OREZ ITU CUMA NAMA

Budi Darma
Jawa Pos, 18 Juli 1999

Beberapa hari yang lalu Jawa Pos membuat sebuah cerpen karangan S. Yoga berjudul Nama Saya Bukan Orez. Di situ dikatakan, nama Orez diambil dari judul cerita pendek saya, yaitu Orez, dalam kumpulan cerita pendek Orang-Orang Bloomington. Kemudian, di situ diceritakan Orez adalah seorang yang tidak mempunyai moral, sangat nakal dan kurang ajar, cacat fisik namun mempunyai kemampuan fisik yang luar biasa. Memang betul, semuanya diambil dari kumpulan cerita pendek Orang-Orang Bloomington. Dan, nuansa-nuansa dalam cerpen Nama Saya Bukan Orez kecuali diambil dari berbagai cerpen di buku Orang-Orang Bloomington –jadi bukan hanya pada Orez saja- juga diambil dari novel Olenka dan juga dari cerpen saya terakhir yang dimuat di Kompas,yaitu Derabat, yang mengisahkan pemburu dan sebaginya.

Kemudian, dipertanyakan oleh S. Yoga, pengarangnya, tokoh sentral dalam cerpen Nama Saya Bukan Orez itu tidak tahu makna Orez. Sebetulnya, Orez itu apa, tapi orang menunduh dia sebagai Orez dan tidak mau mengganti namanya, tapi dia tetap dinamakan Orez, karena itu dia marah.

Nama Orez sebetulnya saya sendiri mula-mula tidak tahu. Mengapa tidak tahu karena setiap kali saya mengarang saya tidak pernah merencanakan untuk mengarang. Demikian juga ketika menulis cerpen Orang-Orang Bloomington saya tidak punya rencana sama sekali untuk menulis cerpen-cerpen tersebut. Dengan demikian, nama-nama, peristiwa-peristiwa, dan sebagainya itu datang dengan sendirinya, termasuk nama Orez.

Jadi, siapa nama Orez ini saya sendiri sebenarnya tidak tahu, tapi biasanya setelah saya selesai menulis, setelah karya tersebut diterbitkan, kadang-kadang saya bertanya kembali mengapa nama ini muncul, mengapa peristiwa ini muncul. Dan, nama Orez yang muncul saat saya menulis itu ternyata pengendapannya sudah cukup lama, yaitu sekitar 7-8 tahun. Sebelum menulis cerpen itu, saya pernah mengadakan perjalanan keliling dengan Sapardi Djoko Damono di Amerika dengan mempergunakan pesawat terbang, bus, kereta api, kendaraan sewaan, dan sebagainya. Pada waktu keliling ke mana-mana itu, saya menemukan satu nama, yaitu nama Orez. Nama itu terpampang di sebuah iklan di kota kecil. Tapi, saya tidak ingat lagi iklan apa dan di kota mana saya melihatnya. Jadi, nama Orez ini kemudian mengendap dan setelah itu, ketika saya menulis cerpen Orang-Orang Bloomington, langsung muncul nama ini.

Nama Orez ini sebetulnya berkaitan dengan peristiwa korban ketika Nabi Ibtahim diminta memotong anaknya, Ismail. Orez dalam cerita pendek itu (dalam kumpulan Orang-Orang Bloomington) karena ayahnya merasa kasihan pada anaknya dan anaknya diperkirakan tidak mungkin hidup normal lagi, maka akanya itu harus dibunuh. Pada saat akan membunuh, ternyata ayahnya tidak mampu untuk membunuhnya karena bagimanapun Orez itu manusia dan dia lahir bukan karena minta dilahirkan, melainkan karena solah tingkah ayahnya sendiri, karena itu kemudian diantarkan pulang.

Jadi, Orez ini sebetulnya pencerminan pencarian jati diri, yaitu mengapa seseorang bisa lahir seperti itu, cacat tapi mempunyai kemampuan fisik luas biasa, bersifat merusak tapi kadang-kadang juga bersifat baik. Orez ini adalah satu jenis makhluk yang tidak minta dilahirkan kenapa seperti ini, seperti juga makhluk lain. Karena itu, cerpen-cerpen saya banyak mempermasalahkan orang-orang aneh. Sebab, memang, kita bertanya mengapa dunia ini demikian aneh, mengapa ada orang-orang seperti ini, mengapa ada orang seprti itu, mengapa dia lahir tahun ini, tidak sebelumnya, mengapa dia lahir di sini dan tidak di negara lain, mengapa anak orang ini dan bukan orang lain, dan sebagainya.

Dengan adanya cerpen S. Yoga itu, memang saya sama sekali tidak dirugikan dan tidak merasa keberatan apa-apa. Sebab, sebuah cerpen yang sudah diterbitkan bebas untuk ditafsirkan oleh siapa pun dan juga bebas untuk direjreasikan oleh sipa pun, seperti yang dilakukan S. Yoga. Jadi, karya sastra itu menggelinding untuk menjadi karya sastra yang lain. Ini tidak apa-apa. Jadi, dengan adanya cerpen S. Yoga itu bukan lantas saya harus memberikan penjelasan dalam arti sesungguhnya, tapi saya hanya menyampaikan latar belakang karena memang S. Yoga dalam cerpennya mengatakan bahwa saya tidak tahu mengapa saya dinamakan Orez dan dalam pandangan umum Orez itu adalah makhluk yang demikian. Pertanyaan ini sebenarnya banyak ditanayakan orang-orang lain uang kebetulan tidak menulis. Kebetulan, S. Yoga menuliskannya dalam bentuk cerpen.