Djunaedi Tjunti Agus
http://www.suarakarya-online.com/

MUSYAWARAH di pendapa kabupaten akhirnya melahirkan kata mufakat. Bupati, anggota DPRD, serta wakil tokoh masyarakat bersepakat di perapatan jalan teramai di kota kabupaten itu akan didirikan patung tokoh paling dihormati di daerah tersebut. Disepakati pula, pengetokan palu atas keputusan pendirian patung akan dilakukan DPRD dalam sidang paripurna.

“Semua peserta musyawarah satu suara. Tak satu pun yang menyanggah. Tapi seperti pembicaraan kita sebelumnya, seluruh dana pembangunannya ditanggung sponsor yang bapak carikan,” kata bupati lewat telepon genggamnya, hanya beberapa menit usai memimpin pertemuan.

“Tapi saya kan belum wafat. Apa pantas patung orang yang masih hidup di pajang,” kata lawan bicaranya di ujung telepon, di seberang sana.

“Soal itu saya rasa tak masalah Pak. Di beberapa negara besar sudah menjadi hal biasa. Apalagi di dunia olahraga, seorang petinju kelas dunia yang masih hidup, patungnya di pajang di tengah kota di Amerika sana,” balas bupati.

Setelah basa basi, pembicaraan pun berakhir. Bupati kemudian tergelak. Dia baru menyadari patung olahragawan yang dia maksud ternyata bukan dalam kenyataan, tetapi hanya pernah dia lihat dalam salah satu film Hollywood, Rocky.

Hasil musyawarah tokoh masyarakat di kota kabupaten tersebut membuat Sarban berbunga-bunga. Tapi dia berusaha tak memperlihatkannya. Padahal dalam hatinya, dia siap membiayai sepuluh bahkan seribu patung dirinya di kota kabupaten tersebut, jika perlu ada di setiap persimpangan jalan, di setiap desa.
“Yah. Sepertinya sulit menolak permintaan mereka,” katanya.
“Ada apa?,” kata Subono, sahabatnya yang kebetulan ada di ruang kerjanya.

Sarban memang sangat terkenal. Tidak hanya di kota kabupaten tempat kelahirannya, tapi juga di Jakarta tempat ia bermukim. Meski sempat dipenjara karena dugaan korupsi uang negara, kehidupannya makmur. Untuk kalangan tertentu dia dikenal dermawan, terlebih bagi masyarakat di daerah asalnya. Sarban selalu mendapat sambutan meriah, baik oleh masyarakat, maupun oleh tokoh dan pejabat daerah.
“Masyarakat di daerah saya menginginkan patung diri saya dipajang di kota kami. Saya sepertinya tak bisa menolak,” tuturnya.

Mantan pejabat tinggi negara ini memang sangat dekat dengan rakyat di daerah asalnya. Itu karena sifatnya yang tanpa diminta selalu berusaha membantu masyarakat, seperti turun tangan membiayai pembangunan irigasi untuk mengairi sawah penduduk. Dia juga tak keberatan membantu pembangunan balai masyarakat yang ada dekat alun-alun. Ketika kampanye pemilu legislatif, dia membagi-bagi sembako, juga uang atas nama partai yang didukungnya. Padahal dia bukan calon anggota dewan.

Lagipula masyarakat di daerahnya tak peduli patung siapa yang akan dipajang di kota mereka. Yang penting sosok pemilik patung itu mau memberi, siapa pun dia. Alasannya, pemerintah pun belum tentu mampu. Paling memberikan bantuan beras untuk rakyat miskin, bantuan langsung tunai (BLT), itu pun hanya menjelang pemilu.

Sarban hari itu juga langsung menghubungi Sukriwo, si pematung spesialis pembuat patung pahlawan. Sukriwo menyanggupi, dan berjanji bertemu pekan depan di kantor Sarban.

* * *

Alangkah kagetnya Sukri, demikian Sukriwo akrab disapa, yang datang sepekan kemudian. Dia tak menyangka patung yang akan dibuatnya adalah patung diri Sarban sendiri.

Sukri tidak rela patung koruptor dipajang di keramaian. Apalagi patung itu merupakan karya dirinya. Dia tahu betul siapa Sarban, koruptor kelas kakap yang menjarah triliunan uang negara. Sukri diam-diam sudah lama membenci Sarban, meski dia sering berhubungan karena Sarban yang beberapa kali menggunakan jasanya untuk membuat patung pahlawan. Karena itu pulalah awalnya dia menduga Sarban akan meminta membangun patung seorang pahlawan lainnya.

Sukri juga tahu, Sarban bisa lolos dari jerat hukum karena dia dan para aparat yang kotor telah merekayasa bahwa yang korupsi adalah bawahannya. Kebetulan bawahan Sarban yang dikorbankan itu adalah ayah seorang sahabat Sukri.

Mafia hukum telah menyelamatkan Sarban. Lewat makelar kasus yang populer disebut sebagai markus, Sarban berhasil membeli kebebasannya. Dia tahu siapa saja petinggi penegak hukum yang telah menikmati uangnya. Bagi Sarban itu tak soal, karena semua uang suap yang dia gelontorkan hanya bagian kecil dari dana triliunan rupiah yang dia ambil dari berbagai dana proyek, komisi, suap, dan setoran dari berbagai pihak ketika dia berkuasa.

Kini hidupnya makmur. Dia mampu membangun jaringan di berbagai organisasi kemasyarakatan, di antara penguasa, juga di kalangan legislatif, yudikatif, dan eksekutif. Sarban dengan uangnya bisa berbuat apa saja. Apalagi hanya terhadap Sukri yang coba menolak membuat patung dirinya, hanya dengan cara menaikkan harga sampai 100 persen. Sukri terjebak, Sarban langsung memberikan uang muka 60 persen tanpa menawar sedikitpun.

* * *

Begitu selubung dibuka semua orang bagai tercekat, menahan napas. Kemudian diikuti suara bisik-bisik. Apa yang terlihat di luar dugaan semua hadirin. Patung seukuran empat kali orang dewasa yang ada di atas dudukan beton berlapis marmar berukir itu ternyata bukan sosok Sarban, pahlawan yang dielu-elukan masyarakat kota ini.
“Ahh,” hanya itu yang terdengar dari mulut Sarban.

Dia sempat pucat menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Namun pengalamannya lama malang melintang sebagai pejabat publik yang penuh kebohongan, Sarban tak kehilangan akal. Dalam waktu sekejap dia mampu menenangkan diri dan kembali menguasai keadaan.

Bupati dan beberapa tokoh masyarakat yang ikut mendampingi Sarban ketika membuka selubung patung, dipersilakan Sarban duduk kembali. Dia kemudian menuju mikrofon, menyampaikan sambutan seperti telah diacarakan pembawa acara.

“Betul-betul luar biasa karya saudara kita ini. Dia membuktikan diri sebagai seorang pematung profesional. Ini benar-benar sempurna, melebihi apa yang saya minta.”
Berhenti sesaat, kemudian menyapukan padangan ke arah patung, dia tersenyum, lalu melanjutkan pidatonya.

“Mari saudara-saudara. Bapak, ibu, dan hadiran sekalian, sambutlah dengan tepuk tangan karya besar ini,” kata Sarban lagi.

Suasana kembali cair. Semua orang terlihat lega. Namun hampir semua hadirin tidak habis pikir. Tak hanya masyarakat banyak, camat, bupati, dan tokoh masyarakat juga tak mengerti apa maksud patung ini. Kenapa patung itu bukan dalam bentuk diri Sarban, sang pahlawan yang selama ini dibanggakan masyarakat daerah sini, tetapi dalam bentuk manusia berkepala tikus dan memiliki ekor, ekor buaya?

“Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara, dan hadirian sekalian tentu heran, kenapa patungnya seperti ini? Bukan dalam bentuk diri saya seperti ingin dilihat undangan semua, seperti selama ini disebut-sebut?”
Sarban berhenti sesaat, sambil melirik ke kiri dan ke kanan.

“Ini memang pesanan saya. Atas permintaan saya. Betul-betul penuh seni, sangat penuh makna. Saya ingin memberi kejutan. Mana Sukriwo, si pematung kita?”, katanya sambil melirik kiri kanan, ke depan, dan mengarahkan pandangan ke kursi para undangan, mencari-cari seseorang. Namun orang yang dicari tak kelihatan batang hidungnya. Kursi di deretan kedua yang tadinya diduduki Sukriwo sudah kosong.

“Ya mungkin dia lelah, lalu istirahat, karena tadi malam tidak tidur untuk menyempurnakan patung ini,” katanya menujuk patung yang baru diresmikan.

“Jadi, saudara, ibu, bapak, undangan sekalian. Patung ini saya pesan, sebagai pemenuhan keinginan saudara-saudara semua yang ingin menempatkan patung diri saya di sini.

Patung ini lebih berharga dibanding diri saya, untuk mengingatkan kita semua bahwa manusia bisa terlihat baik, pakai jas, dasi, dan sebagainya. Padahal dia adalah tikus, seorang koruptor, dan buaya pemangsa. Jadi patung ini bertujuan mengingatkan siapa saja agar jangan terlena pada seseorang, hanya karena melihat luarnya saja.”

Tepuk tangan pun riuh. Pejabat yang hadir manggut-manggut, sambil berbicara dengan pejabat di sebelahnya, memuji-muji Sarban.

Sarban pun mengakhiri pidatonya, kemudian menuju ke tempat duduknya di panggung kehormatan, bersebelahan dengan para pejabat daerah. Bundaran yang ada di perempatan jalan utama di kota kabupaten itu betul-betul ramai. Peresmian patung yang tadinya dikira adalah patung diri Sarban, sang pahlawan, ternyata patung manusia berkepala tikus dan berekor buaya.

“Pak Sarban memang selalu penuh kejutan,” kata bupati yang berdiri menyambut kedatangan Sarban yang baru saja menyelesaikan pidatonya. Sarban pun tersenyum sumringah.

Selepas pembacaan doa, acara pun selesai. Sarban melambaikan tangan dari atas mobil sedan mewah yang membawanya. Senyum tetap menghiasinya wajahnya. Dia kemudian menelpon, dan ternyata menghubungi bupati. Sarban mengabarkan dia tidak jadi mampir ke pendapa kabupaten, karena ada urusan mendadak.

Sesaat kemudian dia meninju sandaran kursi atau jok di depannya, keras, sambil melenguh.
“Bajingan. Sukriwo telah menipu saya, menghina. Kurang ajar….,”

Sumpah serapah tak henti-hentinya. Semua isi kebun binatang diteriakkannya. Kalau sudah begitu sopirnya maklum bahwa Sarban marah besar. Tak lama, Sarban kemudian kembali tenang.

“Jangan pernah kau bocorkan kekecewaan saya ini. Biarkan saja masyarakat beranggapan patung itu adalah pesanan saya.”

Tak lama kemudian dia pun larut dalam mimpi, mendengkur. Tinggalah sopirnya bertanya-tanya dalam hati, mau dibawa ke mana sang bos, langsung ke bandara untuk kembali ke Ibu Kota, atau mampir di suatu tempat penuh wanita cantik sesuai kebiasaannya Sarban?***

Bekasi, Penghujung 2010

Categories: Cerpen