Menikmati Puisi-puisi dalam Beragam Pertunjukan

Nuryana Asmaudi
http://www.balipost.co.id/

Sebuah acara bertajuk “Malam Musim Semi Puisi” pada Sabtu (18/3) lalu digelar di Wantilan Taman Budaya Denpasar. Ini acara pementasan puisi yang dikemas dalam beragam pertunjukan mulai dari baca puisi, musikalisasi puisi, hingga dramatisasi puisi. Acara ini menarik perhatian khalayak sastra karena memang sudah agak lama tidak digelar acara semacam ini di Denpasar. Ada kerinduan para pecinta sastra, terutama kalangan sekolahan, pada pentas puisi.

DI acara ini tampil dua penyair perempuan Bali generasi terkini, Putu Vivi Lestari dan Eka Pranita Dewi. Juga kelompok Teater Angin SMAN 1 Denpasar, Teater La-Jose SMAK Santo Yoseph Denpasar, dan Komunitas 69 Denpasar. Acara ini seakan menjadi “pesta puisi” kalangan muda sekolahan. Pasalnya, selain yang manggung sebagian besar anak-anak sekolahan, penontonnya juga sebagian besar anak-anak sekolah, yakni para anggota berbagai kelompok teater dan sastra sekolah di Denpasar.

Vivi Lestari dan Pranita tak bisa dipungkiri adalah dua penyair muda perempuan kebanggaan Bali yang namanya sudah diperhitungkan di tingkat nasional. Pun Teater Angin SMAN 1 Denpasar dan Teater La-Jose SMAK Santo Yoseph Denpasar, adalah dua teater sekolah yang cukup populer dan digandrungi kalangan sekolahan. Keduanya juga sering bersaing dan menjuarai berbagai lomba seni. Pada pertengahan Februari lalu, misalnya, Teater Angin dan Teater La-Jose sama-sama memenangi lomba musikalisasi puisi dan fragmentasi puisi dalam acara “Pekan Apresiasi Sastra dan Teater” di Negara.

Teater Angin malam itu tampil dalam beberapa grup yang membuka, menyelingi, dan menutup acara. Mereka membawakan nomor-nomor musikalisasi puisi. Nomor-nomor musikalisasi puisi yang disuguhkan di antaranya “Lagu Mabuk para Malaikat” karya Yodo Herbeno, “Surat kepada Aistianingnung-4” karya Nanoq da Kansas, hingga “Lagu Sederhana” karya Acep Zam-zam Noor. Lalu, Teater La-Jose tampil dengan dramatisasi puisi. Mereka mengangkat puisi “Minggu Pagi di Sebuah Puisi” karya Joko Pinurbo.

“Minggu Pagi di Sebuah Puisi” bertutur tentang sebuah tragedi di kota, tragedi yang menyerupai dan terilhami kisah Paskah, tentang seorang perempuan lemah yang terzalimi kebiadaban nafsu “kekuasaan” dan lelaki. Dikemas dalam pola pemanggungan fragmen-drama surealis, dengan latar setting manusia salib dan para pemain pendukung berpakaian minim berupa balutan kain putih dan tubuh dilulur pewarna putih. Juga manusia-manusia putih berkepala kotak kaca bermata lampu neon, dengan gerakan-gerakan kaku ala robot. Ada juga sosok lelaki yang tampilannya mirip tentara, lalu para tokoh utama: ibu pembawa lampu pijar dan perempuan teraniaya yang “bertemu” dalam tragika suasana yang memilukan. Meski belum sempurna benar, pentas berdurasi singkat ini cukup menarik dan menghibur.

Pembacaan puisi dari Vivi Lestari dan Pranita Dewi juga menjadi “andalan” acara malam itu. Pasalnya, keduanya adalah penyair perempuan Bali generasi terkini yang menjadi kebanggaan Bali di forum sastra nasional. Meski keduanya malam itu tampil “dingin” dan kurang gereget, namun sajak-sajaknya menarik. Vivi dan Eka tampil bersama-sama di atas panggung, dengan membacakan puisi secara bergantian dan berselang-seling. Pranita membacakan beberapa sajak andalannya yang ditulis pada kurun 2003-2005, seperti “Kau Ziarahi Tubuhku”, “Baruna”, hingga “Pelacur Para Dewa”. Sementara Vivi Lestari antara lain membacakan puisi “Episode Mata Dadu” dan “Cabo”.

Gelar acara pemanggungan puisi malam itu memang menjadi semacam “pesta puisi”. Para penonton disuguhi “menu” puisi yang dihadirkan dalam beragam seni pertunjukan. Sebuah bukti bahwa puisi tidak hanya bisa dibacakan secara konvensional seperti yang sering terlihat dalam lomba baca puisi atau di berbagai acara lainnya. Puisi pun — ternyata — bisa dan tak kalah menarik untuk digarap serta ditampilkan dalam berbagai seni pertunjukan.