini, pemandangan tamu berkunjung, menyantap makanan jualanku atau pulang membawa bungkusan.

Warung tendaku seperti menjadi pusat keramaian di tepi jalan raya, di ujung gang tempat tinggal pak haji itu. Kehidupankupun merangkak lebih baik dan aku merasakan pancaran mata berbeda dari pak haji, berbeda dengan pada saat aku minta ijin menempati trotoar di depan rumah saudaranya untuk jualan itu.

Apa lacur pada suatu hari ia mendatangi rumah kontrakanku dan mengutarakan keberatan saudaranya kalau aku terus berjualan disitu. Katanya mau dibikin bengkel, dan memang tempat itu dibuat bengkel yang dibuka pada siang hari.

Tapi bukankah bisa berbagi? Pada malam hari sesudah bengkel tutup giliranku yang berjualan disitu? Katanya berbahaya, karena tempat itu menjadi rawan kebakaran dengan banyaknya bekas oli atau bensin tergenang di lantai.

Apalagi kios yang halaman terasnya kupakai jualan itu berisi penuh peralatan bengkel mobil, banyak kaleng oli dan bensin, riskan kebakaran bahkan oleh sepercik apipun dari penggorengan ayam, lele dan tahu-tempe!

Apa hendak dikata. Sejak malam itu aku tak lagi berjualan di trotoar pojok gang itu. Senyap. Hanya warung di sebelahnya yang buka. Namun kata teman-temanku keramaian di warung itu ikut berkurang dengan tak lagi ada warung tendaku. Teman-temanku yang rata-rata anak kos di rumah tetanggaku ikut merasa kehilangan, sebab mereka merasa paling sering makan malam di tempatku. Juga tamu-tamu mereka.

Kini bagi mereka tempat yang nyaman untuk santap malam sekaligus berdiskusi panjang lebar di malam yang tenang, sudah hilang. Mereka mengutarakan rasa kehilangan padaku. Mereka sampaikan rasa simpati! Dengan bumbu-bumbu hiburan, aku merasa agak terhibur karena ternyata ada yang bersimpati terhadapku.

Tapi, itu ternyata tidak cukup hiburan tanpa ada kepastian berlanjutnya daganganku sama saja aku tak mendapat jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi anak pertamaku baru lahir! Ia butuh susu dan popok. Istriku butuh sehat. Aku harus cari upaya.

Untung ada orang yang masih berbaik hati, di sisi lain warung orang di sebelah bekas tempat jualanku, masih ada tempat, pemiliknya tidak keberatan aku menggunakan tempat itu, walaupun juga trotoar bengkel. Pemiliknya tak kuatir terjadi hal yang membahayakan dengan kompor gas penggorenganku. Bahkan tempatnya lebih luas.

Aku merasa ini jawaban terhadap orang yang teraniaya. Aku berpikir pak haji yang telah mengusirku pasti merasa kebakaran jenggot.

Daganganku kembali ramai, anak-anak kos teman-temanku ramai memberi ucapan, penghasilanku kembali mengalir, suasana hatiku kembali semarak. Jalan hidup selalu ada, aku merasakan anakku pasti senang, seperti halnya ibunya!

Tapi ini tak lama entah apa yang menjadi sebab, tiba-tiba saja pemilik toko bengkel yang trotoarnya kupakai jualan lele,ayam dan tahu-tempe goreng mengutarakan bahwa ia tak lagi mengizinkan aku menempati lahannya. Kini sungguh-sungguh lenyap harapanku untuk melanjutkan usaha di wilayah ini.

Aku putus asa dan tak peduli alasannya mengusirku secara halus. Sudahlah aku lebih baik pergi dari tempat itu, cari usaha di tempat lain.

Pindah dari rumah kontrakan yang sungguh tidak layak kondisinya, aku buka dagangan di tempat kakakku. Wilayah itu kembali sepi seperti semula sebelum kedatanganku. Aku tak peduli. Aku akan mepertaruhkan kehidupan keluarga di tempat yang baru. Semua barangku kuboyong satu truk penuh. Kami benar-benar pindah.

Biarlah mereka yang punya kuasa untuk menolong orang menutup rapat jalan pertolongan meski sebetulnya mereka mendapat pembayaran dari pertolongan itu.

Ya, aku tidak gratis buka warung tenda di situ, pembayaranku pun tak pernah terlambat. Namun mereka lebih suka tanahnya kosong dan sepi. Juga warung di sebelah tempat tendaku, warung salah satu keluarga mereka.

Aku hanya menyimpan satu dendam, aku pasti bisa berdagang di seberang trotoar itu. Di seberang jalannya ada lahan kosong, aku harus mendapatkan tempat itu, aku dekati pemiliknya melalui seorang Marinir yang kukenal dan kuberi upeti.

Berhasil! Pemiliknya luluh menyerahkan hak guna lahan itu untuk daganganku di malam hari. Terimakasih Marinir!

Belum genap setengah tahun kepindahanku dari rumah kontrakan di wilayah haji itu, aku sudah kembali ke tempat itu.

Aku puas, sebab sejak kepindahanku dari situ, rumah kontrakan itu tidak laku dikontrakkan orang lain. Lahan bekasku berdagang pun melompong. Hanya ada warung sunyi dengan sedikit pembeli.

Keramaian malam kini pindah ke seberang. Rejeki pindah ke warung tendaku yang baru. ***

Catatan Redaksi:
Puisi, cerpen, esai dan tulisan lain Yonathan Rahardjo dipublikasikan berbagai media termasuk oleh Dewan Kesenian Jakarta dan Majalah Sastra Horison. Aktif membacakan puisi di panggung ‘Syairupa’ di berbagai tempat, termasuk Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki Jakarta.