Soni dalam Secangkir Teh Puisi

Alex R. Nainggolan
http://www.suarakarya-online.com/

Bagaimana membaca sebuah puisi sembari menyeruput secangkir teh sedang hangat-hangatnya? Mungkin di suatu senja, di beranda rumah-kau duduk menghadap sebuah pekarangan yang tak terlampau luas. Barangkali pula, kala itu hujan sedang turun dengan ritmis, membuatmu malas kemana-mana. Berdiam diri sendiri, membiarkan keasingan dari rintik hujan yang menciutkan nyali, keasingan dari udara dingin yang aneh. Membuatmu tak bisa beranjak, untuk jalan-jalan di pusat kota yang hingar. Kemudian kau pun membaca larik-larik puisi semacam: di atas meja/secangkir teh hangat/aromanya melayangkan ingtanku/pada harum tubuhmu yang kuambung/ dalam sebuah malam berkabut/ /daun-daun menggigil/ disentuh angin lalu. Tungku perapian/menyala. Lipatan paha, kecupan ringan, adalah kenangan yang bergegas/pergi.

Mengapa selalu perempuan? Beberapa sajak-sajak yang termuat mempunyai kecenderungan serupa itu. Apakah Soni Farid Maulana, seorang penyair, memang seorang lelaki pencinta sejati? Toh, dalam sajak-sajak penyair lainnya, perempuan memang merupakan sebuah pita kenangan yang melingkar. Di tubir puisi, sosok kaum hawa hadir dengan untaian diksi imagis, penuh dengan keterpukauan. Meskipun Soni, yang juga seorang wartawan di harian Pikiran Rakyat ini menutup dengan diksi kekecewaan. Dan kini di atas kursi/ tubuhku mirip setumpuk/ pakaian lusuh/dipeluk udara sedingin es/dalam kulkas, dan kau/ raib dari sampingku// (Secangkir Teh, 1995).

Dan Soni seakan tak henti-henti melerai perjumpaannya terhadap remah-remah kehdiupan. Sebegitu seringnya ia menggunakan diksi bunga bakung (bayangkan bukan mawar-yang notabene pelambang keindahan secara general), yang sekaligus juga menelusup dalam imaji sunyi, sebagai rupa-rupa hujan yang beternak dalam kata-kata sajaknya. Bahkan ketika beberapa sajak yang ditulisnya dilamatkan secara privasi kepada orang-orang yang dekat dengannya, semacam Rendra, Munir, Sutardji, Harry Roesli, bahkan Munir(?). Di situ, terlihat memang sajak-sajaknya terkesan sederhana, semacam sebuah surat, yang dialamatkan secara pribadi. Dalam sajak-sajak personal itu, Soni seperti menghadirkan titik nadirnya, suatu keinginan untuk memperbincangkan orang-orang yang akrab dalam dunia kepenyairannya dengan membandingkan kondisi sosio-politik belakangan ini. Pun dalam upayanya menulis sajak (semacam surat) untuk Sutardji Calzoum Bachri: jika itu yang kau maksud: memang/ aku punya hubungan baik dengan ikan/di kolam;- juga dengan warna ungu/teratai dalam lukisan Monet.//tapi kucing yang mengeong/dalam aortamu:- rindu daging paling mawar/rindu susu paling zaitun,/yang harum lezatnya semerbak sudah//dari arah al-kautsar. Tapi, seberapa sungguh/ kegelapan bisa dihalau:- jika gerhana/ membayang di hati? Seberapa alif mekar//di alir darah;- jika setiap tasbih diucap, yang berdebur di otak hanya ombak syahwat?/dji, tangki airmata selalu bedah di situ// (Semacam Surat, 2002).

Namun ternyata pula, pelbagai carut-marutnya kondisi negeri ini turut hadir pula dalam beberapa warna sajak Soni. Semacam dalam “Jakarta Luka Bakar”, yang bagi saya pribadi terkesan slogan. Terlalu berbau prosa, sehingga hampir tak ada perenungan. Soni hanya menuliskan realita tersebut secara telajang, sehingga diksi-diksi dalam kalimat puisinya tak kunjung mengundang birahi. Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dalam sajak “Jakarta Luka Bakar” tak lebih hanya sebatas kekesalan terhadap linglungnya harapan hidup di Jakarta, sebagaimana juga kota-kota besar lainnya. Sebagaimana kekecewaan para perantau, namun patutkah sebuah puisi melulu berisi caci maki?

Episode penyadaran lainnya juga turut dibangunkan oleh Soni, sebagaimana dalam sajak “Empat Rubaiyyat Untuk Nietzsche”-suatu penggugatan kecil, terhadap dunia yang dibangun oleh logika. Kerja kepala manusia, yang ternyata jauh dari umur. Pun ternyata maut yang turut mengambil alih pembicaraan, di sinilah manusia tersudut-seperti juga halnya Nietzsche:

1.
di terik siang kau nyalakan obor di tangan,/datang ke pasar; mengunjungi orang ramai,/lalu berteriak lantang, “tuhan telah mati.”/gelombang suara bergemuruh di situ//…

4.
kini sang waktu bicara padamu,/ di kedalaman tanah cacing-cacing hitam/melahap daging busukmu. Bongkahan batu/meretak kata-katamu: siapa yang mati? (“Empat Rubaiyyat Untuk Nietzsche, 1997)

***

Buku ini berisi seratus puisi pilihan, yang diakui oleh penyairnya sendiri sengaja ia pilah. Tentunya dengan segala konsekuensinya, seperti lamanya kepenyairan-sajak-sajak yang harus dibuang, ketegaan hati dalam memilah puisi, yang pasti merupakan anak kandung si penyair sendiri. Sebab ia menuliskannya sendiri, dengan berbagai teknik, kondisi yang akut, atau berbagai kenangan yang sempat luput.

Kecenderungan yang hadir dalam puisi-puisi Soni ialah, membiarkan jalan akal logika terlibat. Entah ketika ia menuliskan sebuah puisi asmara, ataupun tentang kematian. Yang jelas, beberapa puisi dalam buku ini terdapat pula bagaimana upaya Soni sendiri untuk memotret kehidupan di negeri selain tempatnya berasal. Dalam beberapa puisi itu, terungkap denyut keasingan yang menggila, seakan melumatnya habis. Sendirian, kemudian membanding-bandingkan dengan kehidupan di negerinya berasal. Sebuah perbandingan realitas, dimana ia pernah berasal, sesaat akan ditinggalkan, dan saat ia berada di daerah lain. Untuk kemudian memadukan dua buah realitas tersebut menjadi satu.

Puisi-puisi perjalanan itu, bukan sekadar memotret lanskap hitam putih terhadap sebuah kota yang dikunjunginya. Namun Soni berupaya menendang bola kenangannya keluar sampai ke negeri kelahirannya. Simak dalam puisi “Di Negeri Salju”, “Sebuah Sajak dari Sudut Dam”, “Dari Sebuah Museum Den Haag”, “Suatu Siang di Depan Novotel Den Haag Centrum”-kenangan yang dihubungkannya ialah tentang sisa penjajahan di negerinya yang kerap terbayang.

Semacam sebuah silabus yang datang beruntun, di satu pihak melemahkan, sebaliknya turut menguatkan. Perputaran semacam penggugatan, ketakjuban dengan remah-remah kota yang disinggahinya, sampai kehidupan liat yang terjadi saat malam tiba. Semua diramu oleh Soni, dengan nada yang terkesan lirih. Seperti berbisik, kepingin menggumamkan sesuatu, namun justru kata-kata tersebut berdenyar. Simak pula bagaimana Soni mengejek keseriusan para penyair dalam “Di Luar Kata dan Bahasa”:

aku bilang; ini malam
kita ke Lembang. Di sanabarangkali masih bisa kita hirup
sisa cahaya bintang. Jangan biarkan
kita terjaga dari indahnya mimpi

di luar kata dan bahasa
yang diburu para penyair.
betapa sempurna
tembang angin di daun-daun,
juga sayap kabut yang mengepak
lembut.

sayangku, berbutir pil Zarathustra
bergelas bir Baudelaire
dan berbotol cola Mythe de Sisyphe
telah aku teguk, dan hidupku
kau sangka berubah karenanya? Tidak.
dan pil KB? Itu jelas selalu aku bawa
tersimpan rapi dalam dompetku

Lalu Soni dengan gempita merayakan bacaan-bacaan berat yang ternyata membuatnya tersungkur jatuh. Katanya, hidup tak berubah dengan buku-buku tersebut. Justru, hidup kembali dalam kisar yang lain. Rujukan yang membuat saya teringat pada sebuah kalimat dalam cerpen Sutardji, bahwa hidup sesungguhnya ialah yang berada di luar buku itu sendiri. Di sinilah puisi tersebut berbunyi, kehidupan ternyata lebih indah tanpa mesti berpijak pada kata dan bahasa. Kita kembali dalam fungsi manusia yang primitif, merayakan cinta tanpa mesti tersekat oleh kalimat.

Tanpa mesti berkeras layaknya seorang ABG, mengucapkan “I love you” pada pacarnya. Meskipun tak selamanya kegombalan dalam realita itu sendiri jelek. Soni seakan menegaskan bahwa realitas itu lebih pahit, bahkan dari candu sekalipun. Maka tugas kita sesungguhnya cuma menikmatinya, tidak kurang atau lebih.

Di dalam puisi Soni pula pembedahan realitas itu nampak dengan kasat. Meskipun metafora yang kerap hadir memicu realitas tersebut untuk tertutup, sehingga metafora hadir sebagai kabut dalam realitas. Dan, pembacalah yang berusaha menemukan pintu. Apabila berhasil mengikutinya alur dan akar kemana sajak itu tertuju, maka secara otomatis pintu akan terbuka. Jika memang tidak, pintu akan tetap terkunci. Cambukan kata yang dipoles dalam imaji itu menguntit. Sajak-sajak Soni menghadirkan upayanya untuk membangun lagi serak-serak realitas, entah itu berupa kenangan, keraguannya terhadap suatu yang belum final, atau hikayat-hikayat hidup orang lain. Soni dengan gegap memungut remah-remah itu, menyusunnya dalam tumpukan diksi.

***

Apakah engkau begitu menikmati menyeruput secangkir teh hangat, saat senja sedang merah-merahnya di Barat? Sayang, hujan telah menghamili derita, hanya senja yang tertutup kabut, dingin yang asing bergegas di jangat kulit. Tapi barangkali sebuah kumpulan puisi bisa sedikit mengobatinya. Ah, betapa saya kepingin membacanya sambil menyeruput teh hangat, meskipun hujan tengah menyeruak bersama runcing dinginnya yang abadi.

Perlahan saya mulai membacanya lagi:

tak ada yang kekal di bum/isemua kembali padamu. Tanah merah/ bayang-bayang pohonan/serpihan bunga juga sehimpun doa//angin bertiup perlahan/sebuah ruang terasa sunyi di dada/selebihnya sisa butiran airmata/berkilat di punggung waktu!//(Sehabis Hujan, 1990)