Kado Buat Narau

M Arman AZ
http://www.suarakarya-online.com/

Bibir Cana bagai dua iris apel segar yang mengundang selera. Dia baru selesai memulasnya dengan lipgloss. Narau gemas, tak sabar ingin mencicipi. Dan kini jarak bibir mereka tak lebih dari lima senti. Nafas Narau tertahan di kerongkongan. Jakunnya berdenyut. Sesuatu dalam celananya menggeliat.

Satu rencana telah matang dalam otak Narau. Seperti biasa, dia akan lebih dulu memagut, kemudian menyapu sekujur bibir itu dengan ujung lidahnya. Pelan dan ringan saja. Lambat laun bibir Cana pasti merekah dengan sendirinya. Saat itulah lidah Narau merangsek masuk. Meliuk-liuk dalam mulut Cana. Menjangkau langit-langit kerongkongannya. Saling silat lidah. Liar. Penuh nafsu.

Tiba-tiba Narau tersentak. Saku celananya bergetar, disusul suara ringkik kuda. Narau menundukkan kepala seraya memejamkan mata. Dia menahan kesal yang hendak meledak. Dalam hati dimaki dirinya sendiri.

“Kenapa, Mas?” Cana heran melihat Narau menarik tubuh ke belakang.
“Sial. Aku lupa matiin ponsel,” sungut Narau. Cana membuang nafas sambil melepas rangkulan tangannya dari leher Narau. Perempuan seksi itu beringsut ke tepi ranjang. Narau buru-buru merogoh saku celana. Mengeluarkan benda mungil yang baru saja merusak acaranya. Sejenak kemudian dia tertegun. Satu pesan dari nomor asing. Isinya singkat saja, menanyakan kabar Narau, tapi tak jelas siapa pengirimnya.

“SMS dari siapa, Mas?” tanya Cana. Narau menggeleng pelan,
“Entah, nomornya tak kukenal.”
“Apa isinya?”
Narau bungkam. Baginya saat itu ada yang lebih asyik ketimbang membalas SMS. Ponselnya dimatikan lalu diletakkan di meja kecil samping kasur. Cana tengah menonton acara reality show. Seorang nenek menangis sesengukan dipelukan cucunya setelah diberi uang jutaan oleh presenter cantik. Cana cekikikan dan menggelinjang kegelian. Bukan karena menyaksikan adegan haru itu, tapi jemari Narau yang tiba-tiba melata di pinggangnya.

“Sampai mana kita tadi?” lirih suara Narau sambil menatap Cana. Alisnya turun naik jenaka. Senyum Cana penuh misteri. Matanya sendu menagih. Setangkup apel segar pasrah menunggu di depan mata Narau. Ruangan menciut perlahan. Televisi empat belas inci masih menyala. Kini tanpa suara. Cahayanya berpendar dalam remang kamar. Seekor cecak lari sembunyi ke balik lemari, melihat ombak bergulung-gulung di ranjang.

***

Usai mengantar Cana pulang ke tempat kosnya, Narau singgah di kedai sate. Seporsi sate kambing dan semangkok sop kikil ia pikir cukup untuk memulihkan tenaganya yang terkuras di kamar hotel kelas melati di luar kota.

Sambil menunggu pesanan diantar, Narau membaca lagi SMS itu. Siapa pengirimnya? Dari mana dia tahu nomorku? Dua pertanyaan itu menggoda Narau. Disulut penasaran, Narau akhirnya membalas. Ia tanyakan siapa si pengirim pesan dan dari mana dapat nomor Narau. Gayung bersambut. Balasan datang beberapa detik kemudian. Jempol Narau melompat-lompat cekatan.

Aha, dia mengaku bernama Meta, namun pertanyaan kedua tak dijawab. Lelaki yang usianya menjelang separuh abad itu segera melacak sosok Meta dalam arsip ingatannya. Dia menyimpulkan bahwa tak ada teman, relasi, atau kenalan bernama Meta. Narau nyengir. Zaman sekarang tak ada yang bisa dipercaya, simpulnya.

Narau sering menyimpan nomor-nomor asing yang masuk ke ponselnya. Entah berupa SMS atau missed called. Baginya iseng-iseng berhadiah saja. Mungkin satu saat nanti akan ketahuan siapa pemilik nomor itu. Beberapa sudah terbukti. Pelakunya tak jauh-jauh; rekan kerja, relasi, sahabat-sahabat masa SMA dan kuliah, atau wanita-wanita yang pernah dikencaninya. Kebanyakan belatar iseng belaka.

Kini bertambah satu nama lagi di ponsel Narau. Pengirim pesan yang mengaku bernama Meta, diberinya nama Murthado. Bukan tanpa alasan Narau menyamarkan namanya menjadi nama lelaki. Dia punya kebiasaan buruk, sering meletakkan benda kecil itu di sembarang tempat. Apalagi jika di rumah. Widya, istrinya, sering iseng mengotak-atik ponsel Narau. Jika tak ada pesan mencurigakan di kotak masuk, akan ditelitinya daftar nama dalam ponsel Narau. Kalau memergoki nama wanita, Widya pasti menginterogasi. “Siapa si A ini? Kerjanya di mana”, “Siapa si B ini? Apa hubungannya dengan Mas?”, atau “Rasanya aku baru lihat nama si C ini?”

Ditodong pertanyaan bernada curiga macam itu, mau tak mau Narau menjelaskan sambil menahan dongkol dalam hati.

***

Hampir tiap hari Meta menyambangi Narau via SMS. Jika awalnya klise; bertanya kabar, dimana posisinya saat itu, atau aktivitas yang tengah dilakukan, kini SMS-SMS Meta mulai menjangkau kehidupan pribadi Narau. Selain tahu jabatan Narau di kantor, Meta juga tahu Narau sudah menikah, punya dua putri dan satu putra, dimana rumah Narau, bahkan siapa saja sanak familinya. Pernah juga dia mengirim SMS bernada mesum. Meski blingsatan, Narau berusaha menahan diri. Dia tak mau gegabah meladeni SMS-SMS itu.

Beberapa kali dia coba menelepon Meta, untuk menanyakan apa maksudnya dengan semua SMS itu, atau bila perlu sekalian memakinya. Tapi niat Narau tak pernah kesampaian. Setiap di telepon, Meta tak mau mengangkat. Lewat SMS, Narau pernah menantangnya untuk bertemu di suatu tempat. Namun Meta enggan meladeni. Selebihnya, nomor itu pun jarang aktif.

Narau mulai khawatir. Banyak pengecut yang mencari kesenangan dengan meneror orang lain. Jika merasa kurang puas meneror Narau, bisa jadi dia akan mengalihkan sasaran. Mengincar orang-orang terdekat Narau. Menyebar fitnah yang bisa saja membuat suhu keluarganya mendidih.

Narau mencurigai beberapa orang di kantornya. Ia punya alasan untuk itu. Pertama, SMS Meta sering datang jika Narau ada kantor. Kedua, saat ini Narau menduduki jabatan strategis. Banyak mata dan telinga yang mengawasinya. Bukan mustahil ada yang mengincar posisi Narau, lalu menggunakan trik-trik busuk untuk menjungkalkannya.

Hampir tiap hari Meta mengirim SMS. Narau yang tak bisa memastikan siapa sebenarnya Meta, kenyang mengumpat dalam hati. Pengecut itu telah memberinya pekerjaan tambahan. Dia harus memastikan semua pesan Meta telah dihapus sebelum tiba di rumah. Kalau ada yang tersisa dan sempat dibaca Widya, bisa panjang urusannya.

“Sudah ketahuan siapa Meta itu?” tanya Cana sambil menyodorkan soft drink kepada Narau. Mereka baru pulang dari mall. Narau enggan menemani Cana belanja. Dia menunggu saja dalam mobil. Di khawatir bertemu saudara, teman, atau kenalan di tempat umum seperti itu. Jika ada yang memergokinya bersama wanita selain Widya, mereka pasti akan curiga atau bertanya-tanya.

“Belum. Aku sering menelepon, tapi nomornya jarang aktif” sahut Narau. Gas soft drink membuatnya bersendawa. Narau menyambung kalimatnya. “Kita harus lebih hati-hati. Aku sekarang seperti hidup dalam ketakutan. Di rumah, HP-ku jarang aktif dan selalu kusembunyikan. Bisa kacau kalau dia kirim SMS saat aku sedang bersama keluarga..”

***

Widya gundah. Dia merasa bersalah. Bukan pertemuan tak sengaja dengan Haris di toko buku empat bulan lalu yang disesalinya, tapi apa yang terjadi setelah itu. Dari saling tukar menukar nomor ponsel, lalu saling menelepon atau mengirim SMS, dari sanalah ingatan-ingatan tentang masa silam kerap mengetuk hari-hari sepi Widya. Dia ibu rumah tangga biasa yang kadang suntuk di rumah. Dia butuh suasana baru untuk mengusir jenuh. Toko buku atau mall adalah dua tempat yang paling sering dikunjunginya. Dan ketika Haris mengajaknya bertemu kembali, dia tak menampik. Tentu saja tak dia ceritakan perihal Haris pada Narau. Itu tindakan bodoh.

Haris mantan pacarnya masa kuliah dulu. Kini masing-masing mereka sudah berkeluarga. Anak Haris dua; satu lelaki dan satu perempuan. Kepada Widya, Haris mengeluhkan kesibukan istrinya di kantor. Demi karir, istrinya seakan menomorduakan keluarga. Demikan pula Widya. Dia ceritakan monotonnya hidup sebagai ibu rumah tangga. Mengurus suami dan anak, membereskan rumah, belanja dan masak, juga tentang kecurigaannya pada suami yang lebih sering di luar rumah.

Kadang Widya tak habis pikir. Bukankah tak ada yang sempurna dalam hidup ini? Dari pada mengumbar masalah pribadi kepada orang lain, kenapa mereka tak bisa lebih bijaksana; menerima kelebihan dan kekurangan pasangan masing-masing?

Widya menghela nafas. Besok genap setengah windu usia pernikahannya dengan Narau. Seperti tiga tahun sebelumnya, Narau mungkin lupa tanggal bersejarah itu. Tapi Widya tak akan merajuk lagi. Ada yang lebih penting ketimbang merayakan hari pernikahan. Menjaga keutuhan rumah tangga mereka. Dan Widya telah memutuskan, mulai besok tak akan lagi berhubungan dengan Haris dalam bentuk apapun. Biarlah cerita tentang Haris berakhir dengan sendirinya.

***

Narau sedang mengunyah roti selai sambil membaca koran ketika ponselnya meringkik. Dia kaget saat mengetahui siapa pengirim SMS pertama pagi itu. Meta! Kenapa mahluk sialan ini pagi-pagi sudah mengganggu, makinya dalam hati. Dia bangkit dari meja makan. Mengendap-endap ke ruang tamu.

“Selamat pagi, Sayang. Hari ini ulang tahun pernikahan kita. Saya bahagia mengarungi hidup bersamamu. Ternyata kamu tipe suami yg baik & setia…”

Narau tertegun. Dibacanya lagi SMS itu. Pengirimnya Meta, tapi kenapa isinya seakan-akan dari istrinya? Belum terjawab kebingungan Narau, tiba-tiba terdengar deheman. Seperti pencuri tertangkap basah, dia gugup mengetahui Widya sudah tegak di belakangnya.

“Penasaran sama Meta, ya?” tanya Widya sambil tersenyum. Disodorkannya ponsel kepada Narau. Mempersilahkan Narau untuk membaca semua SMS yang tersimpan di dalamnya. Narau yang penasaran segera membaca semua pesan itu.

“Jadi, yang selama ini mengirim SMS untukku?!” Narau tak sanggup menyudahi kalimatnya. Dia tak menyangka, orang yang selama ini menerornya lewat SMS, ternyata sangat dekat dengannya; istrinya sendiri.

Widya mengulum senyum. “Maaf ya, Mas. Selama ini aku berburuk sangka pada Mas. Aku kadang berfikir Mas mungkin jenuh denganku, lalu selingkuh dengan perempuan lain. Ternyata dugaanku salah”

“Kamu nuduh aku selingkuh?!” Narau menelan ludah. Suaranya parau.
“Bukan nuduh,” sanggah Widya cepat, “Tapi curiga boleh, kan? Aku sengaja menyamar jadi Meta untuk menguji kesetiaan Mas…”

Narau melongo mendengar penuturan Widya. Kaget, marah, malu, bingung, merasa dibohongi, menggasing dalam benaknya. Mata Narau terpaku ke arah bibir Widya yang seperti dua iris apel segar. Tapi dia kehilangan selera untuk mencicipinya.

Tanpa mempedulikan wajah pucat Narau, Widya memeluknya erat dan mesra. Matahari kian tinggi. Bayangan sepasang suami istri itu memanjang di lantai. Seperti sedang saling tikam. ***