Mengenang Johanna Masdani, Berjasa Hingga Usia Senja

Susianna
http://www.suarakarya-online.com/

Kepergian Dra Johanna Masdani Tumbuan – yang akrab disapa Jos (baca: Yos) Masdani -, barangkali merupakan saksi terakhir sejarah Hari Sumpah Pemuda. Jos adalah tokoh pejuang wanita yang ikut membaca ikrar “Soempah Pemoeda”, 28 Oktober 1928 di Gedung Indonesisch Clubhuis (kini Gedung Sumpah Pemuda), Kramat Raya 101, Jakarta Pusat.

Oma Jos meninggal dunia, 14 Mei 2006 dalam usia 95 tahun di kediamannya, sebuah paviliun sederhana Jl Menteng Raya 25, Jakarta Pusat. Sebagai mantan pejuang dan penerima berbagai penghargaan, satya lencana dan bintang jasa, almarhumah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan lewat upacara kenegaraan dengan inspektur upacara mantan Gubernur DKI R Soeprapto atas nama Dewan Harian Angkatan ’45. Almarhumah pernah duduk sebagai pengurus Dewan Harian Angkatan ’45.

Jos dilahirkan di Amurang, Sulawesi Utara, 29 November 1910 dengan nama lahir Johanna Tumbuan.

Jos adalah istri almarhum Masdani yang meninggalkan bangku kuliah di sekolah kedokteran Stovia, Jakarta karena mendirikan koperasi kredit untuk membantu rakyat kecil. Dari perkawinannya dengan Masdani (meninggal 8 Oktober 1967), pasangan ini tidak dikaruniai keturunan.

Kepada Suara Karya, almarhumah pernah mengatakan telah membuat surat wasiat mengenai harta peninggalannya, antara lain ratusan buku dan koleksi barang antik serta rumah. Almarhumah juga bercerita tentang Yayasan Masdani yang didirikannya.

Almarhumah pernah putus sekolah karena orang tuanya di Sulawesi Utara menghentikan pengiriman uang gara-gara fotonya pernah dimuat di sebuah majalah. Dalam foto tersebut, Jos tampil sebagai tokoh Chandra Kirana yang mengenakan busana Jawa dalam sebuah pertunjukan sandiwara dalam rangka penggalangan dana bagi korban letusan Gunung Merapi. Jiwa sosial Jos sudah tertanam sejak remaja.

Setelah menikah dalam usia 40 tahun, sang suami menyuruh Jos menyelesaikan sekolah di PAMS (Paedagogische Algemene Middlebare School) setingkat SGA. Kemudian, ia melanjutkan studi di Fakultas Psikologi UI hingga selesai (1961) dalam usia 51 tahun.

Setelah suaminya meninggal dalam usia 59 tahun, tepatnya 8 Oktober 1967, Jos mendapat tugas belajar psikoterapi dan konseling di AS, Belanda dan Inggris. “Saya dianjurkan belajar karena waktu itu mereka melihat saya semakin larut dalam kesedihan ditinggal suami tercinta,” kenang Jos.

Selesai mendapat tugas belajar hingga usia senja, Jos aktif memberikan psioterapi dan konseling, baik di RSCM maupun lewat praktik di rumahnya. Almarhumah juga tercatat pernah mengajar di FKUI UKI, Jakarta Timur.

“Saya ini sudah 87 tahun tetapi masih mengajar di UI (Universitas Indonesia) dan UKI (Universitas Kristen Indonesia),” kata Jos ketika ditemui Suara Karya di rumahnya sekitar April 1998. Namun beberapa tahun kemudian, papan nama “Dra Jos Masdani, Psikolog” sudah tidak terpampang lagi di depan paviliunnya.

Semangat pejuang Jos sejak remaja terbawa hingga di hari tuanya meski dalam kesendirian. Ketika muda, ia aktif membela bangsa dalam organisasi pemuda yang didukungnya. Setelah merdeka, selama 40 tahun lebih Jos tiada henti menolong orang-orang bermasalah, lewat praktik konsultasi keluarga yang dibukanya.

Sebagai psikiater andal, di usia senja ia masih memberi terapi kepada remaja yang kecanduan narkotika, terlibat masalah pacaran, dan hamil di luar nikah. Ia juga biasa mengatasi anak-anak bandel dan malas yang kesulitan belajar.

Salah satu saksi sejarah yang masih dikenang jasa-jasa pejuangan Jos Masdani. Tugu yang berlokasi di kawasan Gedung Perintis Kemerdekaan, Jalan Pengangsaan Timur (sekarang Jalan Proklamasi), Jakarta Pusat itu atas gagasan dan sumbangan sejumlah pejuangan wanita. Jos Masdani ditunjuk sebagai ketua panitia yang juga merancang gambar tugu. Kemudian gambar itu disempurnakan oleh alumni ITB Kores Siregar sedangkan tukang batu Pak Toyib.

Tahun 1960, tugu yang dibangun dengan susah payah itu dihancurkan oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Namun kemudian dibangun kembali sesuai aslinya karena blue print-nya masih tersimpan baik dan diresmikan oleh Menteri Penerangan waktu itu, H Boediardjo (alm). Kini tugu dengan tinggi sekitar 3 meter itu tidak sendirian. Sekitar jarak 10 meter berdiri dengan anggun dan lebih tinggi patung proklamator Soekarno – Hatta yang diresmikan Presiden Soeharto, 17 Agustus 1980. Selamat jalan Oma Jos.